oleh

Gadis Dicabuli Kenalan di Facebook, Video Disebar Pelaku ke Medsos

LINGGAUPOS.CO.ID – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Lubuklinggau menunda sidang pemeriksaan saksi dalam kasus yang menjerat Terdakwa Septian Arif Budiyanto (31), warga Dusun VI, Desa Jajaran 2, Kecamatan Megang Sakti, Kabupaten Mura

Hal ini dikarenakan saksi dari pihak korban tidak hadir dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau, Rabu (7/3/2021) siang.

Sidang secara tertutup diketuai Hakim PN Lubuklinggau Ferdinand, didampingi Hakim Anggota Verdian  Martin dan Ambarita dengan Panitera Pengganti (PP) Ahmad Irfan. Sedangkan terdakwa didampingi Penasehat Hukum Riki, SH.

Terdakwa disidangkan dalam kasus tindak pidana asusila diduga mencabuli pelajar SMP inisial JM (14).

JPU Ayu Soraya mengatakan karena saksi dari keluarga korban tidak menghadiri persidangan, ia meminta  Hakim PN Lubuklinggau menunda sidang minggu depan.

Majelis Hakim Ferdinand memenuhi permohonan JPU untuk menunda sidang, Rabu (14/4/2021) dengan kembali mendengar agenda saksi.

Sekedar mengingatkan, terdakwa harus menghadapi proses hukum di PN Lubuklinggau karena Rabu 23 Desember 2020 sekira pukal 13.00 WIB diduga mencabuli korban di Dusun VII Desa Madang Kecamatan Sumber Harta Kabupaten Musi Rawas.

Awalnya  korban inisial JM  berkenalan dengan terdakwa melalui Facebook (FB) awal Desember 2020.

Terdakwa yang menggunakan akun bernama Joko Kelono dan korban mulai sering berkomunikasi melalui pesan messanger di aplikasi Facebook.

Kemudian terdakwa mengirim pesan, mengajak korban untuk bertemu di Desa Madang. Korban menyetujui ajakan terdakwa, sehingga timbul kesepakatan untuk bertemu di TKP.

Sesampai di TKP, korban disuruh turun, terdakwa menarik tangan kanan korban agar  mengikuti terdakwa.

Sesampai di semak-semak pohon karet, korban melihat di atas semak-semak tersebut sudah ada selimut berwarna kecoklatan yang  terbentang di atas tanah.

Lalu terdakwa meminta korban  duduk. Kemudian terdakwa mengancam korban dengan sebilah pisau. Karena merasa ketakutan, korban hanya diam. Tidak berani melawan dan tidak berani berteriak lalu terdakwa mengikat kedua tangan korban.

Saat itu terdakwa mencabuli korban. Ditengah rasa ketakutan ini, korban hanya diam dan tidak melawan.

Lalu  karena mulai hujan, terdakwa berhenti melakukan perbuatan tersebut. Kemudian terdakwa memberi korban uang  Rp500 ribu dan menyuruh korban untuk menghapus seluruh percakapannya di pesan Facebook. Terdakwa juga meminta korban tidak memberitahukan kepada siapapun tentang perbuatan terdakwa tersebut.

Selanjutnya terdakwa mengantar korban kembali ke jalan di dekat peternakan ayam lalu terdakwa langsung pergi.

Selanjutnya terdakwa  masih mengirimi korban pesan melalui Facebook dan mengajak korban untuk bertemu lagi. Tetapi karena takut  korban tidak merespon ajakan terdakwa.

Lalu Sabtu 2 Januari 2021, terdakwa kembali mengirimi korban pesan melalui Facebook dan mengajak korban untuk bertemu lagi ditempat yang sama.

Saat itu korban hanya mengiyakan saja ajakan terdakwa tersebut melalui pesan Facebook. Namun korban tidak datang.

Karena merasa dibohongi dan tidak ditanggapi oleh korban, terdakwa mengirimi korban foto korban saat sedang dicabuli oleh terdakwa. Pada pesan di foto tersebut, terdakwa mengancam korban dengan mengatakan jika korban tidak datang, foto-foto tersebut akan terdakwa sebarkan.

Jumat 8 Januari 2021 sekira pukul 20.00 WIB, saksi Rohma Wati Hanum yang merupakan sepupu korban bertanya kepada korban tentang foto porno yang sudah tersebar di Facebook. Apakah benar itu adalah korban.

Saat itu korban merasa takut dan tidak berani menjawab. Lalu setelah dipaksa, korban menceritakan perbuatan yang telah dilakukan oleh terdakwa. Setelah mendengar kabar itu, orang tua korban melaporkan kejadian tersebut ke Polres Musi Rawas.(*)

Sumber: Harian Pagi Linggau Pos

 

Rekomendasi Berita