oleh

Gadget Sebabkan Mata Katarak

LUBUKLINGGAU – Setiap bulan, 50-60 pasien katarak konsultasi ke Poli Mata Rumah Sakit AR Bunda Lubuklinggau. Kasus katarak memang paling mendominasi keluhan pasien selama 2018 ini.

“Selain katarak, ada juga kelainan refraksi. Kalau katarak, biasanya dioperasi. Tapi kalau kelainan refraksi diatasi dengan menggunakan kacamata,” tutur Dokter Spesialis Mata RS AR Bunda Lubuklinggau, dr Hatta, Sp.M kepada Linggau Pos, Kamis (20/12).

Dr Hatta menduga, banyaknya penderita katarak dan kelainan refraksi ini ada hubungannya dengan maraknya penggunaan gadget saat ini.

Menurutnya, intensitas dan lamanya mata menatap layar ponsel akan berpengaruh terhadap kesehatan mata. Layar ponsel dapat menyebabkan mata terasa kering, panas, berair, bahkan katarak.

Sebab, ponsel bekerja menggunakan gelombang elektromagnetik yang menimbulkan radiasi di sekitar kepala terutama mata. Efek panas dari gelombang tersebut dapat menimbulkan akibat buruk pada mata, terlebih untuk penggunaan yang berlebihan.

Oleh karena itu, dr Hatta menyarankan setelah menatap ponsel selama 20 menit, usahakan untuk mengambil rehat atau jeda dengan tidak menggunakan ponsel sehingga mata dapat beristirahat sejenak.

Ia kembali menjelaskan, selama ini sebagian besar pasien menggunakan BPJS Kesehatan.

“Ada juga yang memakai Jamsoskes dan umum. Kalau pasien umum, biaya operasi mata katarak mencapai Rp 3 juta,” imbuhnya.

Sementara di RS Dr Sobirin, Kabid Rekam Medis dan Promkes Yenni Fetriani mengatakan jumlah pasien penderita katarak di RSUD Dr Sobirin ada 362 orang (baca tabel).

“Kunjungannya sampai 1.171 kali. Mayoritas pasien katarak ini perempuan,” terang dia.

***Katarak Bisa Menyerang Bayi

Dr Hatta menambahkan, selama ini mungkin banyak orang mengira bahwa penyakit katarak hanya terjadi pada orang yang sudah berumur. Namun, ternyata bayi yang baru lahirpun bisa menderita katarak.

Ia menjelaskan, lensa mata bayi yang berwarna hitam ditutupi dengan noda berwarna keabu-abuan dan ini dinamakan sebagai katarak kongenital. Pada beberapa kasus mungkin tidak terlalu berdampak pada penglihatan bayi, tetapi pada kasus yang parah dapat menyebabkan kebutaan pada bayi.

Katarak yang biasanya terjadi pada orang tua biasanya berhubungan dengan proses penuaan. Sedangkan, katarak kongenital yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena keturunan, infeksi, masalah metabolik, diabetes, trauma, inflamasi, atau reaksi obat.

Katarak kongenital ini dapat terjadi semenjak kehamilan, yaitu di saat ibu hamil mempunyai penyakit infeksi, seperti campak atau rubella (yang merupakan penyebab paling umum), rubeola, cacar air, cytomegalovirus, herpes simplex, herpes zoster, poliomyelitis, influenza, virus Epstein-Barr, sifilis, dan toksoplasmosis.

Pada katarak kongenital yang disebabkan oleh keturunan, kelainan terjadi saat pembentukan protein penting untuk mempertahankan transparansi dari lensa mata alami, sehingga akhirnya mengakibatkan adanya noda keruh pada lensa mata.

Bagaimana cara mengobati penyakit ini?

“Jika dibiarkan, katarak kongenital dapat menghambat penglihatan anak dan bahkan juga bisa menyebabkan kebutaan pada anak. Untuk itu, diperlukan operasi katarak sesegera mungkin untuk menghilangkan lensa alami anak,” jelas dokter yang juga buka Praktik Klinik Al-Hafidz Kelurahan Taba Jemekeh ini.

Operasi katarak pada bayi ini harus dilakukan sedini mungkin untuk menjamin penglihatan bayi cukup bisa untuk berkembang dengan normal. Operasi katarak kongenital adalah antara usia 6 minggu sampai 3 bulan.

Setelah operasi pengangkatan lensa mata anak yang terkena katarak kongenital, lensa mata anak kemudian bisa digantikan dengan lensa buatan, atau anak juga bisa memakai lensa kontak atau kacamata setelah operasi. (lik/adi)

Rekomendasi Berita