oleh

Foto Bugil Nasabah Jadi Konten Persekusi Ilegal

JAKARTA – Indra Sucipto(31), Panji Joliandri (26), Roni Sanjaya (27), dan Wahyu Wijaya (22) harus merasakan dinginnya jeruji besi. Keempat pria yang berstatus debt collector ini diciduk Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri setelah mendapat laporan tindakan pengancaman dan asusila kepada nasabahnya.

Mereka merupakan karyawan dari PT VCard Technology Indonesia. Perusahaan yang bergerak dalam usaha peminjaman uang online Peer To Peer Lending denganaplikasi bernamaVloan. Kawanan ini terkenal sadis dalam menagih korbannya l.

Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Pol Rickynaldo Chairul menyebutkan, kepada para nasabahnya, para debt collector juga mengancam akan menyebarkan pesan ke seluruh keluarga dan orang terdekat nasabah. Pesan itu seakan-akan dirinya melakukan pencurian atau penggelapan uang perusahaan.

“Lantas bagaimana bisa diketahui nomor-nomor orang terdekat korban, karena saat nasabah mendownload aplikasi Vloan itu, sang nasabah mempersilahkan aplikasi mengetahui seluruh data di HP agar bisa diakses oleh pihak perusahaan,” ujar Rickynaldo dalam konferensi pers di kantor Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri (Eks Gedung PU), Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (8/1/2019).

Ia menambahkan, penagihan dengan cara-cara kasar itu tidak dilakukan sekali, melainkan bertubi-tubi melakukan teror. Dari penyelidikan Polri, cara yang dipakai tersangka agar para nasabah merasa cemas dan khawatir. “Dengan cara itu, para nasabah yang menunggak akan langsung membayar tagihan pinjaman,” jelasnya.

Atas perbuatannya, para penagih online ini dijerat Pasal 40, 29 jo Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Kemudian pasal 45 ayat (1) dan (3) Jo Pasal 27 ayat (1) dan (3), Tentang Penghinaan dan Pencemaran Nama Baik.

Tidak hanya itu, sambung Rickynaldo, mereka juga dijerat dengan pasal 45B Jo Pasal 29 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Yang terakhir adalah pasal 369 KUHP dan atau Pasal 3, 4, 5 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

“Atas perbuatan para tersangka banyak diantara korban yang diberhentikan dari pekerjaannya, para nasabah juga menjadi korban pelecehan seksual dari tersangka yang mengirimkan berbagai konten serta perkataan pornografi dalam group Whatsapp yang mereka buat,” tutupnya.

Sebelumnya, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) tengah mengatur regulasi penutupan akses perusahaan pinjaman online yang terbukti menerapkan pola persekusi digital kepada para nasabahnya.

“Kalau bicara tindakan persekusi digital dan penyalahgunaan data pribadi dari pelanggan, itu jelas yangdilakukannya melanggar aturan. Jelas itu ada di Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) serta aturan menteri soal data pribadi,” tegas Menkominfo Rudiantara, beberapa waktu lalu. (mhf/fin/tgr)

Rekomendasi Berita