oleh

Fokus ke Jemaah Agar Raih Kemabruran

Kontributor Haji Muratara untuk Linggau Pos

Syukur alhamdulillah, 1440 Hijriah ini H Abdullah kembali berkesempatan ke Baitullah. Ia akan mendampingi ratusan Jemaah Calon Haji (JCH) sebagai pembimbing haji. Apa misi utamanya kali ini.

Laporan Sulis-Qori Musdhalifah, Muratara

LINGGAU POS ONLINE – TAHUN ini keberangkatan haji yang kedua kali bagi H Abdullah. Penyuluh Agama Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) ini pertama berhaji tahun 2016. Kala itu, ia bersama istri Hj Juairiyah.

“Saya daftar hajinya tahun 2010. Enam tahun menunggu, Alhamdulillah bisa berangkat. Saya nggak bisa bilang apa-apa tentang pengalaman perdana bisa lihat Kakbah pertama kali. Saya yakin, siapapun yang menatapnya akan menangis. Yang kita tatap itu bangunan yang pondasinya dibuat Malaikat, dan ada Hajar Aswad yang merupakan batu dari surga. Selain mohon ampun, di sana kala itu, saya berdoa bisa kembali ke Baitullah, bersama keluarga,” tutur Abdullah, Jumat (5/7).

Pada musim haji 1440 Hijriah, ayah lima anak ini akan jadi Pembimbing Haji Kloter 15 Banyuasin, Muratara, KBIH Muhajirin Banyuasin dan JCH mandiri 2 orang.

Keberangkatan JCH asal Kabupaten Muratara, akan dilaksanakan Jumat (19/7) malam. Setelah istirahat di Asrama Haji Palembang, Minggu 21 Juli 2019 pukul 10.00 WIB, JCH akan take off menuju Bandara Jeddah.

Abdullah yang juga pernah bertugas sebagai penyuluh Kecamatan Rawas Ilir ini sangat bersyukur bisa diberikan kesempatan oleh Allah SWT kembali melaksanakan ibadah haji.

“Inginnya memang ingin berangkat bersama keluarga. Namun, ternyata kehendak Allah SWT berbeda. Saya harus membimbing JCH. Dan ini Alhamdulillah. Kalau ditanya persiapannya, jelas beda. Kalau haji pertama fokusnya ke kita sendiri. Tapi haji kali ini, fokus bagaimana membimbing para JCH jadi haji yang mabrur,” tuturnya.

Oleh karena itu, Abdullah mengingatkan JCH agar selalu menjaga kesehatan, memastikan paham rangkaian rukun haji, tata cara mengenakan pakaian ihram dan doa di setiap rangkaian rukun haji.

Agar bisa jadi haji yang mabrur, ia berpesan pada para JCH selama menunaikan ibadah haji di Mekkah untuk senantiasa menghindarkan diri dari berkata kotor.

“Kedua, janganlah berkata mesra saling rayu sekalipun dengan pasangan sendiri (suami/istri). Kalau sampai niatnya merayu sudah merusak kemabruran. Lalu menahan diri untuk tidak melakukan kefasikan dan kemaksiatan. Seperti berbohong dan bertengkar,” pesannya.

Menjadi haji yang mabrur memang tak mudah. Sebab, kata Abdullah, mabrur artinya kondisi hati yang membawa pada kebaikan.

“Maka selepas menunaikan ibadah haji, yang tadinya sebelum haji salatnya bolong-bolong jadi lima waktu jemaah di masjid. Yang tadinya kurang sedekah, jadi rutin sedekah. Intinya selepas haji, kita harus membawa kebaikan-kebaikan. Baik di lingkungan keluarga, rumah tangga maupun kantor tempat bekerja,” imbuhnya.

Soal keluarga yang di tanah air, ia berpesan tak perlu khawatir.

“Ya kalau ada keluarga yang berangkat haji, nggak harus ditangisi. Ikhlaskan. Dan yakin saja. Jangan khawatir. Di Arab Saudi fasilitas untuk jemaah haji terus diperbanyak dan ditingkatkan. Tapi kalau soal ajal, kita memang nggak bisa bilang apa-apa. Apalagi tentang keamanan jemaah, Pemerintah Arab Saudi sangat mengutamakan hal ini. Hanya saja, kalau kondisi kurang begitu sehat, ya thawafnya bisa ke pinggir sedikit, ke lantai 2 atau ke lantai 3,” imbuhnya.

Sebagai Kontributor Haji Harian Pagi Linggau Pos, Abdullah akan selalu siap memberikan informasi terbaru kepada Linggau Pos dan keluarga JCH yang menunaikan haji. Bahkan informasi yang disampaikan Abdullah akan diterbitkan di Linggau Pos setiap hari. (*)

Rekomendasi Berita