oleh

Film Bumi Manusia Tembus 1 Juta Penonton, Gundala Urutan Kedua

LINGGAU POS ONLINE – Dua pekan diputar di seluruh bioskop di Indonesia, Film Bumi Manusia (BM) telah tembus lebih dari satu juga penonton. Namun angka ini masih belum ideal dibandingkan dengan film-film Indonesia lainnya.

Pemerhati Film, Teguh Imam mengatakan, sejak tahun 2016 banyak film Indonesia yang semakin mudah mendapatkan satu juta penonton. Apalagi ditambah dengan banyaknya gedung bioskop yang ikut andil dalam mendongkrak jumlah penonton.

“Artinya penonton semakin suka film Indonesia. Tapi, penambahan jumlah layar bioskop ikut andil dalam meningkatkan jumlah penonton,” ujar dia kepada Fajar Indonesia Network (FIN), Minggu (1/9/2019).

Karenanya, menurut dia, tidak mengherankan bila sebuah film sangat mudah menyedot jumlah satu juga penonton dalam waktu kurang dari sebulan. Angka satu juga dalam dua pekan lebih, bukan jumlah yang ideal.

Bahwa film BM tembus 1 juta, itu bukan pencapaian ideal. Jumlah itu belum mencapai target yang diharapkan, minimal dua juta pada pekan pertama. Faktor Iqbaal Ramadan sebagai Minke ikut menentukan, selain kekuatan pamor BM sebagai novel. Tapi secara keseluruhan, dilihat dari pencapaian jumlah penonton BM hari ini, jauh di bawah pencapaian,” papar Imam.

Mengutip dari situs informasi film Indonesia, www.filmindonesia.or.id, sejak diputar pada (15/8), film BM hingga Minggu (1/9/2019) malam ditonton 1.113.810 orang. Di urutan kedua, Film Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot 174.013 penonton, kemudian di bawahnya ada FIlm Makmum 688.933 penonton.

Sementara itu, sang sutradara film BM, Hanung Bramantyo mengaku lega atas capaian yang diperolehnya. Sebab selama syuting Film BM banyak tantangan yang dihadapinya.

Salah satunya, bagaimana memuaskan pembaca novel Bumi Manusia yang lintas generasi. Ini tidak mudah untuk meyakinkan penonton di layar kaca, menjadi nyata.

Sutradara terkenal yang melahirkan film-film laris manis itu mencontohkan sepertinovelAyat-ayat Cinta. Ditulis pada 2004 lalu tayang di bioskop awal 2008. Sama-sama tahun 2000-an masih relevan. Pembaca novelnya belum beranak pinak. “Nah untuk kasus BM kan jelas beda,” ujar Hanung di Jakarta, Kamis (29/8/2019).

Hanung mengingat-ngingat, novel karya mendiang sastrawan Pramoedya Ananta Toer itu pertama kali diedarkan pada tahun 1975, lalu dibanderol pada 1981. Kemudian pada 1970an dan 1980an memiliki fansnya tersendiri. Selanjutnya, setelah tahun 1981 muncul penggemar angkatan baru, yakni dari mahasiswa dan ABG yang mengakses novel itu secara sembunyi-sembunyi.

“Salah satunya saya. Setelah reformasi, (Presiden) Soeharto lengser, penggemar pascareformasi hadir yakni angkatan istri saya, Zaskia. Setelah reformasi, sejumlah buku yang diberedel kayak Bumi Manusia dan buku lain keluar semua, ungkap dia.

Lanjut Hanung, setelah angkatan istrinya kemudian angkatan Iqbal Ramadhan muncul dan sesudahnya. Nah menurut Hanung, di sinilah fase terberatnya bagaimana bisa merangkul semua lintas generasi dengan dikemas secara apik. “Ssaya harus siap mendengar kritikan dari angkatan lain,” ujar ayah lima anak itu.

Film BM Bumi Manusiabercerita tentang Minke (Iqbaal Ramadhan), seorang pribumi yang bersekolah di HBS atau setara dengan SMA. Padahal pada masa itu, yang dapat masuk ke sekolah HBS adalah orang-orang keturunan Eropa.(*)

Sumber: Fajar Indonesia Network (FIN)

Rekomendasi Berita