oleh

Evakuasi Terhalang Banjir

Korban Terus Bertambah

JAKARTA – Posko pengungsian di Pandeglan, Banten masih dipadati warga. Kondisi makin diperparah dengan banjir yang menggenangi Pasar Labuhan, akibat meluapnya Sungai Cipunten Agung, sungai yang bermuara di pantai Carita.

“Namun baru kali ini banjir sebesar ini. Warga juga belum kembali ke rumah masing-masing. Apalagi sekarang tengah banjir,” terang Koordinator Posko Pengungsi Labuan Abu Salim, kemarin (26/12).

Ditambahkan, empat hari setelah tsunami akibat runtuhan Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda masih banyak warga yang memilih tinggal di posko pengungsian.

“Apalagi pada malam hari atau kabar tentang air laut pasang dan aktivitas GAK merebak,” imbuhnya.

Warga, lanjut dia memilih tidur berdesakan di posko seperti di lapangan futsal Labuan atau di masjid-masjid yang tak jauh dari terminal bus Labuan. Lokasinya memang termasuk cukup tinggi sehingga warga merasa lebih aman.

Banjir rata-rata setinggi pinggang orang dewasa. Warga Pasar Labuhan Samin mengaku bahwa banjir terjadi sejak pukul 06.00. Banjir menggenangi hampir sembilan desa.

“Karena Banjir ini banyak yang mengungsi ke kecamatan,” tuturnya.

Sebenarnya daerah tersebut memang hampir tiap tahun Banjir akibat luapan air Sungai Cipunten Agung, sungai yang bermuara di pantai Carita.

“Namun baru kali ini Banjir sebesar ini,” tuturnya.

Terpisah Kabagpensat Divhumas Polri Kombespol Yusri Yunus membenarkan adanya peristiwa banjir tersebut. Polda Banten masih berupaya untuk membantu segera mengalirkan air.

“Kami berupaya mengambil barang-barang yang menghambat aliran air,” ungkapnya.

Nah, akibat banjir itu, lanjutnya, memang terjadi pengungsian di sejumlah titik.

“Yang pasti, Polri akan membantu para pengungsian. Jadi ada dua pengungsi karena tsunami dan karena banjir,” terangnya.

Sementara itu korban Tewas akibat tsunami di Selat Sunda terus bertambah seiring masih terus dilakukannya operasi pencarian dan penyelamatan (SAR). Hingga kemarin (26/12) pukul 13.00 WIB, tercatat 430 orang meninggal dunia dan 159 lainnya hilang.

Selain itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Mencatat 1.495 luka dan jumlah pengungsi mencapai 21.991 orang. Sementara kerusakan properti meliputi 924 rumah, 73 penginapan, 60 warung, 434 perahu dan kapal, 24 kendaraan roda 4, 41 kendaraan roda 2, dan masing-masing 1 dermaga dan shelter.

Pemerintah Kabupaten Pandeglang telah menetapkan masa tanggap darurat selama 14 hari terhitung sejak Sabtu (22/12) hingga Jumat (4/1) Januari mendatang. Sementara Kabupaten Lampung Selatan menetapkan masa tanggap darurat selama tujuh hari dimulai pada Minggu (23/12) hingga Sabtu (29/12) mendatang.

Kapusdatin dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan bahwa operasi SAR yang dilakukan oleh petugas gabungan difokuskan untuk mencari korban baik di laut maupun di daratan. Sementara distribusi bantuan logistik difokuskan untuk menjangkau daerah-daerah yang belum terjangkau. Utamanya di Kecamatan Sumur di selatan Pandeglang.

Dari sekitar enam desa yang sebelumnya terisolasi di Kecamatan Sumur, Pandeglang, petugas sudah berhasil mencapai Taman Jaya dan Tunggal Jaya di Kecamatan Sumur.

“Sudah didirikan rumah sakit lapangan juga di sana,” kata Sutopo, kemarin.

Sutopo mengatakan bahwa bantuan logistik dialirkan melalui beberapa jalur. Yakni jalur darat, laut dan udara. Jalur darat masih sulit karena selain banyak ruas jalan yang rusak, banyak masyarakat yang berseliweran mencari keluarganya, atau mencari tempat yang aman.

“Bahkan ada beberapa yang datang dari luar daerah. Mereka mencari kabar akan keluarganya. Ada yang cuma penasaran pengen liat-liat tsunami,” katanya.

Ada total 11 helikopter yang dioperasikan baik untuk SAR dan dropping logistik ke area-area yang masih terisolasi. Sutopo mengatakan, bahwa operasi SAR kerap terganggu karena faktor cuaca ekstrem dan isu tsunami susulan yang membuat banyak petugas takut mendekat ke pantai.

“Bahkan di labuan sekarang terjadi banjir,” katanya.

Sementara itu, Kemenhub mengevakuasi total 1.200 orang penduduk dari Pulau Sebuku dan Sebesi. Komplek kepulauan yang terdekat dengan Krakatau. Para penduduk tersebut diangkut dengan kapal ferry ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Selanjutnya seluruh pengungsi dibawa ke Pendopo Kabupaten Lampung Selatan, tutur Direktur Jenderal Perhubungan Laut, R. Agus H. Purnomo.

Agus mengatakan, Kementerian Perhubungan akan terus berupaya memberikan dukungan dan bantuan kepada para korban tsunami di Selat Sunda. Aktivitas GAK yang terus meningkat membuat beberapa warga pulau Sebesi memilih untuk mengungsi.

Namun, menurut salah satu warga Pulau Sebesi, Nurahman, masih banyak juga yang memilih tetap tinggal di pulau dan menjaga rumahnya.

“Ada sekitar 1.500 an orang yang masih di Sebesi. Mereka tinggal karena rumah mereka di sini sejak dahulu,” katanya saat dihubungi lewat telepon.

Sesuai rekomendasi dari BMKG, BPBD Pandeglang dan Banten mengimbau pada masyarakat untuk tidak beraktivitas di area 500 meter dari pantai untuk mengantisipasi adanya tsunami susulan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Geologi terus memantau aktivitas tremor Gunung Anak Krakatau (GAK). Selain itu juga melakukan pemantauan kondisi cuaca ekstrem dan gelombang tinggi. Sebab kondisi tersebut dapat memicu longsor tebing kawah ke laut dan memicu terjadinya tsunami.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebutkan BMKG meminta masyarakat di pesisir pantai selat Banten untuk tetap waspada.

“Menghindari lokasi pesisir atau pantau dalam radius 500 meteri hingga 1 km,” katanya.

BMKG belum menginformasikan peringatan ini bakal diberlakukan sampai kapan. Sebab kondisi GAK terus mengalami erupsi.

Secara umum kondisi cuaca di sekitar GAK diperkirakan hujan ringan hingga sedang pada malam sampai dini hari. Sementara itu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, juga berpotensi mengguyur sekitaran GAK. Sementara itu angin bertiup ke arah barat daya dan barat dengan kecepatan maksimum 20-25 km/jam.

BMKG juga memantau tinggi gelombang laut di sekitaran GAK. BMKG memperkirakan tinggi gelombang berkisar 0,75 km sampai 1,5 km pada 25 Desember. Kemudian pada 26 Desember tinggi gelombang bisa mencapai 2 meter pada siang hari dan 1,25 meter pada malam hari.

Dwikorita menjelaskan masyarakat supaya terus memantau perkembangan informasi melalui saluran media sosial resmi BMKG. Selain itu juga memantau kondisi GAK melalui aplikasi Magma Indonesia milik Badan Geologi Kementerian ESDM.

“Masyarakat agar tidak mudah terpancing isu-isu yang menyesatkan,” jelasnya.

Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), status GAK belum berubah. Masih pada status level II (Waspada). Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Wawan Irawan mengungkapkan, gempa tremor terus menerus terjadi dengan amplitudo 9-35 mm (dominan 25 mm).
Lontaran material dan debu masih tebal dan puncak kawah tidak teramati.

“Angin kencang bertiup ke arah utara dan timur laut. Masyarakat dan wisatawan tetap tidak boleh beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah,” katanya.

Sementara itu Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Abdurrahman M. Fachir menegaskan sampai saat ini tidak ada rencana membuka akses bantuan internasional untuk penanganan tsunami selat Sunda. Ucapan simpati dan bela sungkawa dari internasional banyak, katanya di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) kemarin. Namun dia menegaskan tidak ada rencana membuka akses bantuan internasional, seperti saat penanganan bencana alam di Sulawesi Tengah (Sulteng).

Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin turut menyampaikan keprihatinan dan duka cita atas bencana tsunami di selat Sunda. Kepada keluarga korban, Din berpesan supaya bisa bersabar dan tawakal.

Menurutnya bencana di Pandeglang itu menambah daftar bencana alam sebelumnya. Yakni di Lombok dan Palu.

“Dewan Pertimbangan MUI menyerukan kepada bangsa, khususnya umat Islam, untuk semakin meningkatkan hubungan dengan Sang Pencipta,” katanya.

Upaya meningkatkan hubungan dengan Sang Pencipta itu, menurut Din, bisa dilakukan melalui berdoa dan istighfar. Supaya negeri ini dibebaskan dari malapetaka dan bahaya. Selain itu seluruh ormas Islam diimbau untuk menjalankan aksi kemanusiaan.

Sementara itu, 1.500 warga dari Pulau Sebesi, Lampung Selatan, Rabu (26/12) diungsikan ke Lapangan Tenis Indoor Kalianda. Evakuasi ini dilakukan dengan menggunakan empat kapal yang dilakukan oleh instansi gabungan.

Keempat kapal tersebut terdiri dari Kapal Motor (KM) Jimbio, Trisula, Sabuk Nusantara dan Jatra III, yang mana dalam sehari akan dilakukan dua kali evakuasi dan akan terus berlanjut sampai semua warga berhasil di evakuasi.

Kedatangan ribuan masyarakat di pelabuhan paling sibuk di Sumatera ini disambut Plt Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto, Bupati Tulangbawang Winarti, dan General Manager PT. ASDP Cabang Bakauheni Hasan Lessy.

Dari pelabuhan, masyarakat diantar ke posko Tenis Indoor Kalianda dengan menggunakan delapan bus. Terpantau rombongan pengungsi tiba di posko Tenis Indoor Kalianda sekitar pukul 13.30 WIB. Jumlah ini akan terus bertambah karena bus masih menjemput pengungsi di Pelabuhan Bakauheni. Para pengungsi langsung disambut oleh petugas dan diberi makan serta di bawa ke pos kesehatan.

Plt Bupati Lampung Selatan, Nanang Ermanto, mengaku senang dan berterima kasih karena semua pihak telah membantu proses evakuasi korban bencana tsunami. Menurut dia, musibah tsunami yang dialami masyarakat Lampung Selatan tidak pernah diharapkan.

”Musibah ini bukan hanya menjadi musibah masyarakat Lamsel saja, tetapi musibah kita semua,” ucapnya.

Tim posko Tenis Indoor Kalianda telah menyiapkan antisipasi untuk pengungsi. Jika posko Tenis Indoor Kalianda penuh, tim akan membagi pengungsi di posko GOR Mustafa Kemal Kalianda sekitar Kantor Camat Kalianda.

“Ya nanti kita atur penempatannya,” ucapnya.

Sementara Kabidhumas Polda Lampung, Kombes Sulistyaningsih menambahkan pihaknya mengevakuasi warga dua pulau tersebut setelah mendapat informasi keluhan masyarakat yang meminta di evakuasi merasa takut berada di depan GAK.

”Mengingat cuaca dari kemarin sedikit buruk sehingga baru bisa dievakuasi sekarang yang mana proses evakuasi langsung dikawal pihak Ditpolair Polda Lampung,” ujarnya di lapangan tenis indoor.

Sulis mengatakan warga yang dievakuasi tersebut terutama yang rumahnya berada pemukiman pinggir pantai.

Pihaknya juga menyiapkan 1.206 personel dari polda dan jajaran untuk penangana bencana alam tersebut.

”Ya personel kita 1206 itu kita bagi dua dengan kegiatan operasi Lilin yang tengah berlangsung saat ini,” ujarnya.

Terkait masih ada warga yang bertahan di Pulau Sibesi lantaran alasan keamanan. Sulis mengatakan pihaknya menjamin keamanan pulau Sibesi. Sebab, tim dari Ditpolair akan melakukan patroli rutin untuk melakukan pengamanan.

Sementara kemarin, para pengungsi dari Pulau Sebesi dan Sebuku, berebut pakaian dari donasi warga saat tiba di pos pengungsi Tenis Indoor, Kalianda. Tampak saat petugas akan mengeluarkan pakaian bekas para pengungsi langsung mendekat di bagian atas tenis indoor dan mengambil baju-baju yang dikeluarkan dari dalam karung.

Para pengungsi mengambil beberapa baju untuk digunakan sehar-hari lantaran tidak memiliki lagi baju yang dibawa.

“Rumah kanyut karena rumahnya geribik. Gimana mau bawa baju banyak. Cuma ini aja yang nempel di baju,” jelasnya.

Ajum (70) wanita baya ini mengungsi bersama anaknya Santana (55). Santana yang merupakan warga Desa Tejang, Pulau Sebesi ini mengaku mengungsi karena khawatir setiap hari menyaksikan GAK yang terus menerus aktif. Karenanya, dia bersama warga lain meminta dievakuasi. Apalagi, rumah Santana dan orang tuanya itu berada di pinggir pantai sekitar 50 meter dari bibir pantai.

“Setiap hari aktif sejak tsunami. Kami jadi resah dan jadi nggak tenang. Karena GAK nggak seperti biasanya,” jelas dia ditemui di pengungsian.

Namun kata dia, masih ada keluarganya yang lain yang masih bertahan di Pulau Sebesi. Karena harus menjaga ternak mereka.

“Walaupun piring satu ibaratnya ada harganya. Masih ada ternak ayam dan kambing di sana,” kata dia.

Hal yang sama diutarakan oleh Evi Silviana (23) warga Pulau Sibesi. Dia bersama suami dan anaknya syaira (sembilan bulan) serta delapan keluarganya ikut mengungsi ke lapangan tenis indoor Kalianda. Meski keluarganya mengungsi masih ada adiknya yang menjaga ternak di Pulau Sebesi.

“Selain khawatir takut hilang, kasihan juga nggak ada yang ngasih makan ternak. Banyak juga ternak yang mati,” katanya.

Terkait warga yang masih bertahan, masih ada sekitar 1.200 orang warga Pulau Sebesi yang menetap dan enggan di evakuasi ke luar pulau dengan alasan menjaga harta benda mereka.

Hal itu diutarakan oleh Pj Kades Pulau Sebesi Sugeng, menurutnya sampai dengan hari ini sekitar 1500 warganya telah di evakuasi dan dibawa ke pos pengungsian lapangan tenis indor.

“Ya, sudah dua hari ini proses evakuasi, pertama Selasa ada sekitar 400 orang di mana 200 orang dievakuasi melalui Pelabuhan Canti dan 200 lainnya melalui pelabuhan BBJ Bakauheni,” ujarnya.

Para warganya sendiri sebagian ada yang mengungsi di tenis indoor dan ada pula yang di jemput pihak keluarganya.

“Ya ada yang ngungsi di sini ada juga yang dijemput keluarganya,” ungkapnya.

Saat ditanya apakah semua warganya akan dievakuasi, Sugeng pun mengatakan dari sekitar 2.800 penduduk Pulau Sebesi dan Sebuku, ada beberapa warga yang menolak di evakuasi meskipun telah disarankan.

“Sekarang masih sisa 1.200 orang bertahan di pulau dengan alasan menjaga harta bendanya,” terangnya.

Ia pun menuturkan dampak terparah dari tsunami yang menimpa Pulau Sebesi dan Sebuku ada tiga dusun yang terkena dampak parah dan sekitar 150 rumah rusak.

”Dusun Regahan Laga dan Sebenong di Pulau Sebesi, serta Dusun Hanitu di pulau Sebuku,” ucapnya.(nca/pip/tim/fin/ful)

Rekomendasi Berita