oleh

Endus Keberadaan Pelaku Lewat Sketsa Wajah

JAKARTA – Sebanyak enam saksi telah diperiksa Polisi dalam kasus teror bom pipa palsu yang menimpa rumah Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo, Rabu (9/1). Dari keterangan para saksi, polisi mulai mencoba menggambar sketsa wajah dari para pelakunya. Selain rumah Agus Rahardjo, polisi juga menerjunkan tim menyelidiki bom molotov yang meledak di halaman Wakil KPK Laode M Syarif.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menjelaskan, enam saksi yang dimintai keterangan adalah dua orang anggota polisi yang pertama kali menemukan, mengamankan, dan ikut membantu sterilisasi bom itu. “Kita sedang melakukan pemeriksaan mendalam terhadap saksi termasuk, 4 orang saksi dari RT kemudian juga dari tukang bubur dan beberapa org lagi dari kediaman Pak Agus,” bebernya.

Dedi mengatakan, dari penuturan saksi penjual bubur dirinya mengaku, ada orang sempat menanyakan rumah RT dan rumah ketua KPK. Tim pun menggali informasi dengan membuat sketsa dari keterangan para saksi.

“Orang yang menanyakan itu lagi dicoba digambar dulu sketsa wajahnya. Nanti dari skesta wajah yang sudah berhasil digambar ahli sketsa akan dimasukan ke laporan forensik. Inafis kita memiliki peralatan cukup canggih menggambar sketsa itu dalam bentuk digital,” ujar Dedi.

Lebih jauh, diakui Dedi, Inafis pun coba akan mendalami sidik jari semua barang bukti yang ada dilokasi baik, yang ditemukan di paralon maupun di tas. “Kita juga akan mendalami siapa-siapa saja yang pernah memegang barang itu,” ucap Dedi.

Sementara untuk yang di lokasi rumah wakil ketua KPK Laode M. Syarif. Dedi mengatakan, tim sampai hari ini masih melakukan analisa CDR dari kamera CCTV. Sedangkan, untuk pemeriksaan 12 orang saksi sudah selesai dilakukan tapi, masihh perlu pendalaman.

“Penyelidikan lain dilokasi ini juga, tim sedang menganalisa sidik jari yang ditemukan di botol. Selain itu, sidik jari dari sisa-sisa botol juga akan dianalisa kembali apakah ada sidik jari yang bisa muncul dari pelakunya kemudian, dari sidik jari tersebut akan diiden siapa siapa aja yg pernah memegang botol itu,” terang Dedi.

“Jadi, kalau dari ciri-ciri sidik jarinya orang tersebut memiliki ktp elektronik bisa langsung terkoneksi. Dengan demikian, orang itu pasti langsung berhasil diidentifikasi oleh inafis,” tambahnya.

Terlepas dari proses penyelidikan ini juga, Dedi menambahkan, tim sedang mendalami juga petunjuk atau informasi orang-orang yang dicurigai dalam satu minggu ini melakukan komunikasi telepon disekitar lokasi bekerjasama dengan kominfo. Provider kartu telepon orang tersebut masih dilacak.

“Siapa yang berkomunikasi dalam 1 minggu di areal itu secara sangat intens akan kita analisa juga. Misalnya, ini hp tidak biasa komunikasi di areal ini, tapi dalam satu minggu intens, ada apa ini,” ungkapnya.

“Dari situ, nanti kita jaring laba-labanya satu persatu lagi. Analisa satu-persatu lagi. Kalau sudah betul-betul kuat dan lengkap baru penyidik tim berani melakukan suatu upaya paksa biar kita tidak ragu-ragu di lapangan,” jelasnya.

Terpisah Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan, sejauh ini dua pimpinan KPK yang mendapatkan teror bom di rumahnya masing-masing sampai kini, belum secara resmi dimintai keterangan oleh penyidik.

“Kami memahami kesibukan dari mereka maka itu, penyidik belum meminta keterangan secara resmi kepada mereka. Hanya saja, pak Laode secara lisan sudah. Sedangkan, pak Agus karena, beliau masih sangat sibuk belum dimintai keterangan, tapi beliau nanti akan berikan keterangan kepada penyidik,” tandasnya. (mhf/fin/tgr)

Rekomendasi Berita