oleh

Empat Pesawat Tempur Terbang di Natuna, Lima Kapal Perang Merapat

LINGGAUPOS.CO.ID – Sejalan dengan langkah diplomasi yang dilakukan, Pemerintah Indonesia juga terus mendesak Cina untuk mematuhi Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE). Sejalan dengan itu Presiden Joko Widodo pun turun tangan dengan melihat dari dekat kondisi Natuna, Kepulauan Riau, Rabu (8/1/2020).

Presiden memberikan sinyal keras kepada Cina untuk tidak main-main terhadap kedaulatan RI. Penegasan ini sejalan dengan hadirnya lima kapal perang TNI AL berikut personel bersenjata sebagai upaya menegakkan hukum terhadap para pelanggar wilayah teritorial Indonesia. Tidak itu saja, TNI pun pengerahan empat unit pesawat tempur F-16 Fighting Falcon.

”Mengapa di sini hadir Bakamla, mengapa di sini ada Angkatan Laut. Jelas, untuk memastikan penegakan hukum atas hak berdaulat kita, hak berdaulat negara kita Indonesia atas kekayaan sumber daya alam laut kita,” terang Jokowi usai meninjau KRI Usman Harun-359, di Pelabuhan Selat Lampa, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

Sementara itu, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto memerintahkan TNI AL menghalau kapal-kapal asing yang mencuri ikan di perairan Zona Eksklusif Ekonomi (ZEE) Indonesia. ”Saya perintahkan TNI AL untuk menghalau kapal-kapal asing yang mengambil ikan di wilayah ZEE,” kata Hadi.

Ditegaskannya, kedaulatan adalah harga mati dan itu adalah yang nomor satu. Dan hingga saat ini tidak ada kapal asing yang masuk ke wilayah kedaulatan RI. ”Karena kita memiliki wilayah terotori 12 mil dari garis pantai,” katanya.

Hadi juga menyebutkan kapal-kapal asing boleh masuk ke wilayah ZEE. Di zona itu kapal asing melaksanakan lalu lintas sesuai dengan aturan internasional. ”Namun, yang tidak boleh mereka masuk ke ZEE dengan mengambil ikan di wilayah itu,” terang Hadi.

Terpisah, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD menyebutkan pengerahan empat unit pesawat tempur F-16 Fighting Falcon (elang tempur) ke perairan Natuna, Kepulauan Riau, sebagai bentuk perkuatan. ”Ya, bagian perkuatan, bagian dari menunjukkan bahwa kita ada di sana. Kita tidak lalai,” jelasnya.

Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Yuyu Sutisna menyebutkan, pesawat tempur yang dikerahkan merupakan tipe terbaru Block 72 Viper. F-16 yang merupakan pesawat tempur favorit di dunia. ”Jumlahnya cukup banyak, yaitu 33 unit F-16 Fighting Falcon dari berbagai tipe,” terangnya.

Dalam website Lockheed Martin disebutkan Indonesia memiliki tipe pesawat generasi paling baru dan paling mutakhir. Mereka juga menyebut seri F-16V Blok 72 itu adalah yang paling canggih di dunia saat ini.

Beberapa kelebihan yang dimiliki seri ini adalah radar Active Electronically Scanned Array (AESA). Software yang digunakan hampir sama dengan F-22 dan F-35. Radar ini memungkinkan pilot mendeteksi secara detil posisi lawannya dalam segala kondisi. F-16 Viper juga memiliki kemampuan manuver yang lebih baik serta sistem persenjataan yang lebih canggih dari seri-seri sebelumnya.

Lockheed Martin memang tengah gencar menawarkan F-16 Viper ke sejumlah negara. Pengalaman selama 36 tahun sebagai pesawat tempur terlaris di dunia jadi modal mereka. Saat ini tercatat Bahrain menjadi pemesan pertama F-16 Viper. Disusul Slovakia yang memesan 14 unit F-16V menggantikan MiG-29 mereka. Taiwan pun tak ketinggalan mengupgrade F-16 mereka menjadi setara blok 72.

Sementara itu, TNI AL telah menempatkan lima kapal perang untuk mengamankan perairan di Kepulauan Natuna terkait kapal asing yang dikawal Penjaga Pantai Cina, salah satunya KRI Usman Harun-359 yang ditinjau Jokowi dan rombongan.

KRI Usman Harun-359 merupakan kapal perang TNI AL dengan sistem manajemen tempur modern yang mumpuni di kelasnya. Di antara subsistem kesenjataan dan pengendalian yang dia miliki adalah sistem penjejak sasaran yang mampu mengarahkan meriam 76 milimeter Oto Melara Super Rapid Gun dan laras senapan mesin kaliber besar jarak pendek 30 milimeter di lambung kiri-kanan kapal perang buatan Damen-BAE Systems, Inggris itu.

Subsistem yang terakhir ini difungsikan juga sebagai sistem pertahanan pasif kapal dari serangan permukaan dan udara, yaitu sebagai Close-in Weapon System (CIWS) yang memberi tabir peluru jika serangan itu datang.

elengkapan system sensor senjata juga dilengkapi dengan EOTs (Electro Optical Tracker System) untuk pengendalian meriam kapal dan pengamatan secara visual oleh camera video yang ada. Sebagai kapal frigat, kedua kapal perang ini juga dilengkapi sensor bawah air yang memiliki tingkat akurasi yang baik dalam mendeteksi dan mengklasifikasi kontak bawah air yaitu sonar, yaitu FMS 21/3 Hull Mounted Sonar buatan Thales, Prancis. (*)

Rekomendasi Berita