oleh

Elektabilitas Tegantung Metode Survei

JAKARTA – Lembaga Para Syndicate memaparkan bahwa elektabilitas pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 01 Joko Jokowi Widodo-Maruf Amin terus mengalami penurunan jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 17 April 2019. Tak hanya itu, Maruf Amin selaku tandem Jokowi yang diharapkan bisa menggaet suara untuk menaikan elektabilitas Jokowi nampaknya tak terjadi, malah terus mengalami penurunan.

Menjawab hal tersebut, Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Oesman Sapta Odang (OSO) mengatakan, setiap tim sudah merumuskan apa saja yang akan dilakukan ke depan dalam meningkatkan elektabilitas pasangan Capres-Cawapres yang diusung.

Selain itu, OSO biasa politisi ini disapa memaparkan tim juga bekerja berdasarkan intruksi yang disampaikan, termasuk dalam penggarapan isu yang tidak menyebarkan informasi bohong atau hoax. Ya itu, kan ada timnya, tim perumus, tim pelaksana, saya kan hanya mendengar dan melaksanakan apa yang diintruksikan sekarang dalam penggarapan. Yang jelas, bahwa kita tidak boleh menyebar hoax, kita harus mengontrol hoax yang tidak benar, jadi kita harus berbuat sesuatu yang baik, yang rakyat melihat bahwa itu benar, jadi tidak merekayasa, tidak berangan-angan, tapi harus fakta-fakta yang kita tampilkan, kata Oso usai menghadiri refleksi akhir tahun di Ruang Pressroom, Gedung Nusantara III, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/12).

Menurut dirinya, waktu Pilpres dan Pemilu masih menyisakan empat bulan, dan tim Jokowi-Maruf Amin harus bekerja keras dan, TKN Jokowi-Maruf Amin juga sudah menandai wilayah-wilayah mana yang menjadi prioritas nanti.

Lanjut Ketua DPD-RI itu, setiap tim, baik nomor urut 01 dan 02 sudah memiliki strategi tersendiri dalam berkampanye untuk meraih simpati.Memang terus terang ya, ini kan waktu masih tiga-empat bulan, tentu ada daerah-daerah yang perlu dikerjakan secara konkrit, atau ada daerah-daerah yang sudah selesai secara konkrit, jadi itu sah-sah saja. Kalau tim itu bekerja secara berurutan wilayah yang mereka pilih, yang mana yang diprioritaskan. Dan menurut saya, begitu yakin bahwa prioritas-prioritas yang dilakukan oleh timnya pihak nomor 01 dan 02, tentu ada ukuran-ukuran mereka, ucapnya.

Tempat berbeda, Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Mauladi menuturkan, hasil survey yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga survey jelang Pilpres dan Pemilu ini perlu ditelaah kembali, baik penggunaan metode, akurasi, validasi hingga objektif lembaga tersebut.

Pasalnya, menurut dirinya banyak lembaga-lembaga survey yang memiliki utang kepada para pasangan calon, hingga perlu diketahui lembaga survey tersebut.

Soal survei itu tegantung kepada metode survei dan tergantung pada akurasi dan validasi lembaga survei. Apa kah survei itu betul-betul obyektif, ataukah survei itu mejadi utang. Utang itu dia sebagai konsultan dari pasangan calon, kita harus lihat nama lembaga surveinya seperti apa, karena kita lihat beberapa lembaga survei juga menjadi nilai elektabilitas masing-masing juga beragam, ujar Viva Yoga.

Jadi soal suevei ukuran-ukurannya seperti itu, tapi ini kan masih dinamis. Bulan desember masih kurang 4 bulan lagi, masih akan ada perubahan-perubahanlah. Artainya kita lihat tren Pak Prabowo juga semakin meningkat kan, dan itu adalah bahkan ya lampu yang bagus lah, tambahnya.

Namun, hasil-hasil survey yang dilakukan oleh para lembaga survey akan terjawab dengan keinginan dan pilihan rakyat pada hari pencoblosan nanti, dan itu menjadi jawaban dari kredibilitas lembaga survey. Kesempatan tergantung kepada rakyat, intinya bahwa survei itu sebagai cermin pada hari ini, untuk melihat bagaimana potret pilihan masyarakat, tapi itu juga sangat oleh nilai aktualisasi, validasi dan kredibilitas dari lembaga survei. Apakah dia betul-betul obyektif atau lembaga survei itu menjadi tukang politik, jelasnya. (rba/fin)

Rekomendasi Berita