oleh

Ekstrakulikuler Marching Band Banyak Peminat

Surya Lesmana, Pembina Ekstrakulikuler Marching Band Ar Risalah
“Dalam ekstrakulikuler ini, anak dilatih memainkan musik dengan baik dan benar. Mereka juga diberikan pengetahuan tentang teori-teori marching band sehingga wawasan mereka tambah luas..”

LINGGAU POS ONLINE, AIR KUTI – Lebih kurang 60 santri SMP dan SMA Ar Risalah aktif pada ekstrakulikuler Marching Band El-Dakwah. Selain itu, ada 80 murid SDIQ Ar Risalah bergabung dalam ekstrakulikuler Drum Band Ar Risalah.

“Kedua ekstrakulikuler ini tergolong favorit. Dan sejak saya gabung di Ar Risalah tahun 2013, peminat ekstrakulikuler marching band selalu banyak,” terang Pembina Marching Band Pesantren Modern Ar Risalah, Surya Lesmana, Senin (24/9).

Untuk menghandel latihan dalam ekstrakulikuler, ia dibantu dua rekannya, yakni Syukron Kaoy sebagai pelatih percusion, dan Maulana Zaki Zamadi sebagai pelatih calour guard.

Alumni Institut Musik Dr Ponobano Jakarta itu meyakini, setiap santri yang mendapat dukungan orang tuanya untuk gabung di ekstrakulikuler marching band bukan tanpa alasan.

“Nilai plus pertama yang didapat anak pasti music skill atau keterampilan bermusik. Banyak anak-anak yang gabung dari nol nggak tahu musik sama sekali. Setelah gabung di marching band bisa memainkan beberapa alat musik. Jadi dalam ekstrakulikuler ini, anak dilatih memainkan musik dengan baik dan benar. Mereka juga diberikan pengetahuan tentang teori-teori marching band sehingga wawasan mereka tambah luas,” terang Surya.
Dengan aktif di marching band, anak-anak yang awalnya tak percaya diri jadi lebih Self Confidence.

Menurutnya, kepercayaan diri sangat penting bagi seseorang dalam kehidupannya karena bermanfaat untuk menghadapi segala rintangan dan hambatan. Untuk itu anggota marching band akan dibangkitkan rasa percaya dri mereka agar tumbuh keberanian untuk tampil di depan orang banyak tanpa rasa grogi dan canggung.

Sementara itu, Kepala SMPN Megang Sakti Mutia Farida yang juga konsern mendukung siswa-siswinya berlatih marching band menjelaskan, ekstrakulikuler satu ini jadi wadah yang baik untuk belajar team work.

“Marching band tidak mungkin berdiri sendiri, melainkan mereka dibentuk secara bersama-sama oleh sekelompok orang. Sekelompok orang tersebut juga tidak mungkin memainkan alat musik mereka asal-asalan. Mereka memainkannya saling keterkaitan dengan yang lain agar menjadi sebuah irama yang harmonis. Untuk itu mereka harus bekerja sama satu dengan yang lain, memecahkan masalah secara bersama-sama, dan saling membantu setiap ada anggota yang kesulitan,” jelas Mutia.

Marching band, tambah Mutia, juga melatih kepemimpinan (leadership). Sebab, jelas dia, seorang pemimpin tidak bisa langsung menjadi pemimpin begitu saja. Melainkan perlu proses belajar juga. Kegiatan marching band ini mengajarkan kita suatu proses belajar cara memimpin dan dipimpin. Agar kelak ketika masa yang akan datang mereka sudah siap dengan jiwa kepemimpinannya yang mampu memimpin bawahan dengan adil dan obyektif. (lik)

Rekomendasi Berita