oleh

Eksotika Sungai Kelingi Terancam Rusak

Marak Tambang Batu Koral

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Selain Bukit Sulap, Masjid Agung As-Salam, Air Terjun Temam, dan Kampung Warna-warni, eksotika Sungai Kelingi pun cukup potensial jadi destinasi wisata di Kota Lubuklinggau. Sedikitnya, setiap bulan 70 orang berwisata menyisiri 18 jeram Sungai Kelingi bersama Kelingi Rafting. Namun, entah 10 tahun yang akan datang. Apakah Sungai Kelingi masih seindah saat ini?

“Disamping limbah rumah tangga, Sungai Kelingi juga tercemari dan terancam rusak oleh aktivitas penambangan batu koral. Di spot arung jeram sepanjang 40 Kilometer (Km) dari Kelurahan Watas sampai Kelurahan Batu Urip, ada sekitar 200 titik jadi tempat penambangan tradisional warga,” tutur Koordinator Ayo Kelingi Rafting, Dono saat dibincangi Linggau Pos, Selasa (1/11).

Sebagian besar penambangan dilakukan dekat dengan pemukiman warga, sebab disesuaikan dengan kebutuhan. Namun, ada juga penambangan dilakukan di dekat pemakaman umum. Sehingga cukup dikhawatirkan akan mengganggu fasilitas umum.

“Memang sepertinya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) belum melakukan penelitian, tapi ini kewajiban mereka untuk menjaga lingkungan hidup mengimbau dan mempertegas. Kan ada aturan galian C, kalau Peraturan Daerah (Perda) ditegakkan. Saya rasa ini bisa dicegah, karena mengingatkan masyarakat ini sudah kewajiban pemerintah,” tutur Dono.

Kekhawatiran kami, lanjutnya, debit air Sungai Kelingi kian rendah.

“Debit air Sungai Kelingi dibanding beberapa tahun lalu jelas perubahan signifikan. Turun sampai 60 % hingga 70 % akibat terjadi pelebaran sungai dan pendangkalan. Akhirnya volume sungai mengecil terjadi erosi bantaran sungai,” jelasnya.

Ketika terus menerus penambangan batu koral dilakukan, tanpa ada larangan resmi, Dono memastikan itu akan berdampak negatif.

“Ya kalau sekarang belum signifikan dampaknya. Kalau kami sebagai pecinta alam, bicaranya 5-10 tahun yang akan datang, karena sungai ini bermanfaat untuk hajat hidup orang banyak. Sungai Kelingi ini panjangnya 70 kilometer dan lebarnya berkisar 50-70 meter dengan ketinggian sekitar 40 meter dari permukaan laut. Selain di Lubuklinggau, sungai ini juga mengalir di Kabupaten Musi Rawas. Tepatnya, di Muara Kelingi. Bermuara ke Sungai Beliti yang kemudian mengalir ke Sungai Musi. Warga sekitar menggantungkan hidup dari sungai ini. Bukan hanya untuk mandi, tapi ada juga untuk mengairi sungai dan pengelolaan ternak ikan kolam air deras,” tuturnya.

Jika erosi tak terelakkan lagi, untuk generasi 20 tahun yang akan datang, tegas Dono, bisa terjadi krisis air. Karena dari hulu Bukit Barisan yaitu di Rejang Lebong, Bengkulu volume air sudah kecil.

“Kalau pendangkalan sungai terus terjadi akibat penambangan ini, bayangkan debit air kian sedikit. Kami sendiri pernah melakukan pendekatan persuasif. Saya bilang yuk cari makan sama-sama medianya sungai. Kami ajak mereka berjualan, sementara kami hadirkan tamu untuk rafting di Sungai Kelingi berjualan bae. Ada juga yang kami perbantukan untuk ikut membersihkan sungai. Membersihkan pohon yang menghalangi. Kalau perlu mereka bisa jadi pemandu. Jadi kami ajak mereka untuk menjaga kestabilan dan kecantikan ekosistem Sungai Kelingi. Kami yakin, kalau Sungai Kelingi terjaga kecantikannya, pengunjung yang rafting makin banyak, ini kan bisa jadi mata pencaharian para penambang ini,” imbuhnya.

Dari pantauan Linggau Pos di lokasi penambangan, masyarakat yang menambang mencongkel batu-batu koral dengan linggis di tepian sungai. Ada juga sebagian penambang menjangkau batu-batu di tengah sungai.

Para penambang ini menggunakan ban karet menyusuri Sungai Kelingi. Batu-batu koral yang diambil dari dasar sungai diletakkan di tengah ban.

Batu koral yang diambil dari ukuran kecil hingga besar, kalau batu koral yang kecil mengambilnya di tengah-tengah dasar sungai, tapi kalau batu yang besar mengambilnya di pinggir-pinggir sungai atau menggali.

Batu koral ini dijual kepada para pembeli yang mendatangi lokasi penambangan. Ukuran kecil atau batu koral dihargai Rp 120 ribu per kubik, ukuran sedang Rp 210 ribu per kubik, dan ukuran besar Rp 225 ribu per kubik.

“Batu-batu ini diantar ke alamat. Kalau pembeli mengambil pakai mobil sendiri bisa dijual setengah harga dari harga tersebut. Misal yang ukuran besar, kalau kami yang antar 225 ribu, kalau mereka yang ambil ke sini bisa separuhnya yaitu Rp 110 ribu,” ungkap Kalsim.

“Sehari maksimal kami dapat satu atau setengah kubik. Upahnya Rp 25 ribu,” kata Kalsim, seorang penambang di Kelurahan Kayu Ara.

Menurut Kalsim, guna mendapatkan satu kubik batu koral, dibutuhkan empat pekerja. Dua yang memungut di sungai, dua lagi membawanya dari tepi sungai ke penampungan.

“Biasanya kami bagi juga, Rp 40 ribu diambil pemilik tanah yang dijadikan tempat penampungan batu yang kami tambang,” kata Kalsim. (05/CW01)

Komentar

Rekomendasi Berita