oleh

Eksekusi Lahan Damri, Warga Histeris

Kapolres Lubuklinggau, Sunandar
“Untuk aktor intelektualnya, yakni saudara Sarbeni dan Yancik, sudah kita amankan. Saya pastikan ini akan diproses secara hukum masuk pidana. Namun unsur pasalnya akan kita kaji, memenuhi perbuatan yang mereka lakukan….”

LINGGAU POS ONLINE, AIR KUTI – Sesuai yang dijadwalkan Pengadilan Negeri Lubuklinggau, Rabu (20/12), berlangsung eksekusi lahan Perusahaan Umum (Perum) Damri. Jelang eksekusi tanah seluas 15.500 meter persegi itu, suasana Jalan Mayor Toha, Kelurahan Air Kuti, Kecamatan Lubuklinggau Timur I memanas.

Ratusan bambu runcing dipasang oknum warga sejak Selasa (19/12) malam. Simpang jalan menuju Kampus STKIP-PGRI Lubuklinggau pun ditutup dengan 100 lebih ban dan sebuah mobil sedan bekas.

Portal ban bekas juga dipasang di depan gerbang Kampus STKIP-PGRI Lubuklinggau.

Lalu, tepat di depan rumah Sarbeni dan Yancik sengaja didirikan satu unit tenda yang tepat di tengah-tengah Jalan Mayor Toha.

Warga dari arah Bandara Silampari yang hendak melintas di lokasi ini diminta memutar arah. Dan melewati Jalan Perumnas Nikan II. Begitu pun dengan warga yang dari arah Rumah Sakit Siti Aisyah, diminta memutar arah melewati jalan SMP Negeri 2 Lubuklinggau. Petugas dari Dinas Perhubungan dan Polisi tampak siaga untuk mengarahkan pengendara yang hendak melintas.

Sebelum proses eksekusi dimulai, warga yang menempati lahan Perum Damri mulai berorasi pukul 07.30 WIB. Sebagian dari mereka mulai menyiram ban dan mobil bekas dengan menggunakan bensin.

Sekitar pukul 08.30 WIB, Jajaran Polres Lubuklinggau, Brimob, Subdenpom/TNI, Sat Pol PP, Petugas Damkar dan delapan anggota Polisi Wanita (Polwan) Polres Lubuklinggau melakukan apel di Taman Olahraga Silampari (TOS) yang dipimpin Kapolres Lubuklinggau, AKBP Sunandar.

Kasat Binmas Polres Lubuklinggau, AKP Hendri didampingi anggota lainnya sempat bernegosiasi dengan warga yang sejak awal sudah berorasi. Perlahan, satu unit mobil Water Canon dan dua unit mobil Damkar merapat. Lalu dua unit mobil Fuso mengangkut alat berat mengekor dari belakang.

Dalam negosiasi itu, AKP Hendri menjelaskan, tim pengamanan meminta kepada warga untuk bisa bekerja sama. Hanya saja, warga tidak menghiraukan negosiasi itu. Dan masih bersikukuh untuk melakukan penundaan eksekusi. Dan hingga pukul 09.10 WIB tidak ada perintah penundaan eksekusi.

Sekitar pukul 09.11 WIB, Kapolres Lubuklinggau, AKBP Sunandar sempat mengimbau sekaligus memperingatkan kepada warga untuk meninggalkan lokasi terutama warga yang tidak mempunyai kepentingan.

Kapolres juga meminta warga yang masih memegang senjata tajam dan berbahaya untuk segera diserahkan kepada anggota yang melakukan pengamanan.

“Karena pelaksanaan hari ini jangan ada yang tersakiti, adanya lempar dan terbakar,” tegasnya.

Kapolres juga sudah bernegosiasi kepada Sarbeni dan Yancik melakukan pendekatan, namun reaksi keduanya justru menujukan ketidakpatuhan terhadap hukum. Sementara Kapolres dengan tegas mengatakan, kedatangan mereka ke lokasi tersebut untuk melakukan penegakan hukum.

“Maka dari itu saya berikan waktu 10 menit untuk warga yang tidak berkepentingan silakan menyerahkan barang berbahaya,” pintanya lagi menggunakan pengeras suara.

Sekitar pukul 09.17 WIB oknum mulai membakar ratusan ban bekas yang telah disiram bensin. Api dengan lekas membumbung ke atas. Asap tebal mengepul ke udara. Masyarakat sekitar lokasi pun turut menyaksikan situasi mencekam tersebut. Dua unit mobil pemadam kebakaran berusaha memadamkan api pembakaran ban bekas dengan cepat.

Beberapa oknum juga menyalakan kembang api ke udara, sebagian warga sempat memegang bambu runcing dan bom molotov dilemparkan ke arah tim pengamanan. Anggota kepolisian mulai merapat ke lokasi dengan dilengkapi alat pengamanan lengkap, seperti perisai.

Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, polisi langsung mengeluarkan tembakan gas air mata, guna melumpuhkan massa yang sudah beringas. Setelah itu, Sat Brimob anti hura-hara mulai bergerak, menerobos kobaran api dan asap tebal, menembaki massa dengan peluru karet, sehingga membuat massa lari kalang kabut.

Kemudian, sekitar pukul 09.43 WIB aparat kepolisian sempat melepaskan tembakan gas air mata dan terjadilah serang menyerang antara polisi dan warga.

Anggota polisi bersenjatakan peluru karet dan gas air mata sedangkan warga menggunakan bom molotov, kembang api serta cairan yang berbahaya. Namun hasilnya warga mundur, dan aparat mulai masuk ke area lahan PT Damri.

Kemudian, setelah berhasil melumpuhkan pertahanan warga, pukul 10.13 WIB puluhan anggota polisi disertai dua unit alat berat traktor masuk ke Jalan Mayor Toha.

Tepat sekitar pukul 10.20 WIB, pihak Pengadilan Negeri Lubuklinggau membacakan surat keputusan eksekusi. Pukul 10.30 WIB satu traktor masuk ke perkarangan Sarbeni menghancurkan pagar rumah bercat kuning itu.

Sedangkan satu traktor lainnya, menghancurkan Rumah Toko (Ruko) tepat di depan Gedung STKIP-PGRI Lubuklinggau. Empat jam kemudian, dua rumah dan enam ruko rata dengan tanah. Meski begitu, personel kepolisian berjaga-jaga.

Juru Bicara Pengadilan Negeri Lubuklinggau, Hendri Agustian mengatakan kalau proses eksekusi merupakan jalan terakhir, karena tidak ada lagi jalan yang bisa dilakukan. Tapi, awalnya kita berharap agar masyarakat menyerahkan lahan secara baik-baik, dan kami memang tidak menginginkan hal-hal semacam ini. Tapi, dikarenakan amanah dari Undang-Undang, maka mau tidak mau dijalankan.

“Silakan kalau ada yang mau nuntut, yang pasti eksekusi ini pelaksanaan dari putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. Makanya melaksanakan eksekusi merupakan amanah Undang-Undang,” katanya.

Sebelum eksekusi ada tahapan yang memang sudah dilalui, dan sebelum eksekusi sudah dilakukan pemberitahuan kepada masyarakat. Artinya, lahan harus sudah dikosongkan, termasuk barang-barang yang ada.

“Jadi, ketika akan dilakukan eksekusi dan barang-barang ada di tempat yang akan dieksekusi, maka jadi tanggung jawab yang bersangkutan. Apalagi mereka sudah melakukan perlawanan, dan itu melawan Undang-Undang, artinya sudah melakukan pidana. Bom molotov dan senjata tajam itu sudah pidana, dan sebenarnya eksekusi itu perdata,” jelasnya.

Mengenai barang-barang yang berhasil diamankan dari ranah eksekusi, akan diamankan pihak Pengadilan Negeri Lubuklinggau, itu bisa diambil oleh yang bersangkutan.

“Semuanya sudah kita data, dan barang-barang itu kita amankan dan bisa diambil oleh masyarakat paling lama satu bulan sejak eksekusi,” ungkapnya.

Untuk diketahui, paling tidak ada dua rumah dan enam ruko yang rata dengan tanah.

Pada akhirnya, aksi pertahanan yang dilakukan masyarakat atas lahan mereka sengketa dengan Perum Damri berbuah dramatis, 11 orang yang melakukan perlawanan kepada aparat diamankan pasukan keamanan yang terdiri dari Sat Brimob dan aparat kepolisian dari Mapolres Lubuklinggau dan Musi Rawas.

*** Dua Aktor Intelektual Diamankan

Kapolres Lubuklinggau, AKBP Sunandar bersyukur pelaksanaan eksekusi lahan Perum Damri berhasil dilaksanakan.

“Situasi saat ini bisa dikendalikan. Tahapan selanjutnya pengosongan rumah kemudian merobohkan rumah. Dari seluruh proses yang kita lalui hari ini sudah kita lewati mulai dari pengerahan massa kemudian terakhir peleton tindak dari Brimob. Terpaksa untuk melakukan tindakan tegas, walaupun sempat ada terjadinya perlawanan namun seluruhnya masih bisa kita kendalikan,” kata Sunandar, Rabu (20/12).

AKBP Sunandar menjelaskan, sejauh ini berdasarkan informasi yang masuk sementara dari anggota berjumlah delapan orang yang diamankan lantaran melakukan perlawanan.

“Namun, untuk aktor intelektualnya, yakni saudari Sarbeni dan Yancik, dan sudah kami amankan. Saya pastikan ini akan diproses secara hukum masuk pidana. Namun unsur pasalnya akan kita kaji, memenuhi perbuatan yang mereka lakukan. Saya pastikan kami bekerja dilindungi Undang-Undang, jadi siapa pun yang menghalangi kami bekerja, apalagi melakukan perlawanan akan dipidanakan,” jelas perwira berangkat melati dua ini.

Lebih lanjut, AKBP Sunandar menjelaskan, mengenai anggotanya yang turut mengamankan lokasi, menurut laporan komandan peleton hanya ada seorang anggota yang terluka di lengannya diduga akibat benda tajam.

Benda yang diamankan cukup banyak barang berbahaya diantaranya, ratusan bambu runcing, satu pucuk Senpira, ratusan bom molotov terbuat dari botol kaca diisi dengan bensin diberikan sumbu dari kain, serta puluhan bahan cairan yang berbahaya diduga air keras.

“Semuanya sudah kita amankan. Mengenai jumlah rinciannya nanti akan dilakukan pemeriksaan kembali,” jelas Sunandar.

Disinggung dari siapa Senpira didapatkan dan di mana posisi Senpira ditemukan?

“Pastinya didapatkan dari pelaku yang diamankan, namun belum diketahui milik siapa itu, dan belum diketahui juga didapatkan dari mana karena masih dilakukan penyidikan,” jawab kapolres.

Kembali, Kapolres memastikan eksekusi lahan Perum Damri ini dilakukan sesuai dengan tahapan Standar Operasional Prosedur (SOP) baik Peraturan Kapolri (Perkap) dan Prosedur Tetap (Protap) untuk penanggulangan anarkis sudah kita penuhi.

“Mulai dari negosiator, kemudian Dalmas Awal, Dalmas Inti pada akhirnya Pasukan Anti Huru-Hara (PHH Brimob),” kata pria mengenakan rompi bertuliskan Polisi ini.

Kapolres kembali menambahkan, eksekusi lahan Perum Damri kemarin, melibatkan lebih kurang 500 anggota melibatkan sekitar 135 Brimob, satu peleton berkisar 50 anggota Polres Musi Rawas serta satu peleton sama dengan jumlah peleton Polres Musi Rawas anggota TNI, itu apabila kondisinya tidak terkendalikan.

“Untuk saat ini, kita fokus dengan pelaku yang kita amankan untuk diproses, namun tidak menutup kemungkinan pelaku lainnya yang berhasil melarikan diri akan kita proses, hanya saja dari video dan kamera rekan-rekan. Sedangkan untuk proses pengamanan akan dilakukan hingga sore hari, nanti setelah itu, kita serahkan kepada Perum Damri untuk melakukan pemagaran dan sebagaimana mestinya,” tutup mantan Kapores Belitung ini.

Baru pada pukul 14.30 WIB tim pengamanan dari jajaran Polres Lubuklinggau, Brimob, Subdenpom-TNI, Sat Pol PP, dan Petugas Damkar meninggalkan lahan eksekusi Perum Damri. Dan sepanjang Jalan Mayor Toha, tepatnya sebagain besar dari 15.500 meter persegi lahan Perum Damri sudah rata dengan tanah. Tinggal satu Cafe Bengkel Perut yang sebelum pukul 11.00 WIB Kamis (21/12) harus sudah dibongkar sendiri oleh warga yang sempat menempati yakni Hj Erlinda. Mengingat letaknya cukup jauh sekitar 400 meter dari jalan utama Mayor Toha.

Sementara Direktur SDM Perum Damri Sadiyo Sardi saat dimintai keterangan belum bisa berbicara banyak terkait eksekusi kemarin.

Sebelumnya, 12 Desember 2017 lalu, ia sempat mendatangi Mapolres Lubuklinggau memenuhi undangan Kapolres. Dalam rapat tertutup saat itu, Sadiyo menjelaskan kronologis masalah tentang lahan Perum Damri.(16/11)

Berita Terkait : Ini Menurut Pengamat Hukum Dr Febrian

Komentar

Rekomendasi Berita