oleh

Edy Mundur, Komposisi Exco PSSI Tak Berubah

JAKARTA – Edy Rahmayadi sudah menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum (Ketum) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).Pernyataan itu langsung diutarakan Edy saat awal sambutannya dalam acara Kongres Tahunan PSSI yang digelar di Sofitel, Nusa Dua, Bali Minggu (20/1) kemarin.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga langsung menyerahkan bendera PSSI kepada Joko Driyono yang sebelumnya mengemban tugas sebagai wakil ketua umum PSSI dan secara otomatis akan menduduki kursi PSSI 1.

Joko Driyono akan menjadi pelaksana tugas Ketua Umum PSSI selama sisa masa jabatan Edy Rahmayadi (satu tahun kedepan). Hal itu juga tertuang dalam statuta PSSI, pasal 39 ayat 6 yang berbunyi, apabila Ketua Umum tidak ada atau berhalangan, maka wakil ketua umum dengan usia tertua akan menggantikannya.

Setelah ditunjuk, pria yang akrab disapa Jokdri itu, tidak melakukan perombakan struktur organisasi di induk sepak bola tanah air tersebut. Menurut anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Yoyok Sukawi, perombakan kepengurusan PSSI tidak bisa dilakukan secara sepihak, harus melalui kongres.

Sedangkan pada Kongres Tahunan kemarin, di Bali, Yoyok mengaku pihaknya hanya meresmikan pembentukan komite khusus (ad hoc) integritas PSSI yang bertugas memerangi pengaturan skor dan manipulasi pertandingan serta membangun sinergi dengan pemangku kepentingan lain terutama pihak kepolisian.

Selain itu, berdasarkan hasil rekomendasi dari Kongres Tahunan, PSSI juga mengesahkan restrukturisasi Komisi Disiplin (Komdis). “Jadi kongres kemarin (di Bali) itu hanya mengesahkan pembentukan komite ad hoc dan restruktur Komisi Disiplin,” ungkap Yoyok saat dihubungi Fajar Indonesia Network (FIN), Selasa (22/1) kemarin.

Hal itupun dibenarkan oleh Media Officer PSSI Bandung Saputra. Kepada FIN, dia mengatakan, dalam kongres tersebut PSSI menunjuk Ahmad Riyadh dan Azwan Karim sebagai Ketua dan Wakil Ketua Komite Adhoc Integritas.

Komite tersebut merupakan awalan sebelum dibentuknya Departemen Integritas PSSI. Komite Adhoc ini akan bekerja selama setahun, karena Departemen Integritas ditargetkan bisa terbentuk pada 2020. Kedua nama ini juga diberi waktu paling lambat dua minggu untuk melengkapi komite tersebut dengan tiga sampai lima anggota.

“Ya, komite ad hoc, ketuanya Pak Riyadh dengan Pak Azwan (Karim) sebagai wakilnya, sedangkan untuk anggotanya akan ditentuka dalam minggu ini atau pekan depan,” ungkap Bandung.

Terkait restrukturisasi Komdis, Bandung juga belum mengetahui siapa-siapa saja yang akan terlibat dalam Komdis yang menjadi titik sentral persoalan sepak bola selain wasit. Meski demikian, Bandung mengaku dalam waktu dekat ini, restrukturisasi komdis akan segera diumumkan.

“Restruktur (Komdis), tapi belum diumumkan siapa saja orang-orangnya. Namun yang jelas akan ada restrukturisasi. Nanti, terkaiu pergantian orang di Komdis akan dilakukan, tunggu pengumumannya saja,” terang Bandung.

Namun sayang, dalam Kongres tersebut tidak membahas adanya pergantian atau pengangkatan anggota exco PSSI. Langkah itu sempat muncul sebelum Kongres setelah satu anggota exco, Johar Lin Eng, dijadikan tersangka kasus dugaan pengaturan skor.

Selain itu, PSSI menyatakan Hidayat bersalah dengan dugaan serupa dan telah memberikan hukuman lewat Komisi Disiplin PSSI. Bahkan, dengan mundurnya Edy, anggota exco pun berkurang satu. Dalam Statuta PSSI, ketua umum otomatis menjadi ketua exco. Menurut Statuta, komite eksekutif diisi 15 anggota, yakni satu ketua umum, dua wakil ketua umum, dan 12 anggota.

Namun Bandung, mengatakan tak ada perombakan atau-pergantian anggota Exco dalam kongres tersebut. Menurut Bandung, pergantian atau-pun perombakan anggota exco memang harus dilakan melalui Kongres.

“Tidak ada (perombakan anggota Exco). Biasanya hal itu dilakukan saat kongres. Saat ini anggota Exco masih ada 50 persen, jadi masih bisa lanjut. Jika susunan anggota exco kurang dari 50 persen baru tidak bisa lanjut,” tukas pria yang juga mantan wartawan sepak bola tersebut.

Sementara itu, disis lain, Ahmad Riyadh yang diangkat menjadi ketua ad hoc mengaku bahwa dirinya bersama Azwan Karim siap mengemban amanah tersebut. Dia mengatakan, hal tersebut bukanlah tugas yang ringan dan butuh orang-orang yang benar paham tentang persepakbolaan nasional.

“Dalam waktu dekat kami akan melengkapi komite ini dengan menambah tiga atau lima orang lagi untuk memperkuat Komite Adhoc Integrity ini,” tutur Ahmad Riyadh.

Riyadh menjelaskan, bahwa dirinya sudah paham dengan tugas yang akan diembannya tersebut. Menurutnya, salah tugas komite ad hoc adalah mencegah dan memerangi pengaturan skor maupun perencanaan skor.

“Oleh sebab itu, kami akan berusaha seoptimal mungkin mempersiapkan program sebaik-baiknya. Apalagi pada kepengurusan ke depan akan dipermanenkan sebagai departemen,” tuturnya.

Dengan kata lain perombakan yang terjadi hanya di posisi ketua umum PSSI dan wakil ketua umum. Setelah Joko Driyono mengisi posisi Edy menjadi ketua umum. Jabatan wakil ketua umum diisi oleh Iwan Budianto. Ia adalah sosok penting di salah satu klub raksasa Indonesia, Arema FC dalam beberapa tahun belakanga ini.

Menarikya, setelah resmi menjabat sebagai wakil ketua umum PSSI, Iwan memutuskan untuk meninggalkan jabatannya sebgai CEO Arema FC. Langkah tersebut diambil setelah dirinya mengakui ingin fokus untuk membenahi PSSI bersama Jokdri.

Selain itu, keputusan itu juga diambil Iwan agar bisa menghindarkan dirinya dan Arema FC dari fitnah. Pasalnya, saat ini banyak yang menuding petinggi PSSI yang juga menjabat sebagai bos di salah satu klub peserta Liga 1 dinilai dapat membantu klubnya dalam perjalanannya di kompetisi.

“Keputusan ini agar tidak adal lagi orang yang melakuka fitnah terhadap saya dan juga Arema. Saya yakin Arema adalah tim yang profesional dan mampu menjalankan pengelolaan sesuai dengan program yang ada,” ungkap Iwan seperti dikutip dari situs resmi Arema. (gie/fin/wsa)

Rekomendasi Berita