oleh

Dugaan Pungli Disoal Wali Murid SDN

LINGGAU POS ONLINE, PASAR PEMIRI – Kasus dugaan Pungutan Liar (Pungli) di salah satu sekolah dasar di Kelurahan Pasar Pemiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat II, mencuat.

Dugaan Pungli ini berkaitan dengan permintaan uang senilai Rp 50 ribu untuk mendaftar kolektif khusus kelas VI masuk ke MTsN Lubuklinggau. Tak hanya itu, permintaan uang juga diajukan ke wali murid senilai Rp 130 ribu untuk berbuka puasa bersama untuk kelas VI juga.

Temuan ini diungkapkan salah seorang wali murid SDN tersebut berinisial, RT (38). Ia merasa keberatan atas permintaan pihak sekolah dan komite yang meminta sejumlah uang kepada wali murid.

“Saya menilai marak Pungli akhir-akhir ini di sekolah tersebut. Saat anak saya akan daftar masuk MTsN itu ada teman-temannya yang daftar secara kolektif (bersama-sama, red) dari sekolah, dipungut Rp 50 ribu per orang. Saya miris sekali untuk apa uang itu? Kalau mau daftar ya silakan daftar sendiri saja ke sekolah yang akan dituju lulusan SDN itu, bukan diminta uang lagi,” keluh RT yang bekerja swasta ini, Senin (21/5).

RT mempertanyakan. Setahu dirinya, aturannya tidak boleh memungut uang untuk biaya daftarkan anak masuk sekolah pasca tamat.

“Kalau untuk bantu daftarkan anak ada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dapat dipergunakan untuk biaya internet yang dipakai untuk jalur mendaftar ke sekolah akan dituju lulusan SD,” imbuhnya.

Sumber ini kembali dibuat kesal. Pasalnya selain minta Rp 50 ribu, pihak sekolah dan komite juga meminta sumbangan Rp 130 ribu per anak untuk biaya Buka Bersama (Bukber).

“Mengapa harus meminta sumbangan lagi untuk Bukber lagi. Lagian masak ada Bukber segala mesti diikuti anak SD. Saya khawatir jika diminta terus begini. Lama-lama akan ada lagi uang perpisahan, legalisir dan lain-lain. Jangan sampai dugaan Pungli ini terus terjadi di sekolah-sekolah,” ungkap perempuan ini, minta agar Disdik Kota Lubuklinggau menindaklanjuti keluhan mereka selaku orang tua murid.

Menanggapi dugaan Pungli yang dilayangkan kepada sekolahnya, Kepala SD inisial IS ini mengatakan sangat kaget dengan tuduhan ini dan dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Ia memastikan sama sekali tidak ada Pungli di SD yang ia pimpin.

IS menjelaskan, mengenai sumbangan sebesar Rp 130 ribu untuk acara buka bersama sekolahnya pada Sabtu (2/6) mendatang adalah murni kesepakatan antara komite dan orang tua wali murid. Dirinya bersama guru-guru tidak tahu menahu.

“Sumbangan Rp 130 ribu itu sudah disepakati komite dan wali murid. Kami pihak sekolah tidak ikut campur dalam rapat tersebut. Dari awal saya sudah menyarankan untuk tidak ada acara perpisahan, tetapi pihak komite dan orang tua menginginkan ada acara perpisahan karena enam tahun sekolah masak tidak ada kenang-kenangan. Dikarenakan bulan puasa dipilihlah acara buka bersama oleh mereka, dan saya setuju. Untuk segala macam sumbangan dana itu semuanya komite dan orang tua murid saat rapat yang menentukan dan menyepakatinya. Saya bersama guru di sini hanya memberikan saran apa saja yang diperlukan dalam acara ini, seperti ada takjil, nasi kotak, penceramah, cinderamata dan lainnya,”jelas IS.

Ini saja, lanjutnya, rincian dana dan apa saja yang diperlukan dalam acara buka bersama ini telah ditentukan oleh pihak komite, dan sekolah hanya menjalankan saja.

Sedangkan untuk biaya kolektif Rp 50 ribu untuk pendaftaran murid kelas VI di salah satu sekolah yang dituduhkan sebagai Pungli dikatakan IS juga tidak benar. Dikatakannya sumbangan Rp 50 ribu itu tidak ada pemaksaan sama sekali apalagi menjadi aturan di sekolah tersebut.

“Jadi, ada tujuh murid kita yang mau mendaftar di MTsN. Tapi MTsN pakai pendaftaran siswa baru dengan system online. Untuk meringankan beban orang tua wali murid agar tidak ribet mendaftarkan anaknya di MTsN maka kami sarankan pendaftaran dilakukan kolektif dan minta bantuan operator sekolah saja untuk membantu,” imbuh IS.

“Nah aku nyarani, kalu be ado caro orang tuo wali ini untuk operator honor nih beli kuota internet, daftarin anak sampe malam begawe, ngeprint kertas pendaftaran dan bolak-balik ke MTsN tersebut. Mangkonyo orang tua ngomong bersedia dan ikhlas kasih Rp 50 ribu. Nah, sampe pengumuman sekarang be, baru duo yang kasih duit Rp 50 ribu, dan itu duitnyo masih ado, dan kami jugo dak makso yang belum bayar untuk bayar. Jadi dak ado maksud yang aneh-aneh duit Rp 50 ribu itu, Rp 50 ribu itu keikhlasan dari para orang tua murid yang anaknya didaftarkan operator pihak sekolah ini,” jelasnya dengan campuran logat bahasa daerah.

IS mengaku sangat sedih dengan tuduhan ini, ia mengaku selama 11 tahun menjadi kepala sekolah dan sudah empat sekolah yang ia pimpin, baru kali ini dituduh hal yang tidak-tidak.

Malah di sekolah ini dirinya terus membantu para orang tua wali yang kesusahan, dengan banyak mengusulkan anak-anak mendapatkan dana pendidikan.

“Saya bersama guru di sini tidak pernah kepikiran mau mengambil uang orang tua wali murid. Di sini kami benar-benar membantu anak-anak dalam pendidikannya. Semoga penjelasan saya yang sebenar-benarnya ini bisa menerangkan kepada masyarakat Kota Lubuklinggau bahwa tidak ada Pungli di SD ini,”ungkapnya. (08/AE02)

Rekomendasi Berita