oleh

Dua Kasus Pemerkosaan Terungkap

LINGGAU POS ONLINE, MUARA BELITI – Kasus pemerkosaan bulan Februari 2018 terungkap. Sudah dua kali terjadi kasus asusila ditangani aparat penegak hukum.

Dua kasus pemerkosaan terjadi pada Rabu (2/2) dan Minggu (11/2). Ya, bisa dikatakan baru 11 hari, namun tidak menutup kemungkinan akan kembali terjadi, dan ditangani Polisi.

Dari data Linggau Pos terungkap, kasus pemerkosaan sebelumnya diduga akibat Media Sosial (Medsos) Facebook (FB). Dialami korban sebut saja Mawar (25) warga Ciputat, Tangerang, Jawa Barat. Wanita ini menjadi korban pemerkosaan terjadi sekitar pukul 07.00 WIB, Kamis (1/2) di rumah saudara tersangka.
Diduga yang memerkosa korban kenalan FB korban, Ismail alias Cebol (25) warga Jalan Depati Said, RT 05, Kelurahan Pelita Jaya, Kecamatan Lubuklinggau Barat I. Saat kondisi rumah sedang kosong, korban sedang berada di rumah seorang diri diduga terjadilah pemerkosaan dilakukan tersangka
Tersangkanya sudah ditahan oleh anggota Polsek Lubuklinggau Timur di kediamannya sekitar pukul 14.00 WIB, Jumat (2/2) tanpa melakukan perlawanan.
Selanjutnya, kasus dugaan pemerkosaan kedua. Kali ini menimpa anak bawah umur sebut saja, Melati (12) yang tidak lain cucu tiri tersangka yakni, Usman (68) warga Desa Raksa Budi, Kecamatan BTS Ulu, Kabupaten Musi Rawas (Mura).

Yang membuat geram para warga yakni, tersangka diduga dua kali akan melakukan percobaan pemerkosaan, hanya saja satu kali berhasil melampiaskan nafsunya dan satu kalinya gagal lantaran korban melawan dan melarikan diri.

Kejadian pemerkosaan terjadi sekitar pukul 13.00 WIB, Selasa (4/10/2017). Di kebun milik tersangka saat korban sedang mengambil rumput untuk makanan ternak. Namun sebelumnya, sekitar pukul 12.00 WIB, Selasa (3/5/2017). Saat itu korban hendak mengambil bambu di kebun milik warga. Sewaktu sedang buang air kecil.

Tiba-tiba tersangka datang sambil memegang bahu korban, lalu menidurkan korban. Untungnya, korban Melati masih sempat berontak dan tidak terjadi pemerkosaan itu.

Saat ini tersangkanya sudah diringkus anggota Polsek BTS Ulu di kediamannya Desa Raksa Budi, Kecamatan BTS Ulu. Tanpa melakukan perlawanan sekitar pukul 22.00 WIB, Jumat (9/2).

Kapolres Lubuklinggau, AKBP Sunandar melalui Kasat Reskrim, AKP Ali Rojikin mengatakan bahwa kasus pemerkosaan bisa saja terjadi karena ada situasi dan kondisi.

Maksudnya, salah satunya oknum memanfaatkan Medsos FB dengan menawarkan pekerjaan, namun setelah korban percaya malah bukan mendapatkan pekerjaan melainkan musibah.

“Maka dari itu, kepada warga ataupun pengguna Medsos untuk lebih berhati-hati agar tidak tertipu oleh oknum dan menjadi korban pelaku kejahatan,” kata Ali Rojikin, Minggu (11/2).

AKP Ali Rojikin menjelaskan, selain itu kepada warga khususnya di Lubuklinggau yang mengikuti arisan online juga lebih berhati-hati apabila arisan tersebut tidak jelas ataupun terbukti kebenarannya akan lebih baik untuk tidak mengikuti arisan online.

“Dibandingkan, tertipu oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” jelas Kasat Reskrim ini.

Senada disampaikan, Kapolres Musi Rawas, AKBP Bayu Dewantoro melalui Kasat Reskrim, AKP Wahyu Setyo Pranoto membenarkan bahwa adanya kasus pemerkosaan diduga dilakukan kakek tirinya kepada anak bawah umur.

“Kasus ini, masih ditangani dan dilakukan penyidikan lebih lanjut,” kata Wahyu Setyo Pranoto.

AKP Wahyu sapaannya menjelaskan, adanya kasus ini kiranya kepada orang tua untuk lebih berhati-hati dan meningkatkan pengawasan kepada anaknya. Karena, orang terdekat saja seperti kakek bisa melakukan perbuatan yang tidak senonoh apalagi orang lain.

“Maka dari itu, kami sebagai aparat kepolisian mengimbau kepada orang tua untuk lebih menjaga anak-anaknya baik berjenis kelamin perempuan maupun laki-laki. Sebab apabila perempuan takutnya akan menjadi korban pemerkosaan sedangkan laki-laki akan menjadi korban pencabulan,” ucapnya Wahyu.

Namun sebelumnya, Jumlah Tindak Pidana (JTP) pemerkosaan maupun Penyelesaian Tindak Pidana (PTP) pemerkosaan mengalami kenaikan dari tahun 2016 lalu.

Di tahun 2016 ada 5 kasus JTP namun berhasil di PTP berjumlah 1 kasus. Sedangkan, tahun 2017 mengalami kenaikan untuk JTP sebanyak 9 kasus, tapi penyelesaiannya atau PTP-nya berjumlah 5 kasus.(16)

Rekomendasi Berita