oleh

Dua ABK WNI yang Viral di Korea, Adalah Warga OKI

LINGGAUPOS.CO.ID – Pemkab Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, mengatakan dua dari tiga WNI ABK Long Xing 629 yang dilarung ke laut adalah warganya. Kedua orang itu, kata Pemkab OKI, adalah Sepri (26) dan Ari (25) asal Desa Serdang Menang, Sirah Pulau Padang.

“Mereka berangkat pada 2019, berangkat dari desa ke Jakarta cari kerja ada enam orang. Dari enam orang hanya dua orang yang diterima menjadi ABK,” kata Kepala Bidang Pelayanan dan Informatika Dinas Kominfo OKI, Adi Yanto, kepada wartawan, Jumat (8/5/2020).

Dia mengatakan perusahaan yang mempekerjakan keduanya berada di Malang. Adi memastikan kedua orang itu bekerja di kapal Long Xing.

“Perusahaan yang mempekerjakan ada di Malang, ini telah kami data dan benar ada perusahaannya. Terdata keduanya bekerja di kapal yang berbendera Long Xing,” kata Adi.

Dia mengatakan pihak keluarga juga sudah tahu soal pelarungan itu. Menurutnya, pihak perusahaan sudah memberi informasi ke keluarga dua ABK itu.

“Keluarga tahu mereka kerja di sana karena pernah dipanggil oleh perusahaan. Mereka juga sudah dapat kabar soal pelarungan itu dari pihak perusahaan,” kata Adi.

Adi mengatakan Dinas Tenaga Kerja OKI telah mendatangi rumah dua ABK itu. Pihak keluarga disebut kaget karena kabar pelarungan itu menjadi heboh.

“Kejadian sudah lama, keluarga juga kaget dapat kabar dan ini viral di Korea. Sekarang Camat, Kades dan Disnaker sudah ada di rumah duka, ramai orang melayat,” kata Adi.

“Untuk kasus seperti apa sudah ditangani sama Dinas Tenaga Kerja. Ada dibentuk tim untuk mendalami kejadian ini bersama dari PPNS juga,” sambungnya.

Adi menambahkan, ABK di kapal Long Xing 629 China yang dilarung ke laut, adalah warga miskin dan telah mendapat santunan dari perusahaan sebesar Rp 50 juta.

“Sepri (26) dan Ari (25) adalah warga OKI dan terdata sebagai warga miskin. Pihak keluarga sudah mendapatkan kabar saat kedua jenazah dilarungkan ke laut,” kata Kabid Pelayanan Komunikasi Publik Pemkab OKI, Adi Yanto, dikutip dari detikcom, Jumat (08/05/2020).

Berdasarkan informasi dari pihak keluarga, Adi membenarkan adanya kontrak kerja antara ABK dan pihak perusahaan. Bahkan pihak keluarga menerima uang asuransi Rp 50 juta dari meninggalnya para ABK.

“Iya yang viral memang begitu (asuransi Rp 150 juta), tapi informasi keluarga baru mendapat Rp 50 juta. Ya mereka berpikir itu nyawa segitu, jadi kami sarankan agar mereka lapor ke Disnaker,” kata Adi.

Tidak hanya itu saja, Pemkab OKI siap mengawal laporan pihak keluarga termasuk soal tuntutan asuransi dan sebagainya. Termasuk apakah ada tindakan kerja paksa alias perbudakan.

Sementara itu, terkait keduanya menjadi ABK dari Kapal Long Xing 629 China, keluarga tahu dari perjanjian yang dibuat dengan perusahaan cabang di Malang. Ada surat yang diterima saat keduanya mulai bekerja.

“Kedua ABK sama-sama warga Serdang Menang. Mereka juga teman dekat yang sama-sama berangkat ke Jakarta untuk mmencari kerja,” tutur Adi.

Berita mengenai pelarungan jenazah ABK WNI dari kapal berbendara China sudah tersiar sejak awal tahun 2020 ini. Hanya saja, belakangan publik Indonesia terkesiap gara-gara kasus di awal tahun itu ternyata bukan satu-satunya, diungkap oleh media Korea Selatan MBC News.

Ternyata ada tiga jenazah ABK WNI yang dilarung ke laut, semuanya adalah ABK WNI dari kapal Long Xing 629, meski ada pula yang sempat berpindah ke kapal lain sebelum akhirnya meninggal dunia dan dilarung ke laut. Ada satu lagi ABK WNI dari kapal Long Xing 629 yang meninggal dunia, namun tidak meninggal dunia di tengah laut melainkan di Busan, Korea Selatan.

MBC News mengabarkan, tiga orang ABK WNI yang meninggal dunia dan jenazahnya dilarung ke laut adalah Alfata (19), Sepri (24), dan yang terbaru adalah Ari (24). Satu lagi, inisial EP, meninggal beberapa hari setelah berhasil mencapai Busan Korsel, 24 April 2020.

“Yang bersangkutan akhirnya meninggal dunia pada tanggal 29 April, dan meninggal karena didiagnosa penyakitnya pneumonia. Ini jenazah almarhum sedang kami urus, insyaallah segera bisa dipulangkan ke tanah air dalam waktu tidak terlalu lama,” kata Duta Besar Indonesia untuk Korsel, Umar Hadi, Kamis (7/5/2020).

Peristiwa ini kemudian mendapat sorotan tajam. Menlu Retno Marsudi meminta pemerintah China membantu agar hak para ABK WNI dapat terpenuhi, salah satunya soal gaji.

“Kita juga sampaikan kita minta dukungan pemerintah Tiongkok untuk membantu pemenuhan tanggung jawab perusahaan atau hak para awak kapal Indonesia termasuk pembayaran gaji yang belum dibayarkan dan kondisi kerja yang aman,” kata Retno Marsudi dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (7/5/2020).(*)

Sumber: detik.com

Rekomendasi Berita