oleh

DPR: Ungkap Pelaku Teror Bom dan Novel

JAKARTA – Wakil Ketua Komisi 3 DPR RI, Erma Ranik ikut angkat bicara terkait, insiden teror bom dikediaman dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yakni, di rumah Ketua KPK Agus Raharjo dan Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif, pada Rabu (9/1) lalu.

Menurut wakil rakyat dari fraksi Demokrat, insiden yang menyerang dua pimpinan KPK ini merupakan teror yang masif, terstruktur, dan terencana dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab guna membuat KPK kecut dan takut dalam bertugas berantas korupsi.

“Siapa pun pelakunya harus segera diungkap. Dan saya meminta Kapolri dengan tim khususnya, segera untuk dapat menangkap para pelakunya, sekaligus kasus-kasus teror yang juga pernah terjadi salah satunya, penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Bawesdan,” ujar Erma di Jakarta, Minggu (13/1).

Erma berharap, tim khusus yang dibentuk oleh Kapolri dapat benar-benar bertugas dan bertanggungjawab mengungkap siapa pelaku, serta aktor utama dibalik kasus teror tersebut. “Saya pun meminta tim khusus ini dapat dipimpin langsung oleh Wakapolri,” ungkapnya.

“Saya yakin dan percaya Polri punya semua sumber daya untuk mengungkapnya. Tinggal gimana mereka saja. Jadi, Komisi 3 akan memantau serius kasus ini karena teror terhadap aparat penegak hukum yang menjalankan tugasnya TIDAK BISA DIBIARKAN,” tambah Erma.

Terpisah, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, saat ini tim khusus kepolisian telah dibentuk untuk mengungkap kasus teror bom terhadap dua pimpinan KPK tersebut, terdiri dari anggota gabungan Ditkrimum Polda Metro Jaya, Tim Labfor, Inafis, ITE dan Densus 88 Mabes Polri.

Adapun pimpinan dari tim ini yakni, Kadensus 88. Menurut Dedi, pihaknya sengaja melibatkan detasemen tersebut karena memiliki pengalaman dalam mengungkap kasus besar selama ini. “Kami pastikan Polri komitmen akan menyelesaikan kasus ini secara komprehensif, dan secepat mungkin,” kata Dedi.

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Muhammad Iqbal mengatakan, Kapolri telah mengeluarkan surat tugas dengan nomor Sgas 3 /1. HUK.6.6/2019, guna membentuk tim gabungan menindaklanjuti kasus penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan.

Jumlah dari tim gabungan ini, kata Iqbal, mencapai 65 orang yang terdiri dari KPK sebanyak enam orang, perwakilan pakar tujuh orang dan sisanya 52 dari kepolisian.”Dari surat itu tertulis, Kapolri Jendral Tito Karnavian sebagai Penanggung Jawabnya,” jelas Iqbal.

Iqbal mengatakan, tim gabungan ini dibentuk sesuai tindak-lanjut dari rekomendasi Komnasham akhir Desember 2018 lalu terkait, kasus penyiraman air keras terhadap Novel. Ada beberapa nama tokoh yang masuk dalam tim ini, seperti Indriyanto Seno Adji (Wakil Ketua KPK Februari-Desember 205/Guru Besar UI).

Lalu, Hermawan Sulistyo (akademisi), Hendardi (Setara), Poengky Indarti (mentan Direktur Eksekutif Imparsial), Ifdhal kasim (Komnas HAM 2007-2012), dan lain-lain. Seperti diketahui, Komnasham pada akhir tahun lalu telah menyelesaikan laporan hasil pemantuan terhadap kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan.

Salah satu hasilnya, Komnas HAM merekomendasikan agar Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian segera membentuk tim gabungan. Selain itu, Komnasham juga memberi rekomendasikan KPK membuat langkah-langkah hukum dalam kasus penyerangan terhadap Novel. (mhf/fin))

Rekomendasi Berita