oleh

Dompleng Vanuatu, Benny Wenda Diusir dari Sidang Umum PBB

LINGGAU POS ONLINE –Upaya Benny Wenda dalam menyuarakan kemerdekaan Papua pada Sidang Umum (SU) PBB di New York, mendapat penolakan. Awalnya ia mendompleng rombongan Vabuatu, sayang identitasnya terlacak.

Dalam laporan kantor berita Australia ABC, Benny Wenda Bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), sejak Kamis (26/9/2019) sudah berada di New York. Langkah ini dilakukan untuk melobi, melakukan pendekatan dengan petinggi PBB untuk masuk dalam sidang tersebut.

PBB tentu tidak bisa semudah itu diterobos. Proses verifikasi yang dilakukan bagi peserta sidang begitu berlapis. Masing-masing perwakilan negara peserta dicek, kebenaran dan identitasnya. Terlebih, dalam sidang tersebut, tidak ada yang membicarakan Papua dan kondisi yang ada saat ini.

Fajar Indonesia Network (FIN) berupaya menghubungi juru bicara Kemenlu Arrmanatha Nasir. “Maaf mas, saya saat ini berada di Paris, Perancis. Kebetulan saya sudah tak lagi menjabat sebagai juru bicara Kemenlu. Anda bisa menghubungi, Faizasyah,” terang Nasir lewat pesan singkatnya, Minggu (29/9/2019).

Sementara itu, Teuku Faizasyah, belum memberikan tanggapan terkait beredaranya informasi tersebut. Meski demikian, tokoh Papua Nick Meset membenarkan informasi yang ada. Ia memastikan PBB tidak mengijinkan Benny Wenda dan rombongan masuk ke ruang sidang PBB dan bergabung bersama delegasi dari Vanuatu karena yang bersangkutan bukan WN Vanuatu.

“Tidak benar Benny Wenda ikut dalam ruang sidang bersama delegasi Vanuatu, karena PBB membuat aturan yang ketat dan hanya mengijinkan perwakilan negara yang masuk dalam ruang sidang di New York,” jelasnya.

Nick Meset pun menyebut, peraturan yang diterapkan PBB begitu ketat. “Saya ikut serta karena masuk dalam delegasi RI bersama Maikel Manufandu. Tidak ada itu Benny Wenda di sidang PBB,” jelasnya.

Dia mengaku, dirinya sendiri yang menjadi Konsul Kehormatan Republik Nauru di Jakarta tidak bisa mewakili negara tersebut karena masih berkewarganegaraan Indonesia sehingga dalam SU PBB tergabung dalam delegasi Indonesia. “Kalau ada informasi itu, jelas hoaks ya. Selain itu dalam SU PBB di New York tidak ada agenda yang membicarakan soal Papua dan referendum,” tandasnya Meset.

Nick Meset menuding kerusuhan yang terjadi di beberapa daerah di Papua akibat provokasi Benny Wenda. “Apa yang selalu dikatakan masalah Papua akan dibahas di PBB itu lagu lama karena sebelumnya dirinya bersama rekan-rekannya sudah lakukan bertahun-tahun yang lalu, sebelum Benny Wenda melakukannya,” timpal Meset.

Sementara itu, Benny Wenda, dalam keterangannya di ABC, pada Kamis (26/9/2019) berharap lembaga independen untuk menyelidiki kekerasan yang terjadi di Papua Barat. Ini akibat meninggalnya 30 orang tewas dalam gelombang baru protes keras yang terjadi sejak sepekan terakhir. “Apa yang terjadi di Timor Timur 25 tahun yang lalu sekarang sedang diulang di Papua Barat,” jelasnya.

Terpisah Wakapolda Papua Brigjen Pol Yakobus Marjuki mengatakan, tidak sedikit pengungsi akibat kerusuhan di Wamena menderita diare. Ini dampak minimnya air bersih, ditambah cuaca dingin dan tidur tanpa alas. Tak sedikit pula kondisi kesehatan pengungsi menurun.

“Ada 421 orang yang terkena diare. Akibat tidur yang tidak menggunakan alas dan cuaca dingin. Kami sudah berusaha untuk memfasilitasi, tapi kondisi penuh dengan keterbatasan,” terang Wakapolda Papua Brigjen Pol Yakobus Marjuki.

Total, sambung Yakobus sekitar 18,30 WIT jumlah pengungsi dari Wamena yang dikirim dengan pesawat hercules milik TN dan Polri berjumlah 1.925 pengungsi. “Hampir semua sudah berada di Jayapura. Ada bantuan juga pakaian layak pakai. Kendala saat ini, tempat keluar dari pengungsian yang diharapkan untuk pulang ke kampung halaman,” terangnya.

Mayoritas dari pengungsi sudah tidak bisa berharap untuk pulang kampung karena kondisi rumah atau tempat tinggal karena trauma kejadian yang berlangsung pukul 09.00 WIT, Senin (23/9/2019). “Mereka ingin menenangkan diri. Jelas mereka trauma dengan peristiwa mencekam itu. Warga lain masih tertahan di Lanut, dan Yonif 751 dan pengungsian di Jayapura,” terangnya.

Ya kerusuhan di Wamena menimbulkan gelombang eksodus yang luar biasa. “Anda bisa bayangkan, kantor bupati setempat saja dibakar oleh massa. Massa terpancing lantaran berita hoaks yang menebar tanpa ada mengecek kembali kebenaran. Sementara ini sudah 17 saksi yang sudah kita periksa terkait kerusuhan itu,” ungkapnya. (*)

Sumber: Fajar Indonesia Network (FIN)

Rekomendasi Berita