oleh

Dolar Tinggi, Tahu Tempe Mengecil

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Pengusaha tempe dan tahu di Kota Lubuklinggau, sudah ancang-ancang jika harga kedelai naik, imbas dari tingginya harga dolar Amerika terhadap rupiah. Pasalnya kedelai yang digunakan sebagai bahan baku tempe dan tahu, diimpor dari Amerika.

Turyono, pemilik usaha pembuatan tahu di Kelurahan Ulak Surung, Kecamatan Lubuklinggau Utara II mengatakan biasanya membeli kedelai di gudang Rosihin di Jl Karya 2. 2018 ini sudah pernah mengalami kenaikan harga, yakni dari Rp 7.200 menjadi Rp 7.700 per Kg.

“Memang saat ini belum ada kenaikan, tapi harga kedelai pasti akan naik. Padahal kami setiap hari membutuhkan 200 Kg kedelai, untuk mendapatkan 240 bak tahu, dengan isi keseluruhan sekitar 8 ribu tahu berbagai ukuran,” jelasnya.

Apabila kedepannya harga kedelai naik, diakui Turyono, ia harus bisa mengatur jumlah produksi.

“Agar tidak mengalami kerugian, satu-satunya jalan yaitu dengan mengecilkan ukuran tahu,” tambahnya, sambil menjelaskan untuk tahu putih dan tahu goreng ukuran besar dijual Rp 2 ribu per lima tahu, sedangkan ukuran kecil Rp1.000 per enam tahu.

Senada dikatakan pemilik usaha pembuatan tempe di Jl Sumbawa Kelurahan Jawa Kanan SS, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Suroyo (56). Apabila harga kedelai naik, maka ia akan mengecilkan volume tempe, agar tetap bisa dijual dengan varian harga Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per tahu.

“Saya setiap hari membutuhkan 50 Kg kedelai, untuk menghasilkan 430 batang tempe, baik tempe bungkus plastik maupun bungkus daun,” kata Suroyo yang membeli kedelai dari distributor di Kelurahan Megang atas nama Saring.

Suroyo juga meminta agar pemerintah tidak menaikan harga kedelai terlalu tinggi. Karena sangat berpengaruh sekali dengan harga tempe.

“Kami memang tidak akan menaikkan harga. Namun akan mengecilkan volume, jika harga kedelai naik,” katanya.

Sementara distributor kedelai, Rosihin mengakui harga kedelai belum ada kenaikan.

“Sekarang belum naik, karena masih stok lama. Kami jual Rp 7.500 per Kg untuk grosir sedangkan eceran Rp 8 ribu Kg. Namun harga kemungkinan naik, karena kedelai impor Amerika. Sehingga sangat berpengaruh terhadap kenaikan dolar terhadap rupiah,” ia menjelaskan.

Emas Masih Stabil

Sementara harga emas belum berdampak tingginya dolar Amerika terhadap rupiah. Hal ini seperti dijelaskan, Pimpinan Cabang PT Pegadaian Lubuklinggau, Soejono R. Ia mengungkapkan tidak ada pengaruh yang berarti atas kenaikan dolar saat ini terhadap harga emas logam mulia di Pegadaian.

“Masih belum ada perubahan untuk harga emas logam mulia, karena harga dolar pun saat ini belum stabil, masih naik turun. Setiap hari harga emas berubah-ubah dan naik berkisar Rp 10 ribu – Rp 12 ribu per gramnya. Untuk harga per gram emas logam mulia per Kamis (6/9) adalah Rp 673 ribu,” paparnya.

Soejono bahkan mengatakan pembelian emas malahan sering ramai saat harga emas naik.

“Apalagi kalau pertanian karet, sawit sedang lancar-lancarnya, banyak yang beli emas dan tebus emasnya ke kita,” katanya.

Sedangkan, untuk yang gadai emas biasanya ramai saat anak-anak mau masuk sekolah, seperti Juli dan Agustus ini banyak yang gadai emas untuk biaya anak masuk sekolah.

“Pada akhir-akhir bulan banyak juga yang melakukan transaksi gadai emas atau barang jadi lainnya,”ungkapnya. (adi/rrf)

Rekomendasi Berita