oleh

Ditegur Gara-gara Main Ponsel di Pesawat, Eh Ponsel Gak Mau Dimatikan

Cerita Umrah Endang Kusmadi di Tanah Suci

Hari itu, Senin (29/10) pesawat Lion Air JT JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang jatuh di Laut Karawang, Jawa Barat. Beritanya sampai di kami yang kebetulan melaksanakan ibadah umrah di Mekkah.

Saya dan istri Nurul Jihan serta anak tertua M Fattahul Awal D berangkat Umrah dari Surabaya melalui PT Nur Haramain Tour and Travel. Jauh-jauh dari Lubuklinggau karena istri kebetulan asal Gresik, Jawa Timur, sehingga berangkat dari kediaman mertua. Juga tarif cukup murah.

Kamis (25/10) sekitar pukul 10.00 WIB, kami berangkat menaiki pesawat Lion Air dari Surabaya menuju Jeddah. Perjalanan cukup lama, dan lumayan melelahkan. Pesawat Airbus yang kami tumpangi, adalah pesawat ekonomi. Sesuai harga.

Jangan bayangkan seperti pesawat ekonomi untuk antar kota. Jaraknya antar bangku cukup longgar. Namun tidak lapang. Satu baris tempat duduk, ada sembilan bangku. Sehingga ada dua lorong.

Sebelum take off, cukup lama awak kabin mengatur penumpang. Karena jumlahnya sampai 400 lebih. Apalagi ada penumpang sibuk bertukar tempat duduk, agar bisa sebaris dengan keratnya. Walaupun berkali-kali diingatkan oleh awak kabin, agar bertukar setelah pesawat mengudara.

Akhirnya pesawatpun mengudara. Karena besar, saat pesawat take off tidak terlalu terasa. Awal perjalanan beberapa penumpang masih bisa duduk diam. Apalagi kemudian datang menu sarapan, namun menjelang siang.
Setelah makan, mulai ada yang tertidur. Namun juga mulai ramai ke toilet. Yang bosan juga mulai ada. Saya waktu itu juga mulai bosan. Awalnya asyik memainkan ponsel karena sudah menggunakan mode pesawat. Anak saya pun juga asyik dengan ponselnya.

Kebosanan diisi dengan berbagai cara. Ada yang membaca Alquran. Ada yang menghafal bacaan untuk umrah. Ada yang berjalan-jalan di dalam pesawat. Saya salah satunya. Lokasi paling sering didatangi, area di dekat pintu darurat.

Di dekat pintu darurat, areanya cukup luas. Bahkan bisa tiduran di lantainya. Tapi tidak kami lakukan. Ada beberapa orang di sana. Ngobrol seadanya. Bahas kapan sampai. Sesekali lihat ponsel menghitung waktu yang sudah dilalui. Atau mengintip melalui jendela. Ternyata hanya warna biru menghampar.
Yang menggunakan masih mengaktifkan ponselnya cukup banyak. Karena menggunakan mode pesawat. Masih bisa foto-foto. Memainkan game. Mendengarkan musik. Awak kabin pun, paham.

Perjalanan 10,5 jam itu sungguh melelahkan dan membosankan. Bahkan makan kedua di pesawat. Termasuk ada selingan untuk minum kopi atau teh, bahkan jus, rasanya tak bisa menghilangkan kebosanan.

Barulah setelah di jendela terlihat hamparan padang pasir. Semua asyik mengintip ke jendela. Yang di baris tengah pun menumpang melihat. Semua seperti kembali bernyawa. Tujuan semakin dekat. Asyik melihat dan membahas padang pasir.

Ketika pesawat landing, udara panas seperti sudah terasa. Orang-orang sibuk dengan ponselnya. Ada yang mengaktifkan paket roaming. Bahkan ada yang langsung memberi kabar keluarga di tanah air. Semua sibuk dengan ponselnya. Suara dering terus bergantian. Salah satunya disebabkan SMS dari operator mengenai layanan roaming dan lain sebagainya.

Setelah masuk ke bandara barulah, mulai melupakan ponsel. Karena selanjutnya harus antre di Imigrasi Arab Saudi, yang ternyata cukup dikenal lelet dalam pelayanan. Urusan imigrasi selesai, jemaah umrah menuju bis masing-masing. Hari beranjak malam. Mereka pun menuju tujuan masing-masing. Ada yang ke Mekkah ada yang ke Madinah.

Beberapa hari di Madinah, saya dan rombongan menuju Kota Mekkah. Minggu (28/10) malam, kami sampai di Mekkah. Melaksanakan umrah dan ibadah lainnya seperti di Madinah. Sehari di sana, (Senin, 29/10) terjadilah peristiwa Lion Air JT 610.

Jemaah umrah, mengetahui dari berita-berita yang berseliweran di media elektronik dan media sosial. Mulai dari grup WhatsApp, Facebook, Instagram dan Twitter memposting kejadian itu. Tak terlalu heboh memang. Namun juga membuat cemas. Kami pulangnya naik Lion Air dari Jeddah ke Surabaya.

Kecemasan itu pun akhirnya terlontar. Dua ibu-ibu dari kelompok kami, menegur saya. Saat itu kami kebetulan sama-sama keluar dari pintu kamar hotel. “Pak besok pulangnya, jangan lagi main ponsel di pesawat ya!,” kata ibu Suwarti diamini adiknya Juwariyah.

“Saya lihat bapak dan anak bapak, selama di pesawat main ponsel terus. Kami takutnya pak, nanti seperti kejadian di tempat kita (Lion Air JT JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang, red),” katanya lagi.

Saya sempat jelaskan, bahwa pakai mode pesawat tidak masalah. “Pokoknya jangan pak. Kami takut.” Saya pun akhirnya diam. Apalagi istri saya juga mulai ikut mengingatkan.

Saat pulang, ponsel langsung saya matikan di pesawat. Tapi ponsel anak saya gak mau mati. Dimatikan setelah beberapa detik kembali menyala. Istrinya saya sampai kesal. Ya akhirnya, terpaksa ponsel tetap menyala dengan mode pesawat.
Karena capek, kami tak lagi mengurusi ponsel. Karena tidur lebih menyenangkan, dan hanya terbangun saat makanan datang dan waktu salat. Akhirnya kami tiba di Surabaya dengan lebih banyak tidur. (*)

News Feed