oleh

Disperindag Terus Lakukan Pembinaan IKM

Kopi Selangit dan Tiga Putri TPK merambah pasar modern. Kopi yang diproduksi di Kabupaten Musi Rawas itu tidak lama lagi dijual di Trans Mart Palembang dan Hypermart Kota Lubuklinggau.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Musi Rawas, H Nito Maphilindo melalui Kepala Bidang (Kabid) Perindustrian, A Insan Setiawan B, ST, MAP mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang mempersiapkan untuk memasarkan Kopi Selangit dan Tiga Putri TPK ke Trans Mart Palembang dan Hypermart Kota Lubuklinggau.

“Selama ini selain dijual di warung, toko dan Indomart yang ada di Musi Rawas. Nanti akan masuk Trans Mart Palembang dan Hypermart Kota Lubuklinggau, pihak manajemen sudah setuju,” katanya kepada Linggau Pos kemarin.

Dengan masuknya Kopi Selangit dan Tiga Putri TPK ke pasar modern artinya kopi produksi IKM binaan Disperindag dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Musi Rawas mampu bersaing dengan produk sejenis. Menurutnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Rawas di bawah kepemimpinan Bupati Musi Rawas H Hendra Gunawan dan Wakil Bupati Hj Suwarti komitmen untuk meningkatkan perekonomian masyarakat melalui IKM.

Untuk menghasilkan produksi yang baik harus memiliki bahan baku, Sumber Daya Manusia (SDM) dan teknologi yang baik. Disamping itu agar produk laku di pasaran, kemasan dan pemasaran harus baik pula.

“Untuk itulah, kita berikan pelatihan manajemen, pemasaran dan keuangan,” ucapnya

Keberhasilan Kopi Selangit dan Tiga Putri TPK mampu bersaing karena pelaku IKM kopi sudah dibekali pelatihan di Lamongan Jawa Timur. Pelatihan yang diberikan mulai dari pengolahan kopi pasca panen, roasting kopi (sangrai kopi), cara membuat minuman kopi.

“Pelatihan yang kita berikan dari hulu hingga ke hilir. Kita bisa tahu kopi itu nikmat setelah diminum maka dari itu pelaku IKM kopi harus mampu membuat bubuk kopi enak dan nikmat ketika dibuat minuman kopi,” jelasnya.

Tidak hanya itu, Disperindag Kabupaten Musi Rawas juga memberikan alat roasting kopi dan pelaku IKM Kopi Selangit dan Tiga Putri TPK akan dibekali pelatihan digital marketing online.

“Ternyata, kopi yang disangrai dengan cara lama rasa kopinya pahit dan gosong. Sangat beda rasanya kopi yang disangrai menggunakan alat roasting modern, rasa kopinya benar-benar beda, nikmat sekali. Bahkan menurut penikmat kopi, Kopi Selangit jenis Robusta tapi ada rasa Arabica,” paparnya.

Selain itu, mengembangkan Kopi Selangit dan Tiga Putri TPK, Disperindag dan Dekranasda Kabupaten Musi Rawas juga mencitakan ikon pakaian khas Kabupaten Musi Rawas.

“Kita menciptakan Bajumsong merupakan perpaduan batik jumputan dan songket disatukan dalam satu bahan pakaian dan kain,” jelasnya.

SDM sudah dibekali pelatihan untuk belajar membatik di Pekalongan, sedangkan jumputan dan songket mendatangkan instruktur dari Palembang. Insan Setiawan menjelaskan SDM yang membuat Bajumsong utusan dari perwakilan dari 14 kecamatan yang ada di Kabupaten Musi Rawas mereka diberikan pelatihan membatik dengan mendatangkan instruktur dari Pekalongan. Selanjutnya diseleksinya diambil enam besar terbaik untuk memperdalam pelatihan membatik di Pekalongan.

Disamping dibekali pelatihan juga diberikan peralatan membatik. Dan juga akan dibekali pelatihan digital maketing online. Mengenai pelatihan digital marketing online ini dijadwalkan akan dilaksanakan pada akhir April serentak dengan pelaku IKM Kopi Selangit dan Tiga Putri TPK.

Pelatihan digital marketing online untuk meningkatkan kemampuan pelaku IKM menjual barang secara online. Dengan adanya sistem penjualan online masyarakat yang tinggal di luar Kabupaten Musi Rawas dapat membeli produk Kabupaten Musi Rawas baik itu Kopi Selangit, Tiga Putri TPK dan Bajumsong.

Hingga sekarang Disperindag dan Dekranasda terus mengembangkan Bajumsong serta terus melakukan pelatihan yang diajarkan oleh tenaga terampil yang membuat Bajumsong saat ini di Dekranasda.

“Setiap Rabu dan Jumat diadakan pelatihan di Dekranasda,” ucapnya.

Bahkan pelajaran membuat Bajumsong ini akan dimasukkan pada pelajaran ekstrakurikuler.

“Bajumsong akan go to school, agar semakin banyak generasi penerus yang bisa membuat Bajumsong,” jelasnya.

Menurutnya batik membudaya di Yogyakarta karena generasinya terus diajarkan cara membatik melalui ekstrakulikuler.

“Sehingga banyak sekali yang bisa membatik, dan mereka terus melakukan inovasi,” ungkapnya.

Owner Kopi Selangit Fatkhurrozi (28) mengaku omzet penjualan Kopi Selangit meningkat sejak diberikan pelatihan di Lamongan, Jawa Timur.

“Dulu sebelum saya ikut pelatihan hanya mampu menjual rata-rata 10 Kilogram (Kg) per minggu atau 40 Kg per bulan. Setelah mengikuti pelatihan penjualan rata-rata 200 Kg per hari. Namun sedang musim banyak kegiatan seperti saat ini mencapai 500 Kg hingga 1 ton per bulan,” akunya.

Menurut Fatkhurrozi, rasa kopi produksinya setelah ikut pelatihan memang beda terasa lebih nikmat. Rasa kopi lebih nikmat dan didukung kemasan yang bagus sehingga omzet penjualan Kopi Selangit meningkat,” ungkapnya.

Fatkhurrozi merintis usaha kopi sejak tahun 2010. Saat itu usaha jasa penggilingan kopi. Sering berjalannya waktu ia mulai menjual kopi bubuk tanpa merek dengan dikemas plastik transparan pada 2015. Walaupun kopi tanpa merek masyarakat menyebut kopi produksi Fatkhurrozi, Kopi Selangit maka dari itulah diberi nama Kopi Selangit.

“Saat itu hanya dipasarkan di Kecamatan Selangit dan sekitarnya,” ungkapnya.(05)

Rekomendasi Berita