oleh

Dipanggil dan Dimarahi Bos Parno, Diultimatum Tiga Bulan

Oleh: Solihin

Walaupun Bos Parno sebulan sekali mengunjungi kami, tetapi kehadiran Bos Parno sangat berharga sekaligus jadi motivasi. Terbukti dengan serba keterbatasan fasilitas dari perusahaan dan pengalaman dibidang jurnalistik, kawan-kawan mampu membuat Linggau Pos menjadi bacaan utama masyarakat “Bumi Silampari” sehingga koran dengan slogan Pertama dan Terbesar di Bumi Silampari ini terus maju dan berkembang.

Kurun waktu satu bulan Linggau Pos mampu mewarnai bisnis media massa di Kabupaten Musi Rawas (Mura), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Walaupun saat itu ada dua koran regional yang terbit di Palembang, yakni Sumatera Ekspres dan Sriwijaya Post, jumlah cetak dan jual Linggau Pos terus naik. Bahkan Tim Bagian Pemasaran yakni Candra dan Supar Teman (sebelumnya tertulis Syamsul Komar) mulai mengembangkan wilayah pemasaran, dengan membuka agen-agen koran Linggau Pos baru, seperti pembentukan agen di Kecamatan Tugumulyo, Kecamatan Muara Rupit, dan Kecamatan Megang Sakti.

Sementara untuk pengembangan pemasaran di luar Kabupaten Mura, dengan dilakukan penunjukan agen baru di Kota Tebing Tinggi Lahat (saat itu belum dimekarkan menjadi Kabupaten Empat Lawang), dan Kota Curup Kabupaten Rejang Lebong Bengkulu, serta pembentukan agen baru di Sarolangun, Provinsi Jambi.

Pada 12 Februari 2002 Linggau Pos berusia satu tahun. Ulang tahun Linggau Pos pertama dirayakan sangat sederhana, hanya pembacaan Al-Qur’an Surah Yasin, doa bersama, dan pemotongan nasi tumpeng.

Kegiatan ini dilaksanakan di lantai dasar beralaskan tikar. Tumpeng yang dipotong Pak Wargo selaku PU/Pemred diserahkan kepada karyawan termuda, Iswahyuni.

Satu tahun Lingga Pos, pertumbuhan oplah cetak dan jual terus meningkat. Bahkan sudah cetak lebih dari 1.000 eksemplar per hari.

Untuk membangun kepercayaan dan menarik minat baca masyarakat terhadap Linggau Pos, selaku Pemimpin Redaksi Pak Wargo Purtanto terus mengingatkan para wartawan untuk mencari dan menyajikan berita yang aktual, faktual, objektif, lengkap, dan menarik.

Saya baru ingat tempat rapat redaksi itu di lantai 2 dan duduk di lantai beralaskan tikar. Posisi meja komputer yang digunakan wartawan mengetik berita menghadap ke dinding.

Begitu Pak Wargo mengajak rapat proyeksi, wartawan sedang mengetik berita, beranjak dari kursi, langsung duduk di atas tikar, karena tempat rapat proyeksi tepat di belakang wartawan, atau di tengah ruang redaksi dan belum ada meja khusus untuk rapat proyeksi redaksi.

Linggau Pos mulai dibaca secara luas, sejak adanya kejadian pembunuhan terhadap seorang anggota Brimob di depan simpang Jalan Kelabat, dan korbannya lari dan terjatuh di seberang jalan depan kantor Linggau Pos. Kejadian berdarah menelan korban jiwa ini, disajikan beberapa hari sebagai berita utama halaman satu Linggau Pos dengan lengkap.

Sebagai koran lokal dan pendatang baru, pertumbuhan itu dinilai cukup baik. Tetapi, untuk omzet iklan masih sangat minim.

Di sisi lain, dalam kurun waktu satu tahun Linggau Pos berdiri, sudah beberapa wartawan resign (mengundurkan diri) dan diganti wartawan baru. Salah satu penyebabnya, profesi jurnalis (wartawan) berat.

Belum lagi risiko saat mencari dan mengumpulkan data di lapangan, efek dari tulisan yang dimuat, wartawan kadang diancam oleh orang atau sekelompok orang, yang tidak terima dengan berita yang diterbitkan. Jadi bukan hanya dimarahi dan dimaki, terutama berita-berita yang terbit sifatnya kontrol sosial. Dengan tugas yang berat dan risiko tinggi, tidak sesuai dengan penghasilan (gaji) yang diberikan perusahaan.

Disamping itu, juga terjadi penurunan kekompakan, karena adanya kesalahpahaman dan kontrol emosi yang kurang baik.

Memang sebagian besar wartawan atau karyawan tergabung di Linggau Pos saat itu masih usia muda. Ini membuat kondisi lingkungan pekerjaan tidak kondusif dan sangat mengganggu kinerja perusahaan.

Saya lupa hari dan tanggalnya, tapi masuk tahun ke dua Linggau Pos terbit, Bos Parno ke Lubuklinggau.

Begitu turun dari mobil masuk ke kantor Linggau Pos, tampak raut wajah Bos Parno kurang ramah. Mungkin dia menahan emosi. Begitu masuk kantor, saya dipanggil dan dimarahi.

Saya sadar, Bos Parno marah tersebut karena mendapat laporan, entah dari siapa karena kesalahpahaman saya dengan salah seorang karyawan di bagian pracetak. Saya akui memang salah dan sangat keliru, karena tidak mampu mengelola emosional dengan baik.

Bukan itu saja. Di lingkungan karyawan terkesan ada kelompok-kelompok, terutama karyawan staf keuangan, iklan dan pemasaran dengan redaksi. Akibatnya, kawan-kawan kurang kompak dan saling curiga. Kondisi ini berdampak menurunnya kinerja perusahaan.

Karena turunnya kinerja keuangan perusahaan, sebagai bentuk kekecewaan Bos Parno kepada saya dan kawan-kawan, Juni 2002, Bos Parno pernah melontarkan ide untuk menjadi Linggau Pos sebagai suplemen Sumatera Ekspres. Dan Bos Parno memberikan ultimatum tiga bulan (hingga September 2002), kalau kinerja keuangan Linggau Pos tidak baik, maka Linggau Pos jadi Suplemen Sumatera Ekspres (Linggau Pos tutup).

Tapi Bos Parno tidak sekedar memberikan ultimatum. Setelah meminta pendapat Pak Wargo, Saya dan Rusmila, saat itu juga dia melakukan pembenahan terutama di bagian keuangan, iklan, pemasaran, dan redaksi.

Kemudian Linggau Pos pindah cetak, dari Percetakan PT Bengkulu Grafika Pers, percetakan Koran Semarak Bengkulu (sekarang percetakan Rakyat Bengkulu), cetak di percetakan PT Sumex Intermedia (percetakan Sumatera Ekspres) di Palembang.

Untuk penanggung jawab keuangan sebelumnya dipercayakan kepada Hasan, dialihkan ke Rusmila. Jadi Rusmila, disamping penanggung jawab keuangan (belum ada struktur Kepala Bagian Keuangan) merangkap kasir.

Hasan pindah ke kantor Sumatera Ekspres, sebagai perwakilan Linggau Pos di Palembang. Hasan bertugas menarik berita Linggau Pos yang sudah dilayout dalam bentuk halaman siap cetak. Yang dikirim dari pracetak Linggau Pos via modem, untuk diteruskan ke percetakan.

Sementara penanggung jawab iklan Dian Widyasari (sekarang Kabag Iklan Linggau Pos), bersama beberapa orang Acounting Eksekutif (AE) Gunawan, dan Sabar. Tugas AE saat itu menawarkan para pemilik toko yang ada di Pasar Inpres dan toko-toko di sepanjang Jalan Yos Sudarso, untuk memasang iklan di Linggau Pos.

Alhamdulillah, berjalan lebih kurang dua bulan, ada perubahan yang sangat luar biasa, karena semangat kerja sama kawan-kawan untuk maju terbangun kembali. Bisa saja semangat itu muncul takut Linggau Pos ditutup dan jadi Suplemen Sumatera Ekspres.

September 2002, perkembangan Linggau Pos luar biasa. Melihat pertumbuhan Linggau Pos sangat baik, maka muncul ide Bos Parno untuk membangun gedung kantor Linggau Pos. (bersambung)

Rekomendasi Berita