oleh

Dicegah dengan Pendekatan Agama

Ulama H Moh Atiq Fahmi, Lc

H Moh Atiq Fahmi, Lc mengaku terkejut sekaligus prihatin dengan kasus yang terjadi di Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas, Selasa (4/12) malam.

Kasus ini, menurutnya bisa dicegah, dengan pendekatan agama. Yakni iman, Islam dan ikhsan.

“Memang yang paling berat itu ikhsan. Ikhsan itu menjadikan seorang hamba menyadari bahwa Allah SWT tak pernah luput mengawasi setiap gerak kita,” jelasnya.

Namun kondisinya saat ini, kata Pimpinan Pesantren Modern Ar Risalah itu, ketika manusia berbicara tentang keluarga, justru dijauhkan dari Tuhan.

“Mereka berpikir rumah tangga itu sebatas ada rumah, ada kendaraan, ada anak, ada suami dan ada istri. Dan sayangnya mereka tidak berpikir harus adanya nilai agama dalam diri mereka,” jelas alumni AL-Ahqaaf University Yaman ini.

Ia menjabarkan, dalam Islam ketika ada istri yang melakukan pertentangan (melawan) terhadap suami. Beberapa tahapan proses harus dilakukan seorang suami.

Pertama, istri dinasihati. Ini pun prosesnya panjang bukan hanya sekedar diomongi. Tak hanya suami, kadang ada seseorang yang bisa jadi penengah bisa juga memberi nasihat. Itu pun, kata dia, bukan dalam sehari, dua hari atau sebulan. Sampai pada masa suami sudah tawakal kepada Allah SWT.

Kedua, lanjut Ustadz Fahmi, kalau dinasihati belum bisa juga, dilakukan pisah ranjang (introspeksi).

“Pisah ranjang ini tujuannya, agar ketika mereka berpisah sementara itu, akan terasa bagaimana hampanya hidup tanpa suami/tanpa istri. Inilah momen untuk mengoreksi diri,” jelasnya.

Namun, seandainya memang istri sudah pada tingkatan mencaci maki, atau mungkin berkata kotor, ada celah bagi suami untuk memukulnya.

“Namun yang penting diingat, memukul dalam artian bukan di muka atau bentuknya penganiayaan. ‘Memukul’ ini konotasinya dari membawa perkara ini ke pengadilan minta nasihat,” imbuhnya.

Kalau semua opsi tadi sudah diambil, bukan jalur pembunuhan ending-nya.

“Coba sama tersangkanya RS ini ditanya, apakah setelah membunuh timbul rasa puas? Secara manusiawinya pasti dia menyesal. Ingat ya, bukan semua masalah ini akan tuntas jika diselesaikan dengan kekerasan. Tapi dengan agama. Ayo kalau bukan jalan agama, dari mana? Ilmu alam? Matematika? Semua tidak bisa selesai. Kecuali minta pertolongan Allah SWT,” jelas Ustadz Fahmi lagi.

Oleh karena itu, ia mengajak agar umat muslim mengingat kembali, bahwa manusia ini terdiri dari empat komponen. Ada akal, hati, nafsu, dan fisik.

Empat komponen ini harus tumbuh bersama, ‘dipagari’ nilai-nilai agama.

Makanya dalam berkeluarga, kata dia, jangan mengisi hiburan telinga saja, jalan-jalan ke mall saja untuk memenuhi nafsu.

“Saran saya, perlu di rumah itu memanggil orang-orang bijak atau datang ke tempat-tempat yang bisa memberikan signal-signal agama. Dan untuk memahami agama jangan istri saja, suami juga harus mengaji dan belajar. Karena suami itu nahkodanya,” terangnya lagi.

Namun, situasi saat ini menurutnya pemerintah juga masih terlalu fokus pada kesejahteraan fisik. Tapi kepuasan keimanan, keislaman dan keihsanan justru berkurang.

“Saran saya, langkahnya mudah. Pemerintah bekerja sama dengan ulama. Dan ulama difasilitasi untuk membentuk masyarakat dari sisi agama,” pintanya.(05)

Komentar

Rekomendasi Berita