oleh

Di mana Engkau Berada Ayah?

Ini kisah saya. Sebut saja saya Putri. Saya tinggal di Kecamatan Lubuklinggau Timur I. Saat ini aku berusia 23 tahun. Aku merindukan sosok seorang ayah yang entah di mana keberadaannya sekarang.

Dengan tangisan pertamaku di dunia, aku berharap mendapat sambutan dari kedua orang tuaku yakni, sosok seorang ibu dan ayahku. Tetapi harapan itu hanya ada dalam khayalan ku, ayah tidak menggendongku, bahkan tidak menghapus air mataku, tetapi ayah malah melukai kehidupanku.

Sekarang aku sudah besar ayah, tetapi kenapa kamu yang tak pernah ada. Haruskah aku membencimu dengan nasibku ini, namun bagaimanapun engkau adalah ayahku.

Apa salahku kenapa kamu buat ibu yang melahirkanku terluka dan membuat aku tersiksa tidakkah sedikit pun kamu bahagia karena aku telah ada.

Aku sangat menyayangimu ayah, tetapi lagi dan lagi hati kecilku bertanya kenapa kamu menyakiti ibu dan aku. Sampai kini pertanyaan itu yang selalu menghalangiku untuk tidak membencimu Ayah.

Aku hanya seorang anak, membenci ayah pun sangat berdosa bagiku. Adakah kalimat yang terdengar lebih baik dari membenci untuk mengungkapkan kekecewaanku padamu.

Beribu nasihat mendatangiku agar aku tidak membencimu, aku pun tidak ingin membencimu. Aku selalu mendoakanmu, aku selalu menyayangimu, meski ingatan buruk tentangmu masih selalu membayangi hidupku.

Ayah seharusnya kamu tahu, ini bukan hanya tentang nafsu dan egomu, ini pertanggung jawabanmu kelak pada Tuhan tentang anak dan istrimu, apa yang kamu ucap kelak pada Tuhan dan kamu telah menyakiti ibu, dan melukai anakmu.

Ibu mencintaimu sepenuhnya, ibu menerimamu apa adanya, tetapi kamu begitu kejam melukainya. Ini bukan lagi soal pacaran yang bisa putus begitu saja, ini tentang sebuah pernikahan, dan aku pun telah menjadi buah cinta kalian. Tetapi begitu mudahnya kamu hancurkan segalanya.

Bukan cuma perasaan ibu, tetapi kehidupanku, kehancuran cintamu pada ibu berakibat hancurnya juga kehidupan anakmu ayah, dan seharusnya kamu tahu itu.

Bagiku sudah cukup hidup bersama ibu. Ibu adalah alasan kenapa aku harus tetap kuat. Tetapi hati kecilku tak pernah merasa cukup karena tidak ada ayah bersamaku.

Aku ingin tahu rasanya bermain bersamamu ayah, aku ingin tahu rasanya bercanda bersamamu, aku ingin tahu rasanya dilindungi ayah jika ada teman lelaki yang jahat padaku. Aku hanya ingin tahu rasanya jika hidup ini ada bersamamu.

Lagi dan lagi aku hanya bisa memendam keinginanku, menghela nafas kerinduanku. Rindu yang tak pernah menemui kerinduannya.

Sejak kecil aku selalu bertanya pada ibu, apa yang terjadi, kenapa ayah pergi, tapi ibu tak pernah mau menjawab, ibu selalu bercerita semua yang baik tentang ayah, betapa tidak tahunya ayah bahwa ayah telah meninggalkan malaikat seperti ibu.

Sampai kini aku beranjak dewasa, aku mulai menemukan semua jawaban pertanyaanku semasa kecil. Kenapa ayah pergi meninggalkan aku dan ibu, kenapa ayah tak tinggal dirumah bersama aku dan ibu, kenapa ayah tak seperti ayah yang lain yang selalu pergi bersama ibu dan anaknya.

Aku sedih, aku kecewa mengapa keluargaku tidak utuh seperti keluarga lainnya, tetapi aku sadar sungguh jahatnya aku jika hidup bersama malaikat seperti ibuku aku tak mensyukurinya. Meski mataku tak mampu menahan air mata keinginan setiap kali aku melihat keluarga utuh yang seutuh utuhnya.

Aku selalu mengingat masa kecilku, di mana aku selalu bertanya pada ibu. Kenapa temanku diantar ke sekolah oleh ayahnya, ketika ada tugas bercerita di depan ke kelas tentang sosok ayah, aku pun harus bertanya dulu padamu bu, tidak langsung bercerita tentang apa yang aku rasa tentang ayah seperti anak lainnya.

Aku masih beruntung ketika aku kecil masih ada ibu yang selalu menutupi semua kebingunganku, yang selalu melindungi keresahan hatiku. Dan kini aku dewasa, aku tidak bisa terus membebani ibuku dengan semua pertanyaanku, kini aku menyimpan semuanya sendiri, dan apakah ayah tahu, sampai aku sedewasa ini, aku masih terus dihantui beribu pertanyaan yang membuatku iri.

Maafkan aku Tuhan, meski sehebat apapun aku menutupi keikhlasanku, aku tetap saja tidak bisa menahan rasa iriku ingin dipeluk ayah seperti anak lainnya, ingin dijemput ayah, ingin ditelpon ayah, bahkan ingin dikhawatirkan oleh seorang ayah.

Entah setan mana yang telah merasukimu ayah, sampai kau tega menghancurkan keluargamu sendiri. Seharusnya kamu bersyukur telah menikah dan memiliki anak. Aku dan ibu tak pernah meminta apapun, tak pernah menginginkan kamu jadi apapun, cukup jadi suami dan ayah yang baik, tetapi itu saja pun kamu tak bisa memenuhinya.

Kamu telah membuatku merasa bersalah ayah. Membencimu pun aku berdosa, tetapi menerimamu kembali dan memaafkanmu sungguh aku masih tak kuasa ayah. Setiap anak tumbuh dari apa yang telah dia dapat dari kehidupannya.

Aku selalu berdoa, semoga ayah bahagia dengan pilihan jalan hidup ayah. Berdoa untuk kebaikanmu adalah caraku agar aku tidak larut dalam dosa karena tak juga bisa melupakan semua yang telah ayah lakukan.(19)

Komentar

Rekomendasi Berita