oleh

Di Bumi Silampari, Enam Orang Tewas Bunuh Diri

LINGGAUPOS.CO.ID – Enam orang bunuh diri sepanjang Januari-Juli 2020. Tiga warga Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), dua warga Kota Lubuklinggau dan seorang warga Kabupaten Musi Rawas (Mura). Sebagian dari mereka meninggal pada usia muda, bawah 40 tahun.

Terakhir, kejadiannya di Kabupaten Muratara, 8 Juli 2020. Kapolres Muratara Adi Witanto menjelaskan korban yang meninggal bunuh diri ini Ramlan (70) warga Desa Krani Jaya, Kecamatan Nibung.

Penyebabnya, diduga karena gangguan jiwa. Dua kasus sebelumnya, merenggut nyawa Yar (38) warga Muara Rupit dan wanita inisial FY (29) warga Kecamatan Rawas Ilir. Keduanya bunuh diri karena diduga karena himpitan ekonomi.

Sementara di Kota Lubuklinggau dua kasus bunuh diri, salah satunya merenggut nyawa Warim. Remaja 17 tahun yang tinggal di Jalan Dayang Torek Kelurahan Lubuk Tanjung. Warim nekat menenggak racun rumput karena diduga putus asa sang pacar ingin dilamar orang lain.

Bunuh diri karena kekecewaan juga dilakukan Hanif Sutardi (28) warga Jalan Cempaka Kelurahan B Srikaton Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas.

Psikolog Universitas Bengkulu, Aidil Fitriansyah saat dibincangi membenarkan jika kasus bunuh diri akhir-akhir ini cukup rentan terjadi. Khususnya rentan terjadi pada usia produktif. Ada juga bunuh diri dilakukan remaja yang belum menikah. Semua disebabkan kepribadian yang rapuh, tidak bisa menerima kenyataan yang ada dan seseorang yang gampang putus asa.

“Hal ini karena pola asuh, lingkungan dan pendidikan baik di rumah yang sudah berbeda. Dulu polanya lebih diajarkan kemandirian. Sedangkan sekarang lebih ke instan. Sehingga anak-anak maupun remaja saat ini kurang memiliki daya tantang dan daya juang. Dampaknya, mereka gampang putus asa, merasa tidak berguna, kurang dihargai ujung-ujungnya memutuskan untuk bunuh diri,” jelasnya.

Aksi bunuh diri diakui Aidil, sulit dikenali ciri-cirinya. Tidak bisa langsung dikenali hanya lewat fisik. Hanya saja, ketika ada anak yang mengatakan ingin bunuh diri, jangan dianggap sepele dan perlu dilakukan pendampingan.

“Karena kadang ada juga anak yang latah bilang akan bunuh diri, tetapi hanya untuk mengancam. Makanya sebetulnya sulit dikenali. Semuanya harus dilihat dari apa permasalahan yang sedang dihadapi, kepribadiannya seperti apa, cara dia menyelesaikan atau menghadapi masalah seperti apa, tidak cukup hanya dari fisik,” ungkapnya.

Kasus Bunuh Diri Tahun 2020:

KABUPATEN MUSI RAWAS

1) 22 Februari 2020
– Korban Hanif Sutardi (28) warga Jalan Cempaka Kelurahan B Srikaton Kecamatan Tugumulyo
– Motif: Permintaan tak terpenuhi

KOTA LUBUKLINGGAU

1) 15 Januari 2020
– Korban Hani Safira (22) asal Nagrek, Bandung, Jawa Barat dan Dedi Ariyesta (40) warga Jalan Kancil Putih, Demang Lebar Daun, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang.
– TKP : Kamar Cafe Gaul, Kelurahan Belalau I
– Motif: Belum terungkap

2) 13 Juni 2020
– Korban Warim (17) warga Jalan Dayang Torek Kelurahan Lubuk Tanjung
– Motif: Asmara

KABUPATEN MURATARA

1) 26 Februari 2020
– Korban wanita inisial FY (29) – Warga Kecamatan Rawas Ilir
– Motif: Himpitan ekonomi

2) 5 April 2020
– Korban Yar (38) warga Kelurahan Muara Rupit
– Motif: Kehilangan pekerjaan

3) 8 Juli 2020
– Korban Ramlan (70) warga Desa Krani Jaya, Kecamatan Nibung
– Motif: Gangguan jiwa. (*)

Sumber: Harian Pagi Linggau Pos

Rekomendasi Berita