oleh

Deteksi Dini Tsunami Lewat Pemancar di Garis Pantai

Bicara Lebih dekat Soal Mitigasi FIN bersama Inovator 4.0

Deteksi Dini Tsunami Lewat Pemancar di Garis Pantai Idenya terlihat biasa, tapi jika diterapkan, bisa mengurangi korban bencana. Bahkan, jika peringatan diindahkan, tak ada lagi korban bencana. Henny Vidiarina, wanita yang tergabung dalam tim Inovator 4.0 blak-blakan kepada wartawan Fajar Indonesia Network.

KHANIF LUTFI – Jakarta

Meminimalisasi korban bencana bukan perkara mudah. Butuh inovasi serta terobosan. Teknologi yang digunakan juga harus mumpuni. Bukan sekadar wacana, tapi harus direaliasasikan. Seperti yang diinisiasi Henny Vidiarina.

Ibu dua anak tersebut bercerita. Jika dulu pemerintah hanya fokus pada penanggulangan bencana.

Saat ini peringatan dini menjadi solusi terbaik untuk mengurangi korban bencana. Tapi bukan perkara mudah, karena butuh kolaborasi penuh semua pihak.

Menurutnya, teknologi yang saat ini dimiliki badan pemerintah, seperti BMKG, BNPB bahkan TNI dan Polri sudah cukup canggih. Jika semua alat itu dirangkai dan dibuat jadi satu kesatuan, dipastikan tidak ada lagi ratusan nyawa melayang sia-sia.

Disaster Management Expert dan Ketua Bidang Kedaruratan dan Mitigasi Bencana, dari Relawan Inovator 4.0 ini mencontohkan tsunami yang melanda Banten dan Lampung tidak bisa diprediksi karena minimnya perangkat deteksi dini.

“Kami sudah menghitung ada 280 hektar wilayah di puncak Anak Krakatau yang sangat rentan longsor dan akan menyebabkan tsunami yang lebih besar dan luas lagi.Jadi kalau 60 hektar longsor menyebabkan tsunami seperti yang terjadi di Pandeglang dan Lampung pada Sabtu malam, maka bisa dibayangkan kalau 240 hektar yang akan runtuh, katanya.

Ia menyampaikan bahwa sistim deteksi dan peringatan bencana yang dimiliki oleh BMKG selama ini memang disiapkan untuk kegempaan bukan kejadian longsor seperti yang terjadi di Gunung Anak Krakatau.

Sekarang dibutuhkan sebuah sistim dan alat yang bisa mendeteksi longsoran dan gelombang dan memberikan peringatan berpotensi tsunami. Sehingga masyarakat bisa dievakuasi lebih dahulu sebelum gelombang datang ke pinggir pantai, ujarnya.

Saat ini, sambungnya, Inovator 4.0 tengah mengembangkan sebuah tehnologi yang akan memperkuat sistim deteksi dan peringatan dini bencara akibat longsoran dari gunung api. Sistim dan peralatan ini diharapkan bisa digunakan di daerah-daerah gunung berapi yang berpotensi longsor.

Alat deteksi ini akan dipasang 100 km dari garis pantai di gunung-gunung api di tengah laut seperti Gunung Anak Krakatau dan yang lainnya, jelasnya.

Lebih lanjut Henny bercerita, awalnya, dirinya tidak fokus kepadaperingatan dini bencana.

Meskitelah malang melintang sejak medio 2000-an, ia hanya fokus kepada penanggulangan saja.

Sebut saja, tsunami Aceh, banjir bandang Wasior, erupsi gunung merapi, Henny langsung turun ke lapangan. Ikut membantu para korban.

Dari pemancar ini, sinyal akan direlay ke pemancar yang berada di garis pantai. Pemancar ini nantinya bisa bermacam-macam mengeluarkan peringatan.Bisa berupa suara, bisa berupa sms yang masuk kepada orang di sekitar pantai, radio yang mati bisa hidup dan memberi informasi, begitu juga aplikasi di smartphone. Bisa langsung tersambung dan memberitahukan jika akan terjadi tsunami, katanya ibu 50 tahun tersebut.

Bisa dibilang, jika teknologi peringatan dini sudah diterapkan, masih ada waktu sekitar 10 menit untuk pergi ke tempat yang lebih tinggi. Petugas seperti TNI, Polisi dan Basarnas juga bisa langsung ke lapangan untuk membantu mengevakuasi warga.

Kata Henny, jika nantinya sistem peringatan dini sudah bisa digunakan, Indonesia merupakan negara pertama di dunia yang menerapkan teknologi ini. Ya, tapi ini butuh kerja keras. Tak semudah membalikkan telapak tangan.

Ya, pemerintah juga positif menyambut idenya. Beberapa rapat juga tengah dilakukan untuk membahas. Hanya saja, saat ini pemerintah tengah fokus kepada bencana yang baru saja terjadi.

Wajar, karena semua pihak sedang sibuk. (*/fin/tgr)

Rekomendasi Berita