oleh

Desak Ungkap Aktor Intelektual OTT

LINGGAU POS ONLINE, CURUP – Sekitar pukul 09.00WIB Rabu (22/11) belasan pendemo dengan koordinator Lembaga swadaya Masyarakat (LSM) Pekat mendatangi kantor Polres Rejang Lebong dan Kejaksaan Negeri (Kejari) Curup di Kelurahan Dwitunggal Curup.

Kedatangan mereka memberikan support dua oknum ASN di lingkungan Pemda Rejang Lebong, terjaring OTT beberapa hari lalu. Dengan dua tersangka Sf sebagai Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD) Rejang Lebong dan Rp menjabat bendahara rutin.

Selain memberikan support pada jajaran kepolisian, mereka meminta agar mengungkap siapa aktor intelektual diduga terlibat dalam kasus tersebut.

Pantauan di lapangan, kedatangan belasan massa tersebut dimulai dari kawasan Kelurahan Air Putih dan melakukan long march hingga ke depan kantor Polres Rejang Lebong, yang berhadapan dengan kantor Kejari Curup.

Sebelum masuk halaman kantor Polres Rejang Lebong, mereka melakukan orasi di jalan sembari membawa bendera merah putih dan beberapa spanduk, salah satu bertuliskan “Rakyat Menanti Kinerja Ungkap di Balik Aktor di Balik OTT ASN”.

Setelah menyampaikan sejumlah orasi, mereka pun disambut jajaran petinggi Polres Rejang Lebong langsung diterima Kapolres Rejang Lebong, AKBP Napitupulu Yogi bersama jajaran dan melakukan hearing di halaman Polres Rejang Lebong.

Dalam hearing tersebut, Ketua LSM Pekat, Ishak Burandam menyampaikan kepada jajaran Polres untuk mengusut tuntas kasus-kasus korupsi di Rejang Lebong. Dengan harapan Rejang Lebong terbebas dari korupsi, salah satunya kasus OTT dengan melibatkan dua ASN.

Dalam kasus OTT dua ASN, Ishak juga mendapat informasi selain beberapa OPD, pada jajaran inspektorat juga terkena dampak pemotongan tunjangan kinerja.

“Di lingkungan inspektorat saja terkena potongan, dan inspektorat selaku penegak hukum seharusnya memberikan tindakan pada ASN, dan pemotongan tunjangan sudah berlangsung beberapa bulan,” tegasnya.

Selain kasus OTT, Ishak juga menyampaikan dugaan kasus penjualan buku di Rejang Lebong dijual di atas HET ke sejumlah sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Rejang Lebong. Bahkan, buku yang informasinya bertema “Narkoba”tersebut diterbitkan oleh provinsi lain namun diedarkan di Kabupaten Rejang Lebong.

Adanya dugaan buku-buku yang dijual di atas HET tersebut, polisi diminta untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut.

“Buku ini dijual ke sekolah-sekolah, padahal HET-nya kisaran Rp 20 ribu, namun dijual lebih di atas HET, saya berharap bisa dilakukan penyelidikan,” harap Ishak.

Sementara itu, Kapolres Rejang Lebong, AKBP Napitupulu Yogi menjelaskan, saat ini pihaknya semaksimal mungkin melakukan pengungkapan kasus-kasus korupsi yang ada di Kabupaten Rejang Lebong termasuk kasus OTT melibatkan dua ASN.

“OTT ini terus kita dalami, untuk tersangka Sf memiliki peran dalam pengelolaan keuangan daerah, dan kasus dugaan pemotongan tunjangan kinerja semuanya mengarah kepadanya,” jelasnya. Sebab, tanpa Sf, keuangan yang dikelola tidak bisa dicairkan.

Kapolres juga menyarankan, dalam pengungkapan kasus OTT ini harus melihat fakta dan data.

“Kita sarankan dalam mengeluarkan tunjangan kinerja dengan transfer ke rekening yang bersangkutan sehingga mengurangi dan mengatisipasi adanya pemotongan tunjangan,” harapnya.

Soal dugaan buku di jual di atas HET, pihaknya meminta informasi dan data agar bisa dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

“Saya harap peran aktif dan informasi dari rekan-rekan untuk pengungkapan kasus sangat dibutuhkan,” harapnya. (09)

Komentar

Rekomendasi Berita