oleh

Danau Rayo, Tempat yang Indah dengan Legenda Bujang Kurap

-Muratara-450 dibaca

LINGGAUPOS.CO.ID – Danau Rayo di Kabupaten Musi Rawas adalah salah satu objek wisata andalan kabupaten ini. Dahulu diceritakan bahwa areal yang menjadi danau adalah perkampungan.

Danau Rayo terletak di Provinsi Sumatera Selatan bagian Utara, atau lebih tepatnya di Desa Sungai Jernih Kecamatan Rupit Kabupaten Musi Rawas Utara.

Untuk mencapai ke lokasi pengunjung harus menggunakan kendaraan dan berjalan sekitar 20 menit atau jarak tempuh kurang lebih 15 Km dari ibukota Kabupaten Muratara.

Banyak informasi yang berkembang di kalangan masyarakat terkait awal mula terbentuknya Danau Rayo, sala satunya Legenda Bujang Kurap.

Banyak yang menyebutkan jika sebelum terbentuknya berupa danau, pada zaman dulu lokasi tersebut adalah sebuah perkampungan.

Dengan ditemukannya beberapa bukti yang menyebutkan itu dulunya sebuah perkampungan, ada yang namanya “Meja Batu”

Meja batu tersebut adalah anak tangga dari masyarakat karang panggung terdahulu yang tidak ikut tenggelam di dalam danau.

Disampaikan Cik Olah yang bertugas sebagai penjaga, berdasarkan cerita turun menurun yang keluarganya dapatkan, memang dahulu adalah perkampungan. “Dahulu kami sering diceritakan bahwa lokasi danau itu adalah sebuah perkampungan,” katanya, Sabtu (10/4/2021).

Selain itu juga Danau Rayo mempunyai legenda bahkan mistis yang di tengah warga Muratara, hingga Musi Rawas dan Lubuklinggau.

Apalagi bagi penduduk asli setempat. Kisah tersebut telah menjadi legenda, dan kisah Bujang Kurap telah beberapa kali diangkat dalam film di televisi.

Memang tidak sedikit versi dari kisah Bujang Kurap atau pemuda buruk rupa ini. Sama seperti legenda lainnya, kisah Bujang Kurap memiliki nasehat yakni untuk tidak menilai seseorang hanya dengan fisik atau penampilan. Kisah ini mengajarkan untuk saling menghargai.

Dikisahkan, pada zaman dahulu hiduplah seorang pemuda yang tampan, namun juga sakti mandraguna. Ada yang menyebutkan pemuda ini masih keturunan dari Si Pahit Lidah, tokoh sakti yang terkenal dengan kutukannya.

Namun ada juga yang mengisahkan pemuda ini keturunan raja di Minangkabau yang sedang mengembara. Pemuda tampan mengembara dari desa ke desa.

Di setiap desa yang disinggahinya, pemuda ini membantu warga sekitar baik pertanian hingga melatih bela diri kuntau (sejenis silat).

Setelah kampung atau desa tersebut makmur, pemuda ini melanjutkan pengembaraannya hingga singgah di daerah yang bernama Karang Panggung Lamo, konon cikal bakal Desa Desa Sungai Jernih.

Pemuda tampan itu memutuskan untuk menetap di desa tersebut, dan mempunyai ibu angkat seorang perempuan tua yang hidup sendirian.

Perempuan sebatang kara itu baik hati dan tinggal di rumah yang sedehana agak jauh dari rumah penduduk lainnya.

Perempuan tua itu sangat senang karena memilik anak yang rajin dan sangat baik. Lama – kelamaan kehadiran pemuda ini diketahui penduduk lainnya.

Muda dan mudi setempat juga berdatangan dan mereka menyukai pemuda yang tampan dan baik itu. Kehadiran pemuda itu akhirnya berdampak ke ibu angkatnya yang mendapatkan bantuan dari penduduk lainnya.

Beberapa perempuan juga ada yang jatuh hati ke pemuda yang tampan dan baik itu. Bahkan ada yang bersaing untuk mendapatkan hati pemuda tampan dan baik hati, sehingga menimbulkan persaingan dan keresahan penduduk.

Kemudian pemuda tersebut dengan kesaktiannya mengubah dirinya menjadi pemuda buruk rupa, dipenuhi penyakit kulit yakni kurap dan mengeluarkan bau tak sedap.

Benar saja, semua warga menjauh dan merendahkannya. Bahkan, pernah si Bujang Kurap lewat diludahi oleh warga. Kebaikannya yang sering membantu warga semuanya sirna tanpa bekas.

Hingga suatu ketika salah satu kembang kampung menikah. Bujang kurap datang hendak menemui mempelai wanita. Namun apa daya, tidak hanya ditolak, bujang kurap diusir dan direndahkan.

Kepada warga yang sedang berkumpul itu, bujang kurang mengatakan akan pergi dari desa tersebut jika warga bersedia memenuhi tantangannya, yakni mencabut tujuh batang lidi yang ditancapkan di tanah.

Sambil tertawa merendahkan, semua penduduk setuju. Namun satu – persatu pemuda dan warga desa lainnya tidak ada yang sanggup mencabutnya.

Hingga akhirnya bujang kurap mendekati lidi tersebut sambil berkata, jangan pernah menghina sesama manusia.

Jangan menilai seseorang hanya dari rupa. Karena manusia pada hakekatnya sama dan saling membantu dan membutuhkan.

Setelah itu, dengan kesaktiannya lidi tersebut dicabut dan keluar air dari tanah bekas lidi ditancapkan.

Tanah tersebut terus memancarkan air hingga terjadi banjir yang menenggelamkan semua yang ada dan kampung tersebut berubah menjadi sebuah danau, yakni Danau Rayo.

Warga kampung tenggelam ke dasar danau, dan Bujang Kurap hilang entah kemana. Sementara perempuan tua yang menjadi ibu angkatnya telah disiapkan rakit yang konon menjadi batu yang saat ini ada di danau tersebut.

Menurut legenda itu, bujang kurap kembali mengubah dirinya menjadi rupa asalnya yakni pria yang tampan dan melanjutkan pengembaraanya hingga sampai ke perkampungan yang kini daerah Ulak Lebar di kaki Bukit Sulap Kota Lubuklinggau. Ada sejumlah makam tua di tempat tersebut yang kononnya salah satunya bujang kurap.

Begitulah legenda bujang kurap hingga terbentuknya Danau Rayo. Cerita rakyat ini mengandung nasehat untuk tidak melupakan kebaikan orang lain. Tidak menilai orang lain dengan rupa, namun kebaikan hati yang paling utama.

Terlepas dari legenda itu, saat ini danau Rayo banyak di kunjungi bagi wisatawan, baik dari luar maupun dari dalam wilaya itu sendiri.

Pesona yang di sajikan oleh alam tentunya tidak akan mengecewakan bagi wisatawan yang berkunjung.

Meskipun banyak menyimpan segudang misteri yang belum terpecahkan, namun Danau Rayo pilihan tepat untuk berlibur di akhir pekan, disamping tidak jauh dari ibu kota, dan juga tidak terlalu menguras kantong.(*)

Rekomendasi Berita