oleh

Cetak Perdana 500 Eksemplar, Harga Jual Rp1.000

Oleh: Solihin

Sepekan menjelang Linggau Pos terbit perdana, seluruh wartawan yang telah lolos seleksi datang ke kantor di Kelurahan Jawa Kiri, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan (Sumsel). Mereka akan mendapat pembekalan.

Dalam seleksi administrasi lebih kurang ada 30 orang yang mengajukan lamaran ingin jadi wartawan Harian Pagi Linggau Pos. Namun yang lulus, mengikuti tes tertulis, serta wawancara hanya 15 orang. Mereka yang dinyatakan lulus dan diterima sebagai wartawan Linggau Pos hanya 10 orang.

Wartawan yang lolos rekrutmen, sebagian besar tinggal di Kota Palembang. Tetapi mereka siap bertugas di Lubuklinggau.

Kamis, 8 Februari 2001 pukul 08.00 WIB, Pimpinan Umum sekaligus Pemimpin Redaksi Pak Wargo yang PU/Pemred langsung memimpin rapat pertama dengan kawan-kawan redaksi (wartawan dan pracetak) untuk persiapan terbit perdana Linggau Pos, Senin, 12 Februari 2001.

Dalam rapat itu, ditetapkan wartawan-wartawan yang akan mengisi masing-masing rubrik. Untuk Penanggung Jawab (Penjab) halaman 1, halaman 3 (berita daerah meliputi wilayah kecamatan di Mura), halaman 4 (ekonomi/nasional) serta halaman 5 (politik) dipegang langsung Pak Wargo. Sementara halaman 2 (Linggau Metropolis) dan halaman 8 (BOM) Pak Wargo mempercayakannya pada saya.

Setelah rapat, semua wartawan berangkat ke lapangan untuk menemui narasumber. Ada yang jalan kaki dan ada juga yang naik Angkutan Kota (Angkot).

Pukul 14.00 WIB, kawan-kawan wartawan sudah ada yang pulang, dan langsung mengetik hasil liputannya di komputer redaksi. Komputer yang dipakai bukan komputer baru, melainkan komputer bekas redaksi Sumatera Ekspres, karena semua komputer Sumatera Ekspres diganti yang baru. Dan layar komputer masih hitam putih Pentium 5.

Setelah semua wartawan selesai mengetik hasil liputannya, saya dan Pak Wargo langsung melihat hasil ketikan kawan-kawan.

Setelah diperiksa, hampir tak satu orangpun wartawan yang menuliskan berita yang memenuhi unsur 5 W +1 H (What, Who, Whay, Where, When dan How).

Saya dan Pak Wargo memaklumi, karena wartawan kami baru belajar. Lagi pula koran Linggau Pos terbit Senin,12 Februari 2001, atau tiga hari lagi.

Tapi paling tidak, untuk berita yang akan diterbitkan hari pertama sudah dipersiapkan. Bagi tulisan mereka yang masih kurang datanya, khususnya untuk berita penggalian, diminta untuk melengkapi. Dan Minggu, 11 Februari 2001, semua bahan berita setiap halaman sudah siap.

Sekira pukul 19.00 WIB, Bos Parno menelepon.

“Dek untuk terbit besok (Senin, 12/2/2001) semua sudah cukup?”

Saya jawab “Cukup Bos.”

“Untuk berita utama halaman 1 apa?” tanya Bos Parno lagi.

“Masalah THR-gate?” jawab saya.

“Kenapa THR-gate?” timpal Bos Parno.

“Lanjutan berita yang diberitakan koran daerah termasuk Sumatera Ekspres baru-baru ini,” saya berusaha menjelaskan.

“Apa hal barunya?” Tanya Bos dengan nada penasaran.

Saya jelaskan, “Besok (Senin, 12 Februari 2001) Polres Mura akan memanggil beberapa Anggota DPRD Mura untuk dimintai keterangan, terkait dugaan penyalahgunaan dana APBD, yakni pembayaran THR Anggota DPRD Mura.”

Langsung Bos Parno jawab, “Bagus itu Dek, bilang sama Dek Wargo, ditulis dengan detail, jangan lupa semua pihak yang akan dipanggil penyidik sedapat mungkin diwawancarai, biar berimbang beritanya.”

Pukul 11.30 WIB, berita yang sudah selesai diedit dan dilayout (bentuk halaman) dikirim ke percetakan Bengkulu, dengan internet yang kala itu masih mengandalkan modem. Dan lebih kurang pukul 01.00 WIB, semua halaman sudah terkirim.

Keesokan harinya, sekira pukul 07.00 WIB, saya dan kawan-kawan sudah menunggu kedatangan koran yang baru kami buat.

Tidak lama kami menunggu pukul 07.45 WIB mobil minibus, yang mengantar koran Linggau Pos sampai.

Senangnya luar biasa.

Lalu dengan semangat, kami menurunkan koran dari dalam mobil, lalu membawanya ke teras kantor.

Cetak perdana itu 500 eksemplar, dengan harga jual Rp1.000 terdiri dari delapan halaman.

Lalu kawan-kawan pemasaran, yakni Candra dan Syamsul Komar mengantar koran itu ke agen-agen dalam Kota Lubuklinggau, yakni Agen Sehati, Melati, Syamiri, dan Yuli Agency, sesuai dengan orderannya.

Ada juga yang dititipkan di warung-warung atau rumah makan di pinggir Jalan Yos Sudarso, Pasar Satelit, Jalan Jenderal Sudirman, dan Jalan A Yani.

Selanjutnya proses penerbitan koran Linggau Pos berjalan terus, semakin hari cetak koran bertambah sesuai dengan pesanan agen dan banyaknya pelanggan baru. (Bersambung)

Rekomendasi Berita