oleh

Cegah Ledakan Penduduk, Ibu Idealnya Lahirkan Maksimal Dua Anak

-Lubuklinggau-380 dibaca

 

 

LEDAKAN penduduk 2030 hangat diperbincangkan berbagai kalangan akademisi. Tidak sedikit dari para analis menyebut, jika Indonesia tidak cerdas menyikapi hal ini, akan berdampak buruk pada peradaban bangsa. Oleh karena itu, edukasi terus dilakukan agar keluarga Indonesia bisa melahirkan generasi berkualitas. Sebagaimana yang dilakukan Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana (IpeKB) Kota Lubuklinggau.

Bagaimana proses edukasi, dan apa sebenarnya ancaman ledakan penduduk . Untuk menjawab pertanyaan ini, kami telah berbincang dengan Ketua IpeKB Kota Lubuklinggau, Aris Sutrisno.

Apa kabar bapak.

Alhamdulillah baik.

 

Bicara tentang ledakan penduduk, sebenarnya rata-rata pertambahan penduduk Indonesia saat ini seperti apa pak?

Pertambahan penduduk saat ini sekitar 1,3 %, masih jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ideal untuk Indonesia 0,5 %. Setiap tahun sebenarnya kelahiran bayi di Indonesia sekitar 4,2 juta. Itu bukan jumlah yang sedikit karena sama dengan Singapura baru.

Proyeksi jumlah penduduk tahun 2060 dengan asumsi pertumbuhan 1,3 %. Kalau 1,3 % tidak bisa ditekan maka kita akan mencapai kondisi penduduk jumlahnya 500 juta. Kalau ternyata hasil Sensus lebih tinggi dari apa yang kita proyeksikan berarti ancaman ledakan penduduk itu nyata.

 

Lalu apa yang dilakukan IpeKB untuk menekan ledakan penduduk?

Kami menyosialisasikan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Jika masing-masing pasangan usia subur sudah menggunakan MKJP, insya Allah mampu menahan ledakan penduduk. Dan manusia Indonesia di tahun 2030 menjadi penduduk tumbuh seimbang.

 

Seimbang maksudnya?

Seimbang itu, kelahiran dan kematian misalnya 20 ibu pasangan usia subur memilik anak rata-rata 2. Namun, faktanya saat ini keinginan anak keluarga-keluarga Indonesia sekarang pada umumnya lebih tinggi dari tingkat fertilitas 2,6 % per ibu. Umumnya mereka kalau ditanya ingin mempunyai anak lebih dari tiga, antara empat sampai lima. Kalau itu dilakukan sudah pasti fertilitasnya naik dan akan berpengaruh pada laju pertambahan penduduk. Padahal idealnya 2030 itu harus tercapai 2,0 atau satu ibu melahirkan cukup dua anak.

 

Jika menasional target itu tidak tercapai bagaimana pak?

Jika penekanan laju pertumbuhan penduduk tidak tercapai, dikhawatirkan berdampak buruk khususnya bagi lingkungan dan menghambat peningkatan pendapatan penduduk.

 

Bagaimana dengan kondisi di Kota Lubuklinggau pak?

Keluarga di Lubuklinggau sekarang pada umumnya tingkat fertilitas 2,5 % per ibu. Jadi kami optimis kalau Lubuklinggau saja bisa mencapai 2,0 % itu.

Faktor penyebabnya apa pak?

Sebenarnya ada juga dari faktor imigran yang datang dari luar belum terdata dengan baik. Misalnya contoh di daerah pertokoan, penduduknya susah didata. Walau sudah dikerahkan dengan berbagai cara. Karena rata-rata mereka pebisnis, jadi masih sulit bersosialisasi dengan masyarakat pada umumnya. Misalnya ada pertemuan, maupun pelayanan, mereka belum bisa melibatkan diri. Sekalipun mereka sudah berdomisili di Lubuklinggau.

Kalau tingkat partisipasi masyarakat untuk program MKJP bagaimana pak. Ada kendala mungkin?

Rekap data terakhir 86 % sudah terlayani dengan baik untuk akseptor KB. Kalau MKJP yang masih rendah di Lubuklinggau Selatan I. Karena mayoritas petani di kebun, kadang dilayani siang hari tidak terjangkau. Sehingga tidak bisa mendapatkan layanan maupun informasi.

Mungkin ada alternatif cara, agar program menekan laju ledakan penduduk ini bisa tersampaikan ke masyarakat Kecamatan Lubuklinggau Selatan I?

Ya berbagai cara kita tempuh, ada yang namanya Peran Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD), ada subnya juga di tingkat dusun dan di tingkat RT. Jadi kader itu sudah melakukan berbagai cara, agar layanan informasi sampai ke tingkat terendah.

Kita mengerahkan berapa tenaga penyuluh pak untuk mem-back up penduduk di delapan kecamatan di Lubuklinggau?

28 penyuluh KB dengan 40 TKS. Kalau penyuluh KB-nya sudah optimal. Tinggal yang TKS ini yang perlu dimaksimalkan lagi. Selain ke masyarakat, kami juga ke sekolah-sekolah.

Kalau ke sekolah biasanya fokus penyuluhannya di mana pak?

Ya kami sampaikan bagaimana cara menurunkan Total Fertility Rite (TFR) dari 2,5 % menjadi 2,0 % pada tahun 2030. Kami juga mengajak mereka (peserta didik,red) mempersiapkan diri dengan maksimal sebelum berkeluarga. Sehingga kelak kalau sudah berkeluarga bisa menyejahterakan anggotanya.

Selain gambaran dampak yang mengkhawatirkan tadi, bisakah bonus demografi memberikan dampak positif pak?

Ya ‘bonus’ ini tentunya hanya bisa kita nikmati jika pemerintah mampu menyelaraskan pembangunan dan meningkatkan kualitas penduduknya. Jika tidak terkelola dengan baik, maka ‘bonus’ ini hanya akan menjadi beban bagi negara. Booming memang sudah tak perlu dirisaukan lagi, yang jadi pe-er sekarang adalah bagaimana menciptakan generasi berkualitas. Kualitas penduduk Indonesia berdasarkan Human Development Index 2012 menduduki urutan 121 dari 187 negara yang ada di dunia. Ini masih memprihatinkan.
 
Syarat untuk bisa memperoleh bonus demografi yaitu penduduk usia produktifnya harus berkualitas, dapat terserap di pasar kerja, memperoleh pekerjaan yang layak, dan memiliki akses terhadap tabungan.(05)

 

Komentar

Rekomendasi Berita