oleh

Cegah Diri Terjebak Uang Palsu

Pintar Bertransaksi Jelang Idul Fitri

Peredaran uang palsu di Indonesia memang semakin kecil. Namun, masyarakat harus tetap waspada, seiring dengan tradisi meningkatnya kebutuhan uang pada saat Idul Fitri. Imbauan ini disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Rosmaya Hadi. Namun, bagaimana membedakan uang asli dan uang palsu. Berikut penjelasan Pemimpin Cabang BNI Lubuklinggau Zulfebriansyah.

Laporan Qori Musdhalifah, Lubuklinggau

JAUH-jauh hari Bank Indonesia (BI) mengingatkan masyarakat waspadai peredaran uang palsu saat Ramadan 2018. Meski saat ini persentase uang palsu itu sebenarnya sudah kecil, sekitar 3 dibanding Rp 1 juta. Tapi tetap saja harus diwaspadai.

Untuk tahu dan agar tak terjebak dengan transaksi uang palsu, saya langsung membincangi Pemimpin Cabang BNI Lubuklinggau Zulfebriansyah (Yanche). Dengan ramah, bapak yang dikenal selalu berpenampilan rapi itu mengatakan, masyarakat harus paham membedakan mana uang palsu mana yang asli.

“Nah, untuk mengetahuinya, masyarakat hanya perlu mengingat cara mengenali uang palsu yang terus disosialisasikan BI, yakni memakai cara 3D yakni Dilihat, Diraba, dan Diterawang,” jelasnya.

Teknik 3D ini harus terus diingatkan oleh masyarakat. Dan mengenai masih beredarnya uang palsu menurut Yanche diduga karena masih ada sindikat uang palsu yang belum tertangkap.

“Kalau dari perbankan jika menemukan uang palsu, akan langsung kita musnahkan, kita hanya buat berita acara dan laporkan ke Bank Indonesia. Karena kita anggap uang palsu tersebut tidak bernilai ,” tuturnya.

Dengan cara memusnahkan inilah, lanjut Yanche, akan memutuskan rantai penyebaran uang palsu.

“Nah, diharapkan juga kepada masyarakat agar bisa melakukan hal yang sama, dengan melaporkan jika mendapati, mengetahui adanya uang palsu tersebut. Agar rantai penyebaran dapat terputus. Jika tidak dilakukan hal demikian, akan semakin banyak korban, rantai penyebaran terus berlanjut, dan bisa jadi yang awalnya korban bisa turut menjadi pelaku penyebaran uang palsu,” paparnya.

Dan korban uang palsu ini bisa siapa saja, menurutnya, entah itu orang miskin, kaya, pedagang, dan lain sebagainya. Apalagi saat ini, tambah Yanche, uang saat ini telah menjadi barang komoditi, bukan sebagai alat tukar lagi. Karena uang sudah dijadikan barang palsu dan bisa dijual separuh harga, misalnya nilai uang palsu Rp 100 ribu di jual Rp 50 ribu.

Maka dari itu, saran dia, salah satu cara untuk menghindari risiko terjebak transaksi uang palsu ini, pemerintah giat-giatnya menggalakkan Gerakan Non Tunai (GNT) ini. Misalnya penyaluran bantuan keluarga harapan, bantuan untuk lanjut usia, bantuan beasiswa yang langsung disalurkan melalui rekening. Dan jika penerima membutuhkan hanya tinggal menariknya di bank atau di ATM, sehingga jaminan keaslian uang bisa terjamin.

“Sedangkan dari BNI juga terus gencar menyosialisasikan GNT tersebut, dengan adanya sistem pembayaran non tunai, aplikasi, transaksi yang berlandaskan perkembangan teknologi, seperti Mobile Banking,Internet Banking, dan lainnya. Program-program ini adalah untuk mendorong masyarakat mulai menggunakan teknologi dalam melakukan transaksi dan pembayaran,” jelasnya.

Yanche juga mengimbau kepada masyarakat jika mencurigai dalam menerima uang pulsa bisa langsung datang ke kantor, dan untuk lebih berhati-hati dalam bertransaksi.

“Sekiranya ragu dengan uang tersebut, lebih baik menolaknya saja. Kita harus selalu memeriksa uang dan melihat uang lebih teliti, jangan asal terima saja,” imbaunya.

Untuk waktu beredarnya, menurut Yanche, peredaran uang palsu tidak mengenal waktu dan tempat, karena jika sudah beredar di masyarakat siapapun bisa menerima.

Selain uang palsu banyak sekali risiko dari uang ini, bisa kecurian, terjatuh, rusak, hilang dan lainnya, apalagi was-was jika membawanya dalam jumlah banyak.

“Untuk itu, kami berharap partisipasi seluruh unsur masyarakat untuk dan turut aktif dalam GNT dan turut memberantas peredaran uang palsu tersebut. Karena bisa merugikan secara pribadi dan merugikan negara secara keseluruhan. Dan bagi siapa saja yang memalsukan uang negara akan terancam hukuman pidana,” tutupnya.(*)

Rekomendasi Berita