oleh

Catatan Rabu Tahun Baru 2020

Oleh: Hendy UP

Sedari masa kecil hingga remaja di akhir dekade 70-an, aku memang tak terbiasa dengan tradisi ‘hura-hura’ tahun baruan. Yang aku ingat, hanya tumpengan Sedekah Bumi 1 Muharam-Syuroan, atau Mauludan di Langgar panggung dan takiran.

Maklumlah… aku dibesarkan di pojok kampung Indonesia yang sangat kampungan. Di ujung Banyumas Barat yang bahasa ibunya gak’ genah. Campursari kultur Banyumas yang lugas-memberontak, plus Priangan Timur yang mulai kehilangan imaji kelenturan Sundaismenya. Dalam kajian budaya, mungkin terkategori subkultur pesisir PANSELVA (Java) antonim dari PANTURA yang lebih masyhur.

Dalam khasanah sejarah, lahan kami yang sangat subur itu barangkali karena ada tumpukan remah-zaroh al-janazah dan genangan darah dendam pascaperang Bubat (1279 Saka atau 1357 M) di masa kelam Majapahit (Hayam Wuruk) versus Kerajaan Sundayana (Linggabuana).

Konon gara-garanya soal salah paham atau strategi (?) Patih Gadjah Mada yang ambisius ekspansionis, untuk melamar Dyah Pitaloka Citraresmi binti Linggabuana yang akan dipermaisurikan oleh Mas Hayam Wuruk. Yaa… itu sejarah yang masih ‘debatable’, tapi silakan baca sinopsis tarjamah: Serat Paraton atau Kidung Sundayana!

Okelah kita tutup sementara sejarah bangsa kita dahulu kala! Kembali ke fokus gesah. Aku sangat mafhum bahwa aku dilahirkan dari keluarga petani miskin. “My parent is a yeoman, cropter, or small peasant. Not a small farmer, what more farmer”. Aku kadang ‘kesal’ dengan Tim Programer bahasa Google, yang masih dungu menerjemahkan ‘petani kecil’ sebagai ‘small farmers’. Mungkin mereka belum baca buku James C. Scott “The Moral Economy of the Peasant”, atau yang lebih update “The Rational Peasant” nya Samuel Popkin.

Sembari melupakan kedunguan mereka, aku baru sadar bahwa malam ini adalah malam tahun baru. Agak malam, aku buka gawai. Maka berdentinganlah notifikasi: e-mail, WA, twitter, tempo.co, linggaupos.co.id di dapur buri yang sunyi. Sudah limatahunan, kami MANULA hanya berdua, tanpa sesiapa, di rumah yang hampa. Sesekali di akhir pekan ada para cucu yang sibuk-masyuk dengan dunianya. Kami sering tertawa-ria bagai melepas sendawa.

Gerimis malam masih mengintai. Tak ada bunyi petasan atau gendang dangdutan. Mungkin karena himbauan para Bupati/Walikota yang mujarab, yang kubaca di WA Grup pejabat Pemda. Nomor HP-ku nyasar di Grup mereka, mungkin lantaran namaku masih tercatat sebagai CEO-SATPAM sebuah lembaga non-organik Pemda.

Yang memrihatinkan menjelang malam, baik di medsos maupun postingan member WAG yang kuikuti adalah: hujan deras di Bogor-JABODETABEK, kali Ciliwung yang marah-serapah dan warning Jakarta yang, siap tak siap bakal melumpuh di Tahun Baru. Aku mulai memantau Google Map kawasan Jakarta yang potensial banjir utk memastikan tak melanda pemukiman anak-cucuku. Untunglah pagi harinya ada instruksi Gubernur Anies yang berdurasi 3,26 menit tentang kewajiban moral para aparatnya.

Rabu di awal tahun baru, kami tak kemana-mana. Aku tahu, jalanan Mirasi bakal macet seperti dua tiga tahun lalu. Sebagai orang yang mukim di kawasan eks Kolonisasi-Mirasi, yang menjadi daerah incaran wisata di libur panjang, aku belajar dari orang Bandung mana kala menjelang Jumat hinggau Ahad petang: “Silakan kalian warga Jakarta datang bermacet-macetan ke Lembang, kami mah tos bosan, dan lebih nyaman menikmati hidup dengan majelis pengajian….”.

Agak siang, agak jenuh memandang angsa berenang dan tupai berlompatan riang, sembari memungut jatuhan durian di laman belakang, aku beranjak ke perpustakaan. Agak berdebu nan centang-perenang. Lalu kuambil sebuah novel di rak sudut nan kesepian. Kubuka serampangan, di akhir halaman, di paragraf yang pungkasan:

“Langit memang mulai memerah di tepi lereng Pegunungan Kendeng. Senja akan segera turun!” Itu kata Umar Kayam dlm novel Sang Priyayi, 1991. Dua puluh tahun yang lalu, ia berkarya. Dan hari ini aku membaca ulang karyanya.(*)

*Muarabeliti, 2 Januari 2020

Rekomendasi Berita