oleh

Cari Jenazah Yupir, 12 Jam Jalinsum Diblokir

LINGGAU POS ONLINE, RUPIT – Lagi, Sabtu (18/11) Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) ditutup warga. Kali ini aksi itu dilakukan sebagian warga Desa Karang Anyar, Kecamatan Rupit Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).
Blokade jalan itu dilakukan sebagai wujud kekesalan warga. Karena sejak 14 November 2017 melakukan pencarian jenazah Yupir (35). Namun hasilnya nihil.

Pj Kades Karang Anyar, Kecamatan Rupit, H Japarin mengatakan, Yupir benar warganya yang tinggal di Desa Karang Anyar.

“Selasa (14/11) itu memang ada penggerebekan oleh anggota Polisi. Yupir ini dengan Hermen, warga kami sedang di halaman rumah Hermen. Lalu polisi datang. Ada tembakan peringatan waktu itu. Hermen sempat dibawa Polisi pukul 12.00 WIB. Tak lama dari itu, keluarga dapat telepon dari RS Siti Aisyah kalau Hermen meninggal. Ini, Yupir teman Hermen, diduga berusaha melarikan diri, dan menyeberang Sungai Rawas. Lalu tertembak oknum polisi, dan tenggelam di Sungai Rawas. Sejak penggerebekan itu, kami langsung melakukan pencarian di Sungai Rawas terhadap ayah dua anak itu, tapi tidak ketemu,” jelas H Japarin.

Hal inilah yang jadi latar belakang pemortalan kemarin. Jalan Lintas Sumatera, tepatnya di Desa Karang Anyar, Kecamatan Rupit itu sejak 13.00 WIB tak bisa dilintasi pengendara. Pohon karet dan pisang ditebangi warga lalu dilintangkan di tengah jalan. Aksi bakar ban juga dilakukan.
Tak hanya warga, tim Tagana dan tim dari BPBD sudah dikerahkan untuk mencari Yupir.

Dari pantauan Linggau Pos, warga memasangkan tulisan “Oknum Polisi Carikan Mayat Yupir” yang disenderkan di sepeda anak-anak yang dibaringkan tepat di tengah Jalinsum.

Akibat aksi tersebut, kemacetan tak terelakkan. Hanya saja, untuk pengendara sepeda motor tetap bisa melintas.

Tututan warga yang memblokade Jalinsum meminta pihak oknum kepolisian yang menembak Yupir mencarikan jenazah Yupir yang tenggelam.
“Warga juga meminta supaya polisi yang menembak itu diberhentikan dan mereka tidak akan membuka jalan jika polisi tidak turun dan mencari jenazah itu,” sebut H Japarin.

Dalam sepekan ini, Blokade Jalinsum dilakukan tiga kali.

Aksi blokade Jalinsum pertama dilakukan, Senin (13/11) oleh warga Desa Karang Anyar, Kecamatan Rupit akibat pengumuman hasil tes tertulis bakal calon kepala desa terdapat dua versi yang berbeda.

Kemudian, aksi blokade Jalinsum kedua, Jumat (17/11/2017) dilakukan warga Desa Maur, Kecamatan Rupit yang menuntut pembebasan ustad Dzulkifli (Dzk) atas tuduhan dugaan perbuatan asusila.

Apa yang dilakukan warga Karang Anyar ini disayangkan Sekda Kabupaten Muratara H Abdullah Makcik.

Ia berharap aksi blokade jalan tidak lagi terjadi di Kabupaten. Sebab, ini akan mengganggu aktivitas pengendara yang melintas.

H Abdullah Makcik mengingatkan, setiap masalah bisa diselesaikan dengan musyawarah. Ia berharap itu jalan yang ditempuh masyarakat.

Yang memprihatinkan, sampai hari ini, Minggu (19/11) pukul 00.32 WIB portal Jalinsum belum juga dibuka.

Seorang warga Rupit, SY menjelaskan akibat portal jalan itu, kamacetan kendaraan yang gagal melintas sampai 5 kilo meter.

“Mobil yang bawa sayur dari Curup mau ke Jambi juga gagal melintas. Mereka pilih balik lagi, nggak jadi ke Jambi. Pun dengan Mobil Tangki PT Pertamina. Putar lagi ke arah Kota Lubuklinggau,” jelasnya. (07/05)

Komentar

Rekomendasi Berita