oleh

Caleg Incumbent Tak Ada Jaminan Terpilih

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU- Pemilihan Legislatif (Pileg) Kota Lubuklinggau 2014, Partai Golkar menjadi pemenang Pemilu dengan perolehan enam kursi legislatif. Karena itu juga, kursi Ketua DPRD Lubuklinggau dimiliki Golkar. Sementara di Kabupaten Musi Rawas (Mura), Pemilu 2018 dimenangkan PDIP. Sehingga jabatan Ketua DPRD Mura diduduki kader PDIP.

Untuk di Kota Lubuklinggau, kursi pimpinan lainnya, didapatkan Partai Demokrat yang memperoleh empat kursi. Serta PDIP juga empat kursi. Baru kemudian disusul partai lain.

Pada Pemilu 2019, dari 30 anggota DPRD Lubuklinggau yang ada, hanya enam orang yang tidak mencalonkan diri lagi di Lubuklinggau. Diantaranya Djoni dari Golkar, Suhada dari PKS yang mencalonkan diri di provinsi. Kemudian Musdalifah dari Gerindra. Soleha dan Yeni Risnawati dari PPP serta Zulkarnain dari NasDem.

Ketua KPU Kota Lubuklinggau mengatakan semua Partai Politik (Parpol) peserta Pemilu Legislatif 2014 lalu, telah mendaftarkan diri sebagai Calon Legislatif (Caleg) ke KPU. Mereka sudah ditetapkan sebagai peserta Pileg 2019.

Adapun para Caleg yang sudah resmi jadi peserta Pemilu tersebut, berasal dari PKB, Partai Gerindra, PDIP, Partai Golkar, NasDem, Partai Perindo, PAN, Partai Hanura, Partai Demokrat dan PBB masing-masing 30 Caleg. Kemudian, PPP 29 Caleg, PKPI 17 Caleg, Partai Berkarya 16 Caleg dan PSI 11 Caleg.

“Semuanya telah ditetapkan sebagai peserta Pemilu, dengan nomor pengumuman 330/PL.01.4-PU/1673/KPU-Kot/IX/2018 tentang Penetapan DCT Anggota DPRD Kota Lubuklinggau di Pemilu 2019,” kata Lukman Hakim, Jumat (28/9).

Terpisah Ketua KPU Kabupaten Musi Rawas (Mura), Ach Zaein menjelaskan 12 Parpol, semuanya mendapat kursi pada Pileg 2014.

Rinciannya, PDIP 6 kursi, Partai Golkar dan Demokrat masing-masing 5 kursi. Kemudian, Partai NasDem, PKS, PAN masing-masing 4 kursi, Partai Hanura dan Gerindra masing-masing 3 kursi, PBB dan PPP masing-masing dapat 2 kursi, dan PKB bersama PKPI masing-masing dapat 1 kursi.

Pengamat Politik, Ngimanudin mengatakan peluang bagi para Caleg incumbent tergantung tingkat kepercayaan masyarakat.

“Dalam politik semuanya bisa terjadi, tergantung pada masyarakat, apakah para Caleg incumbent ini selama periode kemarin mampu menjaga amanah tentu bisa saja menang kembali,” jelasnya.

Namun sebaliknya, dikatakan Ngimadudin, jika dalam periode kemarin progresnya mengecewakan, maka bisa saja tidak terpilih kembali.

“Segala sesuatunya bisa terjadi, artinya tidak ada jaminan Caleg incumbent itu bisa menang kembali,” tambahnya.

Sedangkan untuk para kontestan yang baru, langkah sedikit berat karena kebijakan atau buktinya belum diketahui oleh banyak masyarakat.

“Berat, namun hak yang perlu dibuat bagaimana menata strategi untuk bisa menggeser petahana. Soalnya kebijakan atau buktinya belum di ketahui, tantangannya bagaimana bisa membangun tingkat kepercayaan itu lebih penting,” jelas dia.

“Kedua membangun basis tingkat grassroots, yang memang harus benar-benar dibangun, mumpung masih ada waktu sekitar tujuh bulan lagi,” sarannya.

Ngimanudin menambahkan, Undang-undang Pemilu saat ini, semakin mendekati sempurna. Artinya peluang untuk para kontestan berbuat curang atau bisa hitung-hitung suara semakin sempit, tinggal lagi para pelaksana Pemilunya.

“Semoga para pelaksananya bisa benar-benar amanah dalam menjalankan tugas, sesuai dengan amanah Undang-Undang,” harapan Ngaminudin. (cw1/aku)

Rekomendasi Berita