oleh

Cabuli Keponakan Dituntut 7 Tahun Penjara

LINGGAUPOS.CO.ID – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Lubuklinggau Rodianah menuntut Terdakwa Apriadi alias Adut (35) dengan hukuman 7 tahun penjara, denda Rp 60 juta, subsider empat bulan penjara. Tuntutan itu dibacakan JPU dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau,  Senin  (26/4/2021) pagi.

Sidang  dipimpin Ketua Majelis Hakim Yopy Wijaya, dengan Anggota Rizal Firmasnyah, Tri Lestari, dan Panitera Pengganti (PP) Wahyu Agus Santoso. Karena masih pandemi Covid-19 sidang diselenggarakan via ZooM Meeting maka terdakwa berada di Lapas Klas IIA Lubuklinggau didampingi Penasehat Hukum Riki, SH.

Terdakwa yang merupakan warga Kecamatan Rupit, Kabupaten Muratara disidangkan karena mencabuli gadis 9 tahun inisial  Melati, yang tak lain keponakannya sendiri.

JPU Kejari Lubuklinggau, Rodianah dalam tuntutannya mengungkapkan, berdasarkan fakta persidangan terdakwa secara sah bersalah melakukan tindak pidana pencabulan, sebagaimana diatur  pada Pasal 82 UU Republik Indonesi (RI)  No 35 tahun 2014 tentang Pelindungan Anak Jo Pasal 64 ayat I KUHP dalam dakwaan primair menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan hukuman 7 tahun penjara, denda Rp 60 juta, subsider empat bulan penjara.

Dengan menyatakan barang bukti (BB) berupa sebilah pisau   stainlis, sebuah baju warna biru putih, dikembalikan kepada korban.

Rodianah  menegaskan, hal yang memberatkan, karena perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat, dan perbuatan terdakwa mengakibatkan korban trauma. Sedangkan yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum.

Ketua Majelis Hakim, Yopy Wijaya lalu bertanya kepada terdakwa atas tuntutan tersebut.

Terdakwa secara lisan memohon keringanan. Terdakwa mengaku memiliki keluarga, menyesal, sekaligus berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Sementara JPU saat ditanya hakim tetap pada tuntutan.

Atas permohonan lisan terdakwa, Ketua Majelis Hakim akan memikirkan dan akan melanjutkan sidang Senin (3/5/2021) dengan agenda putusan.

Untuk diketahui, perbuatan yang membuat terdakwa disidangkan,  karena Selasa (29/12/2020) sekitar pukul 11.30 WIB mencabuli korban. Mulanya, terdakwa sedang berada di rumah korban tak sengaja  melihat korban sedang mandi memakai celana dalam saja, sehingga terdakwa memikirkan untuk membujuk korban.

Tiga hari kemudian, saat orang tua korban tak di rumah, terdakwa datang kembali ke rumah korban.

Terdakwa melihat korban  tiduran di ruang keluarga depan televisi. Di situlah  terdakwa mencabuli korban.

Tidak puas  dengan aksi apertamanya, terdakwa kembali ke rumah korban. Melihat korban sedang mandi,  terdakwa menghampirinya lalu menyuruh korban memegang kemaluan terdakwa.

Beberapa hari kemudian terdakwa datang, kembali ke rumah korban untuk membujuk korban dengan permen.Terdakwa menarik tangan kanan korban dan mengarahkannya untuk memegang kemaluan terdakwa.

Setelah puas, terdakwa mengancam korban dengan berkata “Jangan ngadu siapo-siapo, diem bae!”. Terdakwa juga mengancam, jika korban memberi tahu orang tuanya atau orang lain, maka korban akan dibawa lari jauh-jauh.

Akibat perbuatan terdakwa korban menjadi takut dan trauma.

Tak disangka, bahwa perbuatan terdakwa terungkap oleh istrinya sendiri. Sebelumnya istri terdakwa pernah memergoki terdakwa menyuruh korban melakukan oral seks. Kemudian istri terdakwa bersama keluarga melaporkan kejadian kepada Ketua RT 15, Kelurahan Muara Rupit.

Saat itu istri terdakwa dan Ketua RT menanyakan pada korban, dan korban membenarkan bahwa dia telah dicabuli oleh terdakwa. Kemudian terdakwa diamankan warga, yang selanjutnya menelpon anggota Polsek Muara Rupit agar terdakwa sesuai dengan hukum yang berlaku. (*)

Sumber: Harian Pagi Linggau Pos

Rekomendasi Berita