oleh

Bunuh dan Perkosa Mayat Sepupu, Warga Muratara Dituntut 10 Tahun

LINGGAUPOS.CO.ID – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Lubuklinggau, menuntut Terdakwa Anto Wijaya (19) dengan hukuman 10 tahun penjara, denda Rp 15 juta, subsider enam bulan penjara. Tuntutan itu dibacakan JPU Ayu Soraya di Pengadilan Negeri (PN) Lubuklinggau, Rabu (21/4/2021) siang.

Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Ferdinand didampingi Hakim Anggota Verdian Martin dan Marselinus serta Panitera Pengganti (PP) Armen. Karena pandemi Covid-19, sidang diadakan dengan Zoom Meeting dan terdakwa berada Lapas Sarolangun didampingi Penasehat Hukum (PH) Riki, SH.

Terdakwa dibekuk Anggota Polsek Nibung Minggu 27 September 2020 ini merupakan warga Blok C1, Kelurahan Karya Makmur, Kecamatan Nibung, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). Ia  disidangkan karena diduga membunuh sekaligus memperkosa sepupunya inisial AS (10).

JPU Ayu Soraya dalam tuntutannya mengungkapkan, berdasarkan fakta persidangan, terdakwa secara sah melanggar  pasal 80 ayat (3) JO 2 Republik Indonesia (RI) NO. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. tentang  perlindungan anak. Maka terdakwa dituntut dengan hukuman 10 tahun penjara, denda Rp 15 juta dengan subsider enam bulan penjara.

Ayu Soraya  menegaskan, hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa  menghilangkan nyawa korban, terdakwa tidak berdamai dengan pihak keluarga  korban, dan perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat. Sedangkan yang meringankan, terdakwa berterus terang mengakui perbuatannya dan sopan dalam persidangan dan terdakwa belum pernah dihukum.

Ketua Majelis Hakim, Ferdinand lalu bertanya kepada terdakwa atas tuntutan tersebut.

Terdakwa secara lisan memohon keringanan. Terdakwa mengaku dan menyesal sekaligus berjanji tidak mengulangi perbuatan tersebut dan mohon agar hukuman yang diputus seringan-ringannya.

Sementara JPU saat ditanya Hakim tetap pada tuntutan.

Kejadian yang membuat disidangkan, karena membunuh dan memperkosa sepupunya, Kamis 22 September 2020. Mulanya, sekitar pukul 17.30 WIB saat Terdakwa Anto Wijaya melihat korban inisial AS di belakang rumahnya mengambil karung untuk menaruh bahan-bahan makanan yang akan dibawa korban ke kebun tempat ibunya bermalam.

Setelah korban selesai mengarungi bahan-bahan makanannya, korban pamitan dengan ibu terdakwa yang statusnya juga bibi dari korban.   Korban saat itu ke kebun sendirian.

Namun tak lama dari korban berangkat ke kebun, terdakwa menyusul korban dengan meminta  izin dengan ibunya untuk mengantar korban.

Terdakwa mengikuti  korban dari belakang dengan berangkat ke tempat mandi. Namun belum sampai di tempat mandi, tiba-tiba muncul niat terdakwa, untuk membunuh korban sehingga terdakwa langsung mendahului korban yang sedang jalan dan menghadangnya.

Sampai di jalan hutan, dekat pohon nangka terdakwa langsung menarik tangan korban ke dalam hutan. Sekitar 15 meter masuk ke dalam hutan, terdakwa dua kali menampar pipi kiri korban dengan tangan kanan sampai korban terjatuh.

Korban sempat bangkit untuk meninju terdakwa tapi terdakwa menarik tangan korban membawanya dekat pohon karet, mendudukkan korban, membenturkan kepala korban ke batang karet sebanyak tiga kali.

Korban langsung berdiri dan berusaha berlari. Baru berhasil menjangkau jarak lima meter, korban terjatuh dan tidak bergerak lagi. Lalu terdakwa menyetubuhinya. Saat melihat korban tidak bernafas lagi, terdakwa langsung ketakutan dan mengakhiri aksi bejatnya.

Terdakwa  langsung memakai celana, dan mengambil karung yang berisi makanan milik korban lalu meletakkannya di dekat sungai. Setelah itu terdakwa pulang ke rumahnya.

Sejak 24-25 September 2020 terdakwa  bersama ibu korban mencari-cari korban namun tidak ketemu.  Baru Sabtu (26/9) sekitar 07.30 WIB ditemukan jasad AS dalam keadaan tak berbalut selembar kainpun. Dari hasil penyelidikan dan otopsi yang dilakukan Polisi, korban  diduga menjadi korban pembunuhan. Hingga diciduklah terdakwa saat  santai dirumah. (*)

Sumber: Harian Pagi Linggau Pos

Rekomendasi Berita