oleh

BPS: Penduduk Miskin di Musi Rawas Bertambah 1.130

LINGGAUPOS.CO.ID – Berdasarkan data dari  Badan Pusat Statistika (BPS) Kabupaten Musi Rawas (Mura), angka kemiskinan di Kabupaten Mura periode Maret 2020 naik 0,13 persen atau 1,13 ribu jiwa dari periode Maret 2019.

Kepala BPS  Mura, Aldianda Maisal mengatakan, pada Maret 2020 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Mura mencapai 54,95 ribu orang atau 13,50 persen. Jumlah tersebut naik dibanding kondisi Maret 2019 yang hanya 54,82 persen atau 13,37 persen.

Dikatakannya, komoditas makanan yang berpengaruh besar terhadap garis Kemiskinan di pedesaan, mulai dari beras, rokok kretek filter, daging ayam ras, telur ayam ras, mie instan, gula pasir dan cabe merah.

Sedangkan komoditas bukan makanan lanjut ia, adalah perumahan, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

Pada periode Maret 2019 Maret 2020, lndeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan lndeks Keparahan Kemiskinan (P2) sama-sama mengalami penurunan.

“Periode Maret 2020 angka kemiskinan di Kabupaten Mura naik 1,13 ribu orang menjadi 54,95 ribu, dari sebelumnya Maret 2019 hanya 53,83 ribu,” kata Aldianda, Rabu (21/4/2021).

Dikatakannya, penghitungan jumlah penduduk miskin berdasarkan garis kemiskinan. Dimana penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan.

“Selama periode Maret 2019 sampai Maret 2020, garis kemiskinan naik sebesar 6,83 persen atau Rp29.912, yakni dari Rp437.854 per kapita per bulan pada Maret 2019 menjadi Rp467.766 pada Maret 2020,” jelasnya.

Dijelaskannya, penghitungan garis kemiskinan terdiri dari dua komponen, yaitu garis kemiskinan makanan dan garis kemiskinan bukan makanan. Dimana penghitungan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan pedesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan.

“Garis kemiskinan makanan merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum dan makanan yang disetarakan dengan 2100 kkalori per kapita perhari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak,” ungkapnya.

Sedangkan, garis kemiskinan bukan makanan adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.

“Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi, untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan, yang diukur dari sisi pengeluaran. Dengan pendekatan ini, dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk,” pungkasnya. (*)

Rekomendasi Berita