oleh

BPOM Lubuklinggau Tak Menolerir Pedagang Nakal

“Sanksi untuk para pedagang yang nakal termasuk yang menjual Makmin berformalin bukan hanya larangan berjualan. Tapi, akan masuk penjara sesuai dengan Undang-Undang”

Kabid Pengawasan Disdagrin Lubuklinggau, Andang

LINGGAU POS ONLINE– Kepala Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kota Lubuklinggau, Afdil Kurnia mendesak Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) menindak tegas pedagang nakal. Khususnya yang jual makanan maupun bahan makanan berformalin.

“Memang harus ada efek jera bagi pedagang yang masih memperjualbelikan makanan mengandung formalin. Kemarin itu, baru satu produsen tahu dan satu produsen mi yang kami tangkap. Ini warning (peringatan) untuk seluruh pedagang,” terang Afdil.

Menurut Afdil, pihaknya akan terus melakukan uji sampling bahan makanan secara berkala diambil dari pasar-pasar Kota Lubuklinggau.

Jika dalam hasil uji laboratorium ternyata masih ada pedagang nekat jual makanan berformalin, atau hasil ujinya positif formalin, maka ia mendesak Disdagrin melarang pedagang tersebut jualan di pasar.

“Butuh komitmen bersama. Kita, pedagang, kepala pasar dan Disdagrin,” tandasnya.

Bak gayung bersambut. Kepala Dinas Perdagangan dan perindustrian (Disdagrin) Lubuklinggau, Surya Darma didampingi Kabid Pengawasan, Andang setuju dengan usulan itu.

Andang memastikan selalu mengawasi pedagang. Bahkan, selalu berkoordinasi dengan BPOM untuk mencegah beredarnya makanan dan minuman yang berbahaya, salah satunya mengandung zat kimia formalin.

“Kita selalu melakukan pengawasan terhadap para pedagang,” katanya.

Ia menjelaskan tidak ada toleransi terhadap para pedagang yang melanggar. Karena dalam Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, telah dijelaskan bahwa hak konsumen diantaranya adalah hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan atau jasa. Selain itu, ada ancaman pidana untuk para pedagang atau pelaku usaha yang nakal. Pelaku usaha yang melanggar ketentuan UU Perlindungan Konsumen tersebut, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp2 miliar.

“Jadi, sanksi untuk para pedagang yang nakal. Termasuk, yang menjual Makanan dan Minuman (Makmin) berformalin bukan hanya larangan berjualan. Tapi, akan masuk penjara sesuai dengan aturan,” jelasnya.

Maka dari itu, pihaknya mengimbau agar para pedagang tidak melakukan perbuatan yang bakal merugikan mereka sendiri.

Rencana ini dapat sambutan baik dari pedagang tahu di Pasar Inpres, Linda. Ibu yang sejak 2016 jual bermacam jenis tahu itu menjamin tahu jualannya tak berformalin.

“Tahu ini bukan untuk saya jual saja. Karena saya juga makan tahu ini di rumah. Setiap hari saya jual 200 tahu pasti habis. Kalau tidak habis, bisa busuk besoknya,” terang Linda.

Linda menyebut, tahu jualannya itu diambil dari pabrik di Kelurahan Karya Bakti. Harga beli dari pabrik 7 potong tahu Rp2.000, lalu Ia jual 5 potong Rp2.000.

Linda berpendapat, biasanya tahu berformalin lebih murah dan lebih besar dibanding tahu non formalin.

“Selaku pedagang tahu saya sangat setuju apabila adanya wacana pedagang makanan berformalin bakal ditindak BPOM di Kota Lubuklinggau dan Disdagrin Kota Lubuklinggau dan tidak boleh jualan lagi di pasar-pasar yang ada di Kota Lubuklinggau,” paparnya.

Laporan Sulis/Aan Sangkutiar/Apriyadi

Rekomendasi Berita