oleh

Bocah Terkapar Mulut Berbusa

Di Masjid Agung As-Salam

LINGGAU POS ONLINE, PASAR PEMIRI – Seorang bocah usia belasan tahun ditemukan terkapar tak sadarkan diri di pelataran Masjid Agung As-Salam. Kondisinya mengenaskan, dengan mulut berbusa, Minggu (17/12) pukul 11.00 WIB.

Kapolres Lubuklinggau, AKBP Sunandar melalui Wakapolres Kompol Andi Kumara saat dikonfirmasi membenarkan bahwa adanya penemuan bocah tanpa identitas diduga Anak Jalanan (Anjal) tersebut.

Oleh anggota Polres Lubuklinggau, bocah tersebut ke RS Dr Sobirin untuk mendapatkan perawatan.

“Saat ini bocah tersebut masih dirawat dan dijaga oleh anggota kita sebab masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. Nanti kalau sudah sadar bisa dimintai keterangan, mengapa sampai bisa pingsan hingga mengeluarkan busa dari mulut,” jelas Kompol Andi Kumara.

Terpisah, Kapolsek Lubuklinggau Barat, Iptu Sofyan Hadi menjelaskan bocah yang belum diketahui identitasnya itu diduga Anjal. Ia sering mangkal di seputaran kota Lubuklinggau.

Dugaan sementara, bocah ini pingsan lantaran diduga menghirup terlampau banyak lem Aibon.

“Hanya, saja untuk lebih jelas kami masih menunggu hasil rekam medis dari RS DR Sobirin,” katanya.

Sementara itu, dr Evi Damaiyanti mengatakan banyak faktor yang membuat mulut seseorang mengeluarkan busa. Bisa akibat keracunan makanan hingga mengonsumsi obat-obatan terlarang, termasuk menghirup Aibon ataupun minum Komix berlebihan.

Namun, menurut dia harus dilakukan tes dulu terhadap yang bersangkutan, untuk mengetahui secara pasti penyebab dari insiden yang dialaminya tersebut.

“Kita tidak bisa menganalisa dari kejauhan, perlu dilakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan,” katanya, kemarin.

Efek jangka panjang penggunaan Aibon dan Komik, dapat merusak saraf otak yang menyebabkan daya nalar dari pengonsumsinya jadi tidak berjalan normal.

“Untuk efek jangka pendek, bisa membuat yang bersangkutan euforia yang berlebihan. Namun, bisa juga keracunan,”jelasnya.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Lubuklinggau, Abdul Hamim terkejut dengan kejadian ini. Ia berharap, hal ini bisa jadi catatan bagi pemerintah, terutama Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) maupun Dinas Kesehatan Kota Lubuklinggau.

“Saya yakin bisa dibuat regulasinya tentang pembatasan penjualan lem Aibon maupun Komik itu. Kalau sudah efek begini, bisa apa kita. Saya benar-benar prihatin,” jelas Abdul Hamim.

Ia berharap, semua lapisan masyarakat tergerak untuk peduli. Setidaknya, ketika melihat ada anak-anak ngelem, dekati dan ingatkan agar anak tersebut ‘melepaskan’ diri dari kecanduan itu.

“Memang ini tidak mudah. Oleh karena itu, kita harus gerak bersama. Ini anak-anak, yang notabene calon pemimpin bangsa ini yang rusak. Kalau lem Aibon, bahkan Komik dibiarkan saja peredarannya. Tanpa ada pembatasan khusus, apalagi yang beli anak-anak,” jelas Hamim lagi.(16/11/05)

Komentar

Rekomendasi Berita