oleh

Bocah SD Tewas Tenggak Racun

LINGGAU POS ONLINE, RUPIT – Meninggalnya Sutra (12) warga Dusun VI, Desa Batu Gajah Lama, Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), cukup menggemparkan. Karena sebelum tewas, murid kelas V SDN 2 Desa Batu Gajah ini menenggak racun hama (Lannate).

Anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Alwi (Almarhum) dan Eliana itu menghembuskan nafas terakhirnya, Selasa (2/1) sore. Lalu ia dikebumikan di TPU Desa Batu Gajah.

Sekitar pukul 16.44 WIB, awak media bersama Camat Rupit, Hj Gusti Rohmani dan jajarannya tiba di rumah duka.

Tampak tarup yang terpasang dan kursi yang tampak tersusun. Setibanya rombongan camat langsung disambut oleh kakek almarhum, tidak lama keluar perempuan yang masih berurai air mata, yang merupakan Ibunda Sutra yakni Eliana.

Tidak banyak kata-kata yang diucapkan Eliana. Hanya air mata yang terus menerus keluar, sebagai ungkapan kesedihan yang mendalam atas musibah yang dialami keluarganya.

Walaupun tersendat oleh isak tangis, Ibunda almarhum sempat menyebutkan kalau sebelum Sutra meninggal, tiga malam berturut-turut dirinya bermimpi almarhum ayah Sutra datang untuk menjemput Sutra.

“Sebelum anak aku ninggal, aku mimpi almarhum Bapak Sutra, dio nak jemput Sutra,” ucap Eliana, kemarin.

Di tempat yang sama, adik kandung Ibu almarhum, Supriyadi (32) yang pertama kali melihat Sutra usai menenggak racun tersebut.

Supriyadi menceritakan 2 Januari 2017 sekitar pukul 14.30 WIB ia sedang memotong ayam.

“Aku dengar ada suara teriakan minta tolong dari rumah atas, spontanlah aku langsung berlari. Terkejut nian jingok ponakan lah lesu dengan bibir membiru. Dia (Sutra,red) sempat jawab lanet (Lannate). Idak lamo dari itu dia jatuh. Langsung aku bawa ke RSUD Rupit,” terang dia.

Supriyadi merasa tidak percaya, sang keponakan menenggak cairan Lannate (racun hama,red) tanpa alasan. Karena menurutnya, Sutra tergolong anak yang pintar.

“Kalau adanya isu almarhum meminum racun hama karena dimarahi ibunya, itu sama sekali tidak benar. Memang kondisi ibunya sedang sakit, tapi tidak ada ibunya memarahi almarhum,” terang Supriyadi.

Sementara itu, Camat Rupit, Hj Gusti Rohmani yang datang mengungkapkan rasa duka atas kejadian yang menimpa keluarga Eliana.

“Kami baru dapat informasi hari ini, sehingga baru bisa datang, tentunya ini berat bagi keluarga tapi semuanya kehendak Allah SWT, kami turut berduka, untuk keluarga tolong bersabar,” kata dia.

Ketua Harian Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Muratara, Rudi mengaku terkejut dengan peristiwa yang menimpa Sutra tersebut.

“Saya sangat terkejut dengan kejadian itu, mengenai apa motif dari murid SD tersebut melakukan menenggak racun, kita akan menyelidiki lebih lanjut apakah kejadian itu karena merasa kesal sengaja mengonsumsi atau ketidaksengajaan,” kata Rudi.

Sebelumnya, kata Rudi, juga pernah terjadi aksi anak menenggak racun.

“Saat itu di Desa Kerta Sari, tapi masih dapat diselamatkan karena cepat diketahui kejadiannya, namun mengenai motif anak itu karena lingkungan yang tidak mendukung,” jelasnya.

Ia mengucapkan bela sungkawa dengan kejadian yang telah menimpah adik kita, berharap kedepan jangan terjadi hal-hal seperti ini.

Sementara itu Psikolog, Irwan Tony menerangkan, jika yang dilakukan almarhum Sutra ada kesengajaan, bisa jadi menenggak racun itu untuk menyampaikan adanya suatu penderitaan.

“Misalkan yang bersangkutan merasa tidak ada yang peduli. Oleh karena itu, kita secara sosial harus lebih sensitif ketika melihat ada perubahan perilaku dari seseorang yang berubah drastis,” sarannya.

Sementara Ustadz H Moh. Atiq Fahmi, Lc berpendapat, jika benar Sutra secara sengaja menenggak racun, tidak bisa serta merta publik menyalahkan tindakan si anak.

“Benar, kalau kita bicara soal bunuh diri ini hukumnya haram. Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Alquran Surat An-Nisa ayat 29. Untuk mengetahui makna tafsirnya bisa baca Kitab Qurtubi dan Kitab Ibnu Katsir. Di situ banyak diterangkan riwayat hadits nabi, bahwasanya orang yang bunuh diri itu diharamkan oleh Allah. Dan dipastikan kekal dalam neraka,” tegasnya.

Kalaupun ada alasan aqliyahnya, orang yang bunuh diri adalah orang yang berputus asa, dari rahmat Allah SWT .

Bunuh diri masuk kategori haram, kata Ust Fahmi, berlaku bagi orang yang mukallaf.

Yakni pertama, baligh. Kedua, akil (tidak ada gangguan jiwa/akal). Ketiga, salamatul hawaj (orang yang tidak tuli dan tidak buta). Kalau dia tuli, bisa baca. Atau dia buta tapi tidak tuli tetap terikat dengan hukum Allah SWT ini (bunuh diri haram). Mukallaf juga termasuk pada orang yang sampai dakwah Nabi Muhammad SAW.

Lalu bagaimana dengan anak yang usianya 11-12 tahun yang diduga melakukan kesalahan/perbuatan dosa?

“Kita lihat dulu di salah satu ciri mukallaf tadi. Balig atau belum. Maka siapapun yang bunuh diri, kalau masuk kategori mukallaf maka berdosa. Terlepas dari permasalahan yang mereka hadapi. Karena seorang muslim, sudah harus taat pada perintah Allah SWT. Tapi kalau dilihat dari sisi keilmuan, anak kita yang diduga bunuh diri ini sudah tahu belum tentang makna bunuh diri. Yang kita khawatir, di sekolahnya tidak mengenalkan itu. Karena di sekolah kita sebagian besar diajar bisa ngitung, baca, dan Bahasa Inggris. Tidak ada pelajaran tentang bagaimana menghadapi masalah kehidupan ini. Tidak juga diajarkan tentang bagaimana menghadapi kehidupan ini. Jadi ini juga bisa jadi membuat anak kita tidak terkategorikan mukallaf,” bebernya.

Ia berkeyakinan, ketika ilmu tentang haramnya bunuh diri ini tidak sampai kepada si anak, artinya anak ini belum mengerti.

“Maka yang salah pendidikan kita terhadap anak. Baik dari didikan orang tua, atau yang bersumber dari didikan sekolah. Kenapa orang tua? Karena orang tua kadang tidak mengerti bagaimana ‘mendidik’. Kadang orang tua punya harapan besar (ekspektasi) terhadap anak. Bahkan punya perbandingan cukup besar terhadap anak-anak lain. Tapi tidak tahu bagaimana memproses anak-anak untuk mencapai itu. Sehingga yang muncul dari ‘bibir’ orang tua hanya marah, yang marah itu pun tidak bernilai pendidikan,” jelasnya.

Ia memisalkan, ketika orang tua berkewajiban mengenalkan salat pada anaknya saat usia 7 tahun.

“Jadi salah satu tahapan pendidikan itu, orang tua wajib mengenalkan kepada anak mengenai salat sejak anak usia 7 tahun. Tapi kadang orang tua baru mengenalkannya saat si anak usia 10 tahun. Karena si anak tidak menunaikannya (salat, red) tiba-tiba orang tua main pukul. Nah, jadi dari prosesnya saja orang tua tidak melakukannya dengan benar. Ini yang jadi korban anak,” jelasnya.

Oleh karena itu, terang Ust Fahmi, jika Sutra menenggak racun itu diduga disengaja, maka yang Allah tuntut bukan Sutranya. Namun Allah SWT menuntut orang tuanya dulu.

“Karena dia masih umur 11 tahun, kesalahan dan dosanya ditimpakan orang tua,” terangnya.

Agar hal ini tidak terulang, pinta Ust Fahmi, ia memastikan bahwa tidak ada solusi yang terbaik, kecuali agama.

“Sehingga harapan kami, tolong berikan peran besar Agama dalam dunia pendidikan kita. Nah, yang barometer sasarannya bukan sebatas hafalan, bukan sebatas rapor nilai, tetapi barometernya, kembali pada sikap dan moral anak itu sendiri. Dalam Islam, disebut juga dengan akhlaknya,” terang Pimpinan Pesantren Modern Ar Risalah ini. (07/05/19)

Komentar

Rekomendasi Berita