oleh

Bocah Lubuklinggau Meninggal Karena DBD

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Seorang bocah bernama Sena Amelia (7) meninggal karena menderita Demam Berdarah Dengue (DBD). Kabar ini disampaikan Direktur RSUD Dr Sobirin, H Nawawi Akib, Senin (2/7).

Sena Amelia merupakan putri Isnadi dan Junnuati. Mereka tinggal di Jalan Sudirman RT 01, Kelurahan Jogoboyo, Kecamatan Lubuklinggau Utara II.

Kepala Ruangan ICU RS DR Sobirin, Irzan Fauzi mengatakan waktu Sena Amelia masuk ke RS DR Sobirin, sudah dalam keadaan kritis, kejang-kejang, panasnya tinggi, tidak sadarkan diri, sudah pendarahan di lambung. Lalu tim medis yang diketuai dr Evi Silviana membantu dengan perawatan di mesin inkubator untuk pernapasan.

Namun naas, nyawa bocah tujuh tahun itu tak bisa diselamatkan.

H Nawawi Akib membenarkan, memang akhir- akhir ini kasus DBD terus meningkat. Sejak 1 Mei sampai 30 Juni 2018 saja, 27 warga Kota Lubuklinggau yang menderita DBD dirawat di RS Dr Sobirin, seorang meninggal atas nama Sena tadi. Sementara dari Kabupaten Musi Rawas (Mura) ada enam pasien dan pasien DBD dari Kabupaten Rejang Lebong yang ditangani di RS DR Sobirin ada dua pasien.

H Nawawi Akib menambahkan bahwa pihak rumah sakit terus melakukan penyuluhan terhadap pasien yang terkena DBD.
Termasuk kepada masyarakat ia berpesan, agar selalu menjaga lingkungan tempat tinggal supaya tetap bersih dan nyaman. Karena menurut dia, kalau lingkungan bersih, dan tidak ada genangan air, maka pertumbuhan nyamuk dapat dikurangi.

Bahkan, pihaknya sudah menginstruksikan kepada petugas Puskesmas, agar aktif dalam menyosialisasikan kepada masyarakat tentang bahaya penyakit DBD.

“Ketika ada masyarakat yang terkena gejala segera ditangani dengan baik, apalagi jika sudah ada muncul bintik-bintik merah di kulit. Kalau tidak segera diberi pengobatan, maka dikhawatirkan kondisi tubuh akan ngedrop dan bisa berakibat fatal,” ungkapnya.

Ciri –ciri dari gejala DBD juga sering kali diawali dengan panas tinggi yang terjadi secara mendadak. Biasanya, hal inilah yang membedakan bintik merah gejala DBD dengan bintik merah karena hal lain.

Ruam merah pada kulit tersebut, yang membedakan DBD dengan penyakit lain, kemudian diikuti dengan gejala lain seperti kejadian syok (fase kritis) yang dipercepat oleh kondisi kekurangan cairan.

Hal ini dapat terjadi karena trombosit turun yang mengakibatkan kelainan pada pembuluh darah (pendarahan).

Kondisi tersebut sering kali dikaitkan dengan penyebab kematian penderita DBD.

Menurut dr Nawawi, kematian dapat dihindari, bila penderita mendapatkan penanganan yang cepat dan benar.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium segera setelah mengalami panas tinggi hingga 3 hari berturut-turut.

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Siti Aisyah (RSSA) Lubuklinggau, dr Mast Idris Usman saat dibincangi mengaku, hingga kemarin tercatat di ada 15 pasien yang suspek DBD. Setelah dirawat secara insentif, hanya satu pasien yang positif DBD.

Saat ini pasien tersebut sudah pulang ke rumah, setelah dinyatakan sembuh.

Mast Idris menjelaskan, suspek yang pihaknya berikan karena kewaspadaan pihaknya terhadap DBD. Apalagi saat ini sudah masuk musim hujan, dan banyak air-air bersih tergenang.

“Makanya, setiap pasien yang datang dan memiliki ciri-ciri mendekati pasien DBD kita catat dia pasien suspek DBD. Artinya patut dicurigai dan butuh perawatan,” jelasnya.

Terkadang dilanjutkannya, setelah dirawat ada yang dinyatakan positif namun ada juga negatif. Namun mengidap penyakit lainnya seperti malaria atau tipes.

“Untuk saat ini pasien kita, belum ada yang serius mengidap DBD. Semuanya masih suspek dan dalam perawatan,” tambahnya. (AE03/13)

Rekomendasi Berita