oleh

Bilik Asmara Masuk Program Kemenkumham Tahun 2019

JAKARTA – Kepala Kantor wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), Bambang Soemardiono mengatakan bahwa pada 2019 mendatang pihaknya telah mewacanakan program bilik asmara untuk difasilitasi di setiap Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan) bagi penghuninya.

Bambang tidak menampik, bahwa kebutuhan biologis penghuni baik di Lapas dan di Rutan perlulah diperhatikan karena itu juga merupakan bagian dari hak kehidupan setiap manusia (HAM). Namun demikian dirinya mengaku bahwa menjalankan program tersebut memerlukan koordinasi dari banyak pihak salah satunya Ditjen Pas yang menaunginya.

Saya sadari hal ini tidak langsung dapat diterapkan, memerlukan koordinasi dengan banyak pihak baik Ditjen Pas ataupun pihak lainnya. Namun yang jelas usulan program ini sudah kami sampaikan kepada Komisi III DPR RI saat RDP lalu, ujar Bambang di Jakarta, Jumat (28/12).

Bambang pun berharap dengan langkah program yang disusun oleh pihaknya tersebut dapat meminimalisir kasus korupsi akan bisnis serupa di dalam dan juga memapas kasus HIV akibat penularan hubungan di dalam Lapas maupun Rutan.

Maka dari itu saat ini kami konsentrasi dengan penyelesaian masalah over capacity di dalam Lapas dengan melakukan pemindahan baik ke Jawa Barat, Jawa Tengah atau bahkan Jawa Timur. Begitu juga dengan penghuni Rutan bilamana sudah memiliki status Ichract dari Pengadilan langsung kami pindahkan ke Lapas. Sehingga semua dapat tertata dan tidak ada main di belakang, terang Bambang.

Selain itu, Bambang juga menambahkan pihaknya juga menyiapkan salah satu alternatif program yakni menyosialisasikan program Cuti Mengunjungi Keluarga (CMK). Dalam hal ini para keluarga penghuni dapat mengajukan sehingga dapat bertemu dengan sanak saudara.

Sebenarnya program ini sudah lama ada. Namun kurang disosialisasikan, saat ini program tersebut akan terus digencarkan. Meski memerlukan proses yang panjang tetapi keluarga dapat bertemu dengan penghuni dengan durasi 2×24 Jam, tandasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Bagian Humas Ditjen Pemasyarakatan (PAS) Ade Kusmanto mengatakan, saat ini memang belum ada regulasi yang mengatur ketersediaan bilik asmara di Lapas. Ade menyebut penyediaan bilik asmara di lapas hingga saat ini masih dalam tataran wacana.

“Kalau bilik asmara itu tidak ada regulasinya. Masih wacana belum tahap realisasi, perlu regulasi, dukungan semua pihak, jangan sampai jadi polemik,” ujar Ade.

Memang, kata Ade, narapidana merupakan manusia biasa yang memiliki kebutuhan biologis untuk berhubungan suami istri. Meski sebagai napi ia tahu konsekuensi kemerdekaannya hilang.
Sehingga dengan kemerdekaan yang hilang, termasuk memenuhi kebutuhan biologis, akibatnya membuat para narapidana melakukan hal-hal yang menyimpang seperti masturbasi, menggunakan ruangan kosong untuk berhubungan suami istri, hingga berhubungan sesama jenis.

“Tentu orang yang dipidana pasti mencari untuk memenuhi kebutuhan itu. Ada yang menerima kondisi hilangnya kemerdekaan, tapi ada juga yang sifatnya menyimpang dengan melakukan hubungan imajinasi, masturbasi, atau pun berhubungan dengan sesama jenis,” ucapnya.

“Ada juga yang melakukan hubungan lawan jenis tapi di luar prosedur dan ada yang melakukan kekerasan dan kabur ke luar lapas untuk memenuhi kebutuhan itu,” imbuhnya.

Terkait CMK, Ade menjelaskan bahwa aturan itu berdasar dalam Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 3 Tahun 2018 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Remisi, Asimilasi, Cuti Mengunjungi Keluarga, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas dan Cuti Bersyarat.

Melalui aturan tersebut, napi diberikan kesempatan untuk bertemu keluarganya maksimal 2×24 jam. Waktu tersebut, kata Ade, bisa digunakan napi untuk memenuhi kebutuhan biologis mereka.

Akan tetapi dalam pemberian cuti tersebut, napi harus memenuhi beberapa syarat. Selain itu CMK tidak diberikan kepada napi yang tindak pidananya masuk kategori kejahatan luar biasa seperti korupsi, narkoba, dan terorisme.

“Untuk memenuhi supaya dia tidak menyimpang ada regulasi tapi harus dipenuhi oleh si napi tersebut, ada syarat yang harus dipenuhi, biasanya dengan program cuti mengunjungi keluarga,” ucapnya.

Berikut syarat untuk mendapatkan CMK seperti tertuang dalam Permenkum HAM Nomor 3 Tahun 2018:

Pasal 67
Cuti Mengunjungi Keluarga dapat diberikan kepada narapidana yang memenuhi syarat:

a. Berkelakuan baik dan tidak pernah melakukan pelanggaran tata tertib dalam tahun berjalan;
b. Masa pidana paling singkat 12 bulan bagi narapidana;
c. Tidak terlibat perkara lain yang dijelaskan dalam surat keterangan dari pihak Kejaksaan Negeri setempat;
d. Telah menjalani 1/2 dari masa pidananya bagi narapidana;
e. Ada permintaan dari salah satu pihak keluarga yang harus diketahui oleh ketua rukun tetangga dan lurah atau kepala desa setempat;
f. Ada jaminan keamanan dari pihak keluarga termasuk jaminan tidak akan melarikan diri yang diketahui oleh ketua rukun tetangga dan lurah atau kepala desa setempat atau nama lainnya; dan
g. Telah layak untuk diberikan izin Cuti Mengunjungi Keluarga berdasarkan pertimbangan yang diberikan oleh tim pengamat pemasyarakatan atas dasar laporan penelitian kemasyarakatan dari Bapas setempat, tentang pihak keluarga yang akan menerima narapidana, keadaan lingkungan masyarakat sekitarnya, dan pihak lain yang ada hubungannya dengan narapidana yang bersangkutan.

Pasal 68 Ayat 1
Cuti Mengunjungi Keluarga tidak dapat diberikan kepada:

a. Narapidana yang melakukan tindak pidana terorisme, narkotika dan prekursor narkotika, psikotropika, korupsi, kejahatan terhadap keamanan negara dan kejahatan hak asasi manusia yang berat, serta kejahatan transnasional terorganisasi lainnya;
b. Terpidana mati;
c. Narapidana yang dipidana hukuman seumur hidup;
d. Narapidana yang terancam jiwanya; atau
e. Narapidana yang diperkirakan akan mengulangi tindak pidana.

Ayat 2
Narapidana yang melakukan tindak pidana narkotika dan prekursor narkotika serta psikotropika yang tidak diberikan Cuti Mengunjungi Keluarga sebagaimana dimaksud pada ayat 1 merupakan narapidana yang masa pidananya 5 tahun atau lebih. (fin)

Rekomendasi Berita