oleh

Biaya Cuci Darah Tembus Rp 2,7 Miliar

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Tindakan medis cuci darah mengalami kenaikan di Kota dalam dua tahun terakhir.

Tak tanggung-tanggung, pengobatan untuk pasien yang mengalami gangguan fungsi ginjal itu, melonjak hingga 33 kasus dalam kurun waktu satu tahun.

Kamis (24/11), Kepala BPJS Kesehatan Cabang Lubuklinggau H Ichwansyah Gani mengatakan, meliputi RSUD Siti Aisyah, RSUD Dr Sobirin, RS AR Bunda dan Basemah Pagaralam , tahun 2016 ada 6.447 kasus yang ditangani. Biaya yang dikeluarkan BPJS Kesehatan Lubuklinggau mencapai Rp 5.406.976.400. Tahun ini, Januari-Oktober 2017 ada 6.178 kasus yang ditangani. Total biaya yang dikeluarkan Rp 4.660.606.600.

Sementara untuk Kota Lubuklinggau, untuk RSUD Siti Aisyah, RSUD Dr Sobirin dan RS AR Bunda tahun 2016 jumlah kasus gagal ginjal yang membutuhkan cuci darah= 3.501 orang, dengan biaya Rp 3.061.698.700. Sementara tahun 2017, baru sampai Oktober 2017 meningkat jadi 3.534 kasus. Dengan total biaya yang dikeluarkan untuk cuci darah Rp 2.798.451.100.

Didampingi Pegawainya dr Syska, H Ichwansyah menjelaskan, pembayaran BPJS Kesehatan ke RS itu sistem paket.

“Untuk cuci darah atau Hemodialisa (HD) tarifnya seregional II dan kelas C semua sama. Sekitar Rp 700 ribuan. Jadi seandainya ada RS yang menetapkan real cost untuk HD itu Rp 900 ribu atau Rp 1 juta, silakan. Tetapi yang kami bayarkan semua sama sekitar Rp 793.300 per sekali kunjungan HD,” tutur bapak yang akrab dipanggil Iwan ini.

BPJS Kesehatan, kata Iwan, menanggung biaya pelayanan kesehatan termasuk Hemodialisa menggunakan tarif Indonesian Case Base Groups (INA CBGS). Dan pasien HD tidak boleh dikenakan iur biaya.

“ Tarif INA CBGS tidak ditetapkan oleh BPJS kesehatan, melainkan oleh Kementrian Kesehatan dan dibahas bersama dengan perwakilan RS,” jelasnya.

Mau berapa pun RS menetapkan tarif HD-nya pembayaran BPJS Kesehatan ke RS tetap berdasarkan tarif INA CBGS dan selisih biaya real cost dan tarif INA CBGS tidak diperkenankan untuk ditagihkan kepada peserta JKN/BPJS.

Rerata setiap RS di Kota Lubuklinggau, pasien HD membludak. Hal itu diakui Direktur RS Siti Aisyah Kota Lubuklinggau, dr H Mast Idris Usman, E melalui Kabid Perencanaan, Fitri.

Kemarin ia menjelaskan pelayanan HD di RS Siti Aisyah dilakukan sejak 1,5 tahun yang lalu, tepatnya pada pertengahan tahun 2016.

“Dan sampai saat ini, kita sudah cukup banyak melayani pasien. Kebanyakan pasien yang ke hemodialisa, mereka yang sudah gagal ginjal kronis. Ginjal mereka hanya 60% lagi bisa berfungsi. Rata-rata pasien kita warga Kota Lubuklinggau, hanya ada beberapa warga Kabupaten Musi Rawas dan Muratara,” ungkap Fitri.

Saat ini di pelayanan hemodialisa mereka sudah memiliki 10 mesin pencuci darah. Empat merupakan mesin milik RS Siti Aisyah sendiri, sementara enam lainnya bekerja sama dengan pihak ketiga.

“Ada satu dokter umum, dan delapan perawat di sana. Setiap harinya kita buat dua shif, yakni pagi dan sore. masing-masing shif, didampingi empat perawat,” jelasnya.

Untuk biaya pasien umum, ia mengungkapkan sebesar Rp 930.000 untuk satu kali cuci darah.

“Sementara untuk pasien BPJS, mereka ditanggung pemerintah. Hanya saja kendalanya selama ini, memang BPJS hanya mengklaim biaya cuci darah Rp 793.300. Sementara real cost kita hampir Rp 900.000. Artinya, sisa yang diklaim BPJS ditanggung pihak RS Siti Aisyah. Kendala ini sudah kita sampaikan, ke pihak BPJS. Sementara untuk kendala lainnya belum ada,” ungkapnya.

Sementara Kepala Ruangan HD, Ayub Sayuti mengatakan, saat ini lebih kurang 35 pasien HD cuci darah. Setiap kali cuci darah, ada sembilan pasien. Seorang pasien, biasanya memerlukan waktu 4 – 5 jam.

“Oleh karena itu kami mulai buka pelayanan dari pukul 07.00 WIB – pukul 18.00 WIB,” jelasnya.

Hal sama juga terjadi di RSUD DR Sobirin. Direktur RSUD Dr Sobirin, dr H Nawawi Akip, kemarin mengatakan 114 pasien yang rutin cuci darah di unit HD RS tersebut. Ada 10 mesin HD yang selalu siap melayani pasien.

“Karena penyakit gagal ginjal itu lantaran penyakit terakhir dari penyakit yang diderita pasien sebelumnya,” kata dia.

Seorang pasien gagal ginjal Yono (50) mengaku tak menyangka harus melewati masa – masa hidup yang sulit.

“Awalnya saya kencing manis. Lalu sampai gagal ginjal. Awalnya saya tidak tahu kalau sakit gagal ginjal. Tapi sejak anak rutin ngajak saya cuci darah baru saya paham tentang sakit saya,” jelas warga Kelurahan Lubuk Aman, Kecamatan Lubuklinggau Barat II itu.

Sejak dua tahun lalu, dia sudah mengikuti program cuci darah. Tepatnya dua minggu sekali, Senin dan Kamis.

“Setiap Senin dan Kamis itulah saya habiskan waktu empat jam lebih untuk cuci darah. Sekalipun ditanggung BPJS semua biayanya, saya berdoa anak-anak saya tidak seperti saya. Cukup saya saja,” harapnya.

Yono menyadari tidak murah untuk menjalani program cuci darah.

“Kata anak saya sampai Rp 600 ribuan sekali cuci. Bayangkan kalau saya bayar sendiri. Untung sudah pakai BPJS Kesehatan. Jadi saya terselamatkan,” terangnya. (16/05/09)

Komentar

Rekomendasi Berita