oleh

Biaya Cuci Darah Mencapai Rp 6,2 Miliar

LUBUKLINGGAU – Penyakit ginjal menempati urutan kedua yang paling banyak menyedot dana BPJS Kesehatan Cabang Kota Lubuklinggau setelah operasi ceesar.

Data BPJS Kesehatan tahun 2018 menunjukkan, klaim untuk penyakit ginjal yang dirujuk ke rumah sakit di Kota Lubuklinggau mencapai Rp6,2 miliar.

Kabar ini dijelaskan Kepala BPJS Kesehatan Cabang Lubuklinggau, Eka Susilamijaya melalui Kabid Penjaminan Manfaat Rujukan (PMR), dr Syska Mayasari di kantornya, Senin (21/1).

Ia menerangkan, untuk kasus Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL) biaya tertingginya pertama untuk layanan untuk pasien kronis komplikasi dan kondisi belum stabil. Biaya untuk pengobatan pasien ini sampai Rp11,5 miliar. Kedua barulah, hemodialisa (cuci darah) yang diakibatkan gagal ginjal, dengan total biaya Rp6,2 miliar.

Menurut Syska, angka tersebut tak jauh berbeda dengan yang terjadi tahun 2017. Sementara untuk kasus rawat inap tingkat lanjut di sejumlah rumah sakit Kota Lubuklinggau, biaya BPJS Kesehatan banyak tersedot untuk operasi caesar mencapai Rp 6,6 miliar. Posisi kedua disusul biaya untuk Tipoid (tyfus), ada 2.087 pasien dengan biaya yang ditanggung BPJS mencapai Rp5,6 miliar.

“Pasien penyakit ginjal kronis atau gagal ginjal sebagian besar harus cuci darah. Cuci darah memang memakan biaya yang tak sedikit karena harus rutin dilakukan setiap minggu oleh pasien gagal ginjal,” jelasnya.

Dalam seminggu, pasien bisa menjalani 2-3 kali cuci darah selama masing-masing 4-5 jam.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr Akhmar Kurniadi, Sp.PD menambahkan satu pasien dalam sebulan itu sekitar 8 kali hadir (untuk cuci darah).

Biaya sekali cuci darah sekitar Rp750 ribu-Rp1 juta. Bahkan untuk di rumah sakit swasta bisa lebih dari Rp1 juta. Tak hanya sekali dua kali, cuci darah harus dijalani pasien gagal ginjal seumur hidupnya. Terkecuali jika pasien mendapat donor ginjal.

Oleh karena itu, dr Ahmar mengajak masyarakat agar lebih peduli dengan kesehatan ginjalnya. Mulai dari pola makan sehat, olahraga rutin, cukup minum air putih, kendalikan gula darah dan tekanan darah, serta rajin cek kesehatan ginjal.

Terpisah Direktur Rumah Sakit Dr Sobirin, dr RHM Nawawi Akip melalui Kabid Perencanaan dan Rekam Medis Sumiati, Skm, Mkes mengatakan pasien dengan pembiayaan BPJS Kesehatan tertinggi selama 2018 untuk rawat inap didominasi penderita Tipoid sebanyak 469 orang.

Disusul Sydrom Dispepsia 410 orang, Diare dan Dehidrasi 395 orang, Demam Berdarah 241 orang dan Anemia 213 orang.

Sedangkan untuk pasien rawat jalan yang paling banyak menyedot biaya BPJS Kesehatan adalah penderita gagal ginjal yang cuci darah 3.714 orang. Disusul oleh penderita kencing manis 2.051 orang, hipertensi 1.595, kelainan refraksi 1.054 orang, dan hypertensi emergency 698 orang.(adi/lik)

Rekomendasi Berita