oleh

Beruntung Masih ‘Mengenyam’ Pendidikan

Sekolah, rumah kedua bagi para pelajar. Di sekolah inilah, seorang anak diberikan ilmu yang bermanfaat. Sudah pasti semua pelajar senang bersekolah kan? Tapi, pernah terbayang nggak ada yang nggak bisa nikmati rasanya duduk di bangku sekolah?

“Pernah sesekali terbayang, ngeliat berita banyak yang tidak bisa sekolah karena banyak faktor penghambat. Sangat miris sekali lihatnya,” ungkap Dika, siswa SMA Negeri 3 Lubuklinggau.

Dari hasil survei, ada 2.655 anak yang putus sekolah di wilayah Musi Rawas, Lubuklinggau dan Musi Rawas Utara (Muratara). Wah, sangat-sangat disayangkan sekali. Kita yang bersekolah, malah ada yang menyia-nyiakan sekolahnya.

Ada salah satu anak yang putus sekolah di wilayah Sukajadi, yang mana hanya tamatan SMP, berinisial EJ.

“Putus sekolah, karno capek. Semenjak ayah meninggal, saat itu biaya sekolah dak pernah minta ke ibu lagi. Jadi nyari duit untuk dana sekolah sendiri, dan juga ditambah pulo pergaulan bebas,” ungkapnya.

Ketika putus sekolah ada dua kemungkinan, kita mencari pekerjaan atau hanya pengangguran.

“Masalah gawe itu serabutan, segalo gawe asalkan dapat duit,” tambah EJ yang mana ketika masa SMP adalah atlet Takraw dan juga pernah menjuarai lomba Takraw.

Yaa Smarters, banyak sekali faktor pendukung seseorang untuk putus sekolah. Seperti pergaulan, ekonomi, kondisi psikologis, dan lainnya. Pergaulan misalnya, carilah teman-teman yang memang memotivasi kita untuk maju. Berteman itu kita boleh memilih loh guys, mana yang baik untuk kita mana yang nggak.

Ekonomi, memang sulit untuk dipungkiri. Tapi, kita harus tetap semangat bersungguh-sungguh dan berdoa, pasti ada aja jalan untuk kita bisa mendapatkan ilmu di sekolah, yakinlah.

Smarters yang masih bisa berkesempatan untuk mengenyam bangku pendidikan, jangan sia-siakan kesempatan itu. Bersekolahlah dengan baik dan benar. Belajarlah, dan buktikan kalau kita bukan orang salah yang mendapatkan ilmu di bangku sekolah.

Bagaimana melihat anak yang putus sekolah?

“Beragam, ado yang senang-senang bae. Ado yang nyesel, tapi kebanyakan nyesel karno kawan-kawan sebaya sekolah galo. Ado yang terbebani dengan masa depan jugo. Dan akhirnyo ke pergaulan bebas.” tutup EJ.

Bagaimana dengan pandangan orang yang bersekolah?

“Sangat miris, sedih sekali rasanya. Seharusnya mereka juga bisa dapat pendidikan seperti kita. Tapi memang faktor-faktor pendukung itu sangat banyak sekali,” tambah Dika.

Yuk, banyak-banyak bersyukur kita yang masih kesempatan sekolah. Gunain waktunya di bangku sekolah sebaik mungkin. Carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Semangat Smarters!(s3)

Komentar

Rekomendasi Berita