oleh

Berjuang Lawan Kanker Mulut

Hendrawan Butuh Bantuan
Hendrawan (28) butuh bantuan kita semua. Warga Jalan Nangka RT 04 Kelurahan Megang, Kecamatan Lubuklinggau Utara II ini sedang terbaring lemah akibat kanker mulut yang menggerogotinya.

Laporan Daulat, Megang

PEJUANG kanker Hendrawan nyaris tak bisa istirahat. Siang maupun malam, ia menahan sakit akibat penyakit kanker yang bersarang di mulutnya.

Putra ke tiga pasangan Alm Acoy (55) dengan Suliyah (55) ini hanya bisa meringis kesakitan. Ia tak lagi bisa mengucap apapun.

Namun Hendrawan masih begitu ingin sehat. Ia didampingi Sang Ibu, Suliya terus berjuang untuk melawan kanker yang diderita. Ragam pengobatan ditempuh. Namun, kondisi ekonomi membuatnya jadi lemah. Biaya untuk perjalanan berobat ke Palembang sudah tak ada.

Saat dijumpai Linggau Pos kemarin malam, Hendrawan terbaring lemah. Tubuhnya sangat kurus. Sesekali ia mencoba bersuara. Namun tetap tak jelas.

Bahkan, penglihatannya pun mulai rabun, bahkan untuk sekedar ke kamar mandi ia harus dipapah ibunya.

Suliya menjelaskan Hendrawan mulai sakit Agustus 2017. Dimulai dengan sakit gigi. Kemudian kakaknya Leli (30) mengajaknya berobat ke dokter tapi tidak sembuh.

Karena terbatas dari sisi ekonomi dan tidak mau menyusahkan keluarga, Hendrawan saat itu tetap memilih bekerja sebagai buruh sawit di wilayah Kecamatan Karang Anyar Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).

Saat itu, karena dagunya semakin membengkak, Januari 2018 dia pulang dari kebun sawit. Meminta temani berobat ke Rumah Sakit Dr Sobirin. Dan pihak RS Dr Sobirin merujuknya ke Palembang.

Setelah berobat ke Palembang, di RS Siti Khadijah dan tiga bulan menjalani rawat jalan akhirnya pihak rumah sakit mengatakan bahwa Hendrawan terkena tumor jinak.

Pihak dokter rumah sakit pun langsung memintanya untuk dilakukan operasi. Namun dikarenakan malu dan mau ganti rahang, Hendrawan menolak dan memilih diobati dengan obat-obatan herbal.

Pengobatan herbal yang dipakai Hendrawan tidak memberikan perubahan. Bahkan bengkak di bagian dagunya terus menjalar dan mulutnya terus bertambah besar.

Akhirnya Februari 2018, Leli membawa Hendrawan ke RS Muhammad Hoesin Palembang (RSMH), pihaknya RS langsung melakukan pemeriksaan. Setelah diperiksa menjadwalkan untuk melakukan Biopsi terlebih dahulu, akhirnya mereka pulang menunggu panggilan Biopsi.

Hingga saat ini, ia masih rutin membawah anaknya berobat ke Palembang selama tiga minggu sekali. Sementara penyakitnya yang diderita anaknya terus bertambah parah.

“Bengkak di wajahnya makin membesar, semula masih bisa makan tapi sekarang tidak bisa lagi. Hanya minum susu pakai pipet saja yang bisanya,” kata Suliyah.

Saat ini Suliyah sudah pasrah, di tengah himpitan ekonomi janda anak empat itu sudah kebingungan mau mencari bantuan.

Sebab untuk mengantar anaknya ke Palembang saja ia mengaku sudah tidak punya biaya.

“Sampai saat ini belum ada bantuan dari pihak terkait, kalau dari Puskesmas ada yang datang. Tetapi hanya menawarkan untuk berobat saja,” ucap Suliyah.

Jadi, saat ini untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya hanya mengandalkan Leli yang menjadi tulang punggung keluarga.

Terkadang ia sedih saat mengantarkan anaknya itu berobat ke Palembang, karena banyak mengatakan anaknya itu bau dan mukanya bengkak.

“Sering orang menghina anak saya, mau gimana lagi. Hanya menahan saja dan pasrah dengan Allah SWT,” terang wanita empat anak ini sambil meneteskan air mata. (*)

Rekomendasi Berita