oleh

Berjualan Dari Sore Hingga Malam Hari

Joko Penjual Gorengan Raup Untung Rp 200 Ribu

Status masih ‘bujangan’, tidak membuat Joko Pramono (26) malu untuk melakukan pekerjaannya saat ini yaitu, sebagai penjual gorengan. Terbukti setiap hari, ia semangat untuk mencari rezeki dengan berjualan gorengan. Bagaimana kisahnya ?

Laporan Daulat, Majapahit

Kebanyakan pemuda terutama yang masih bujangan, sedikit sungkan untuk berjualan. Namun tidak bagi Joko, penjual gorengan di Jalan Yos Sudarso Kelurahan Majapahit, Kecamatan Lubuklinggau Timur I. Setiap sore, ia mulai menggoreng berbagai jenis gorengan, untuk dijual ke pelanggan-pelanggan setianya.

Ditemui disela-sela kesibukannya menggoreng, Joko menceritakan kalau dirinya sudah hampir satu tahun ini menjadi penjual gorengan. Bisnisnya ini berawal, dari saat ia diajak oleh kakak sepupunya.

“Sebelumnya saya bekerja di perusahaan swasta. Namun diajak oleh kakak sepupu untuk ikut dia. Setelah melihat dan ikut menjalankan bisnisnya, akhirnya saya tertarik untuk buka sendiri. Dengan modal sendiri, akhirnya saya mulai berjualan dan saat ini modal yang saya keluarkan awal sudah kembali,” ungkap Joko, Minggu (3/12).

Setiap harinya ia menceritakan, usai Salat Ashar ia mulai berkemas dari kediamannya di Kelurahan Marga Mulya, Kecamatan Lubuklinggau Timur I menuju tempat berdagang di depan KPU Jalan Yos Sudarso Kelurahan Majapahit, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, di tempat itu ia berdagang dari pukul 16.00 sampai pukul 22.00 WIB.

“Saya berjualan hanya menggunakan gerobak dan beratapkan tenda terpal seorang diri,” ungkapnya kembali.

Setiap hari, Joko mengaku harus menyediakan modal lebih kurang Rp 100 ribu. Modal tersebut dibelikan bahan baku gorengan, seperti tahu, tempe, pisang, tepung dan bahan lainnya.

“Gorengan yang saja jual harganya terjangkau, hanya dengan Rp 2.000 bisa mendapatkan tiga gorengan saya,” jelasnya.

Joko sendiri anak pertama dari tiga saudara. Meskipun bujangan, ia belajar mandiri dengan mencari uang. Setiap hari, ia habiskan waktunya untuk mencari uang.

“Kalau dagangan habis, saya mendapatkan uang Rp 300 ribu hingga Rp 350 ribu. Otomatis, modal harian sudah kembali, dan mendapat untung bersih sekitar Rp 200 ribu. Sisanya ya dibuat beli bensin, dan kebutuhan lainnya,” bebernya.

Dari pantauan Linggau Pos, lapak yang buka mulai dari pukul 16.00 WIB hingga 22.00 WIB tersebut selalu diserbu pengunjung. Terutama para pemuda yang berkeinginan untuk membeli makan sore dan malam hari.

”Biasanya ya para pemuda sekitar Lubuklinggau ini, para pejalan yang akan melakukan perjalanan, ataupun anak kos kosan,” paparnya.

Ia menilai, usaha ini memang tidak sulit untuk dilakukan oleh siapa saja. Terlebih bagi mereka yang mempunyai usaha tetap.

“Kalau mereka yang sudah punya pekerjaan sehari hari juga bisa. Yakni pada malam hari mereka menggelar dagangannya,” tutupnya. (*)

Komentar

Rekomendasi Berita