oleh

Berita Hoaks Biang Perpecahan

LINGGAU POS ONLINE, DEMPO – ‘Cuma negara kami (Indonesia,red) yang masih kokoh meski dengan keanekaragaman agama. Sementara negeri lain, tidak sedikit yang timbul perpecahan di dalamnya’

Kalimat itu menjadi prolog Kapolres Lubuklinggau, AKBP Sunandar ketika memaparkan materi dalam pertemuan ‘Antisipasi Penyebaran Hoaks’ di Op Room Dayang Torek, Rabu (14/3).

Ia mengenang kalimat yang dituturkan Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) saat berbincang dengan Presiden Palestina.

Mengacu dari silaturahmi dua kepala negara ini, Kapolres mengingatkan akan pentingnya merawat Kebhinekaan.

“Merawat Kebhinekaan itu penting. Dan ini tidaklah mudah, manakala elemen, ingin bekerja sama merawat Bhinneka Tunggal Ika apalagi saat ini fenomena perkembangan zaman dan teknologi,” kata Sunandar, Rabu (14/3).

Kapolres menjelaskan, salah satu penyebab perpecahan yakni berita bohong, berita yang belum tentu kebenarannya yang saat ini sering disebut dengan istilah hoaks. Sebenarnya muncul hoaks pada tahun 2006 bermula dari munculmya film yang berjudul The Hoaks.

“Film ini menceritakan, skenario berbeda dari judul dan isi dari bukunya, yakni ada yang dipalsukan dan dikurangi dalam film tersebut. Maka sejak itulah muncul kata hoaks dari para netizen hingga sampai saat ini,” jelas Sunandar.

Lebih lanjut, Kapolres menjelaskan, sebenarnya adanya berita hoaks tidak lain bertujuan untuk mengakali pembaca, pendengar agar percaya dengan berita tersebut. Padahal berita itu belum tentu benar yakni palsu (bohong) namun seolah-olah memang benar terjadi.

“Informasi hoaks ini memunculkan opini publik, membentuk persepsi hingga akhirnya menimbulkan dampak negatif bagi orang lain,” jelasnya.

Hoaks cepat muncul dan berkembang di Indonesia tentunya melalui teknologi informasi. Terutama melalui internet. Apalagi hampir setiap orang mempunyai handphone dengan aplikasi Android.

“Sehingga dengan mudah berita hoaks masuk dan dibaca oleh para pembaca khususnya yang mempunyai handphone yang mempunyai aplikasi Android. Di tambah lagi, menurut pengamatan minat baca masyarakat Indonesia kecil maka informasi berita itu disampaikan melalui Android tanpa melakukan kroscek kebenaran,” ucapnya.

Kapolres mengimbau, masyarakat harus jeli dan pintar setidaknya bisa melakukan pengecekan mengenai berita apakah memang benar ataupun nyata atau hoaks.

Adapun cara-cara melakukan pengecekan diantaranya, berita harus dikroscek dulu apakah sudah muncul di media televisi, ataupun media lainnya.

“Lalu, mengecek situs web munculnya berita tersebut, mengecek foto dari berita yakni keaslian foto serta judul dari beritanya. Serta melakukan pengecekan sumber dari penulisan apakah benar sumber tersebut memberikan argumen ataupun komentar,” papar pria berpangkat melati dua ini.

Maka dari itu sebagai aparat penegak hukum, timnya akan menindak para pelaku penyebar berita hoaks sesuai dengan Pasal KUHP UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE dan UU No. 40 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Sesuai dengan Pasal 28 ayat (2) tersebut diatur dalam Pasal 45 ayat (2) berbunyi: “Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) atau ayat(2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 tahun atau denda paling banyak 1 miliar rupiah.”

“Maka dengan landasan hukum melalui UU dan pasal itulah, melakukan tindakan kepada penyebar berita hoaks,” tegas kapolres.

Kapolres menambahkan, salah satu contoh berita hoaks yang pernah viral diantaranya berita Ustad Uje meninggal dan muncul awan berdoa, penarikan uang secara besar-besaran, penampakan awan berbentuk naga di Ciawi.

Kemudian baru-baru ini, 15 juta PKI hidup kembali, masuknya tenaga kerja Cina serta orang gila menghancurkan tempat ibadah (agama).

“Itu semua berita hoaks,” tegasnya.

Maka dari itu, ia meminta masyarakat harus pintar.

“Saya pernah berkata kepada kawan media, kalau dulu mulutmu harimaumu, tapi sekarang jarimu jeruji besimu,” tutup mantan Kapolres Bangka Belitung ini. (03)

Rekomendasi Berita