oleh

Beri Uang ke Pengemis, Siap-siap Terancam Sanksi

LINGGAU POS ONLINE, LUBUKLINGGAU – Tepat di Simpang RCA, terpampang jelas spanduk larangan memberikan uang kepada pengemis.

‘Dilarang memberikan uang atau barang kepada pengemis dan gelandangan. Jika melihat gelandangan dan pengemis, silakan melapor melalui media aplikasi call center ke 083180326693.’ Pengaduan itu dilayani via SMS, Line maupun Whatsapp’.

Dan faktanya, masih banyak pengemis di lokasi tersebut. Bahkan, pengendara kerap kali memberikan kepada para pengemis sejumlah uang.

Memang belum lama ini dikuatkan dengan Peraturan Daerah (Perda) tentang Pembinaan Anak Jalanan (Anjal), Gelandangan dan Pengemis (Gepeng). Perda ini diharapkan mampu menjadi solusi atas keluhan masyarakat selama ini.

Hal itu disampaikan Ketua Komisi I DPRD Kota Lubuklinggau, Zuibar M Alif , Sabtu (4/11).

Pihaknya belum mengetahui, apakah Perda yang sudah disahkan ini sudah selesai dievaluasi atau belum.

“Belum mendapat informasi lagi, mudah-mudahan secepatnya dievaluasi. Supaya bisa segera disosialisasikan dan diterapkan,” ungkapnya lagi.

Hal sama disampaikan anggota DPRD Kota Lubuklinggau, Merizal. Ia menerangkan, dalam Perda yang saat ini masih dilakukan evaluasi di Pemerintah Provinsi (Pemprov), diatur mengenai sanksi baik untuk yang menerima seperti Anjal dan pengemis, maupun masyarakat yang memberi.

“Di dalam Perda diatur, sanksi dikenakan untuk yang menerima maupun yang memberi. Bisa dikenakan sanksi denda Rp 50 juta atau kurungan penjara tiga bulan. kita berharap, adanya aturan ini bisa mengurangi Anjal dan pengemis yang sangat sering dikeluhkan masyarakat,” tegasnya.

Begitu pun dengan pengawasan dari Sat Pol PP, selaku OPD yang memiliki kewenangan menegakan Perda.

“Ya harus betul-betul diawasi, dan ditegakan sesuai yang diatur di Perda. Pemerintah juga harus mulai menyosialisasikan ke masyarakat, minimal memasang plang-plang pemberitahuan. Agar masyarakat sejak awal sudah mengetahui, kalau dalam hal penanganan Anjal dan pengemis, pemerintah sudah memiliki Perda khusus,” jelasnya kembali.

Dengan adanya Perda ini, ia optimis Lubuklinggau bisa terbebas dari Anjal dan Pengemis. Mereka tidak sekedar didata dan dirazia, namun betul-betul dibina sehingga mereka tidak kembali mengemis.

“Mengenai anggaran, kita juga sudah mengingatkan eksekutif agar dianggarkan untuk pembinaan Anjal. Mudah-mudahan setelah dievaluasi, sesuai aturan setahun setelah disahkan tahap sosialisasi, maka Perda bisa diterapkan,” ungkapnya.

Sementara itu Kasat Pol PP, Elbaroma melalui Kabid Ops Agum saat dimintai tanggapan menegaskan kalau pihaknya kedepan akan lebih meningkatkan melakukan penertiban.

Hal ini sebagai upaya mereka nantinya, dalam menegakan Perda tentang pengendalian dan pembinaan Anjal, pengemis dan gelandangan.

“Selain tingkatkan penertiban, kita melalui Kabid Ketertiban Umum (Tibum) juga sudah mulai melakukan sosialisasi. Salah satunya, dengan memasang papan pemberitahuan bahwa kedepan kita sudah ada Perda. Yang isinya, melarang masyarakat untuk memberikan uang kepada Anjal. Akan ada sanksi, baik yang menerima maupun yang memberi,” jelasnya.

Ketika Perda sudah diterapkan, dan masih ada yang melanggar. Maka yang melanggar, akan ditindaklanjuti oleh Bidang Penegakan Perda.

“Di papan pemberitahuan, juga sudah kita informasikan kontak person. Ketika ada yang melihat ada warga yang melanggar ketentuan Perda tersebut, bisa segera dilaporkan ke kontak tersebut,” tambahnya.

Sosialisasi dilakukan sejak dini, sengaja agar ketika Perda diterapkan masyarakat sudah mengetahui.

“Kita berharap tidak hanya Sat Pol PP, namun instansi lain seperti Dinsos juga turut gencar menyosialisasikan Perda ini,” tambahnya lagi.

Mengenai Perda tadi, tidak sedikit masyarakat yang justru tak menghiraukan.

Mirna misalnya. Pengendara yang kebetulan memberi sedekah kepada salah seorang pengemis di traffict light Simpang RCA itu beralasan, sedekah tidak harus memilih dan ditentukan oleh pemerintah.

“Memang kalau untuk sedekah dengan pengemis saya tidak setuju, menurut saya tidak semua pengemis yang berada di pinggiran jalan memang semata-mata berbohong. Tapi mereka juga ingin makan,” jelas Mirna, kemarin.

Selaku pengendara, ketika melihat pengemis yang berkeliaran dengan keadaan meminta-minta, Mirna mengaku tidak tega.

Ia berharap, pemerintah bisa mencari solusi yang lebih arif agar pengemis tidak lagi ada di Simpang RCA dan lainnya.

Sementara itu, Desi seorang pengemis di Simpang RCA mengatakan setiap hari ia meminta-minta. Sekalipun di jalan, Desi mengaku tidak takut. Sebab mengemis sudah dilakoninya sejak kecil.

“Per hari kadang-kadang dapat Rp 30 ribu kadang lebih itu pun tidak setiap hari, saya sudah terbiasa dengan mengemis jadi tidak sekolah, lebih baik jadi pengemis dapat uang,” tutupnya. (09/19)

Komentar

Rekomendasi Berita