oleh

Berharap Jasa Penggali Kubur Naik

Kisah Poniman Penggali Kubur

Tidak sembarangan orang ingin bekerja menjadi penggali kubur. Namun itulah yang dilakukan Poniman (60) warga Kelurahan Karya Bakti, Kecamatan Lubuklinggau Timur II. Sejak kapan ia menjadi penggali kubur?

Laporan Joko Pratama, Karya Bakti

Poniman mengatakan bahwa dirinya mempunyai pekerjaan sebagai penggali kuburan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kelurahan Karya bakti.

“Aku sekitar 16 tahun bekerja sebagai penggali kuburan, dalam melakukan penggalian kuburan aku ditemani oleh teman saya Aci, ” kata Poniman, Jumat (24/11).

Poniman menjelaskan, sebelum menjadi seorang penggali kuburan dirinya bekerja sebagai penarik becak di Pasar Inpres selama 20 tahun, saat itu dirinya masih beralamat di Kelurahan Dempo.

“Setelah pindah dari Kelurahan Dempo ke Kelurahan Karya Bakti. Dirinya berlamat di Gank Macan, RT 03, Nomor 05, Kelurahan Karya Bakti. Saya tinggal bersama istri, Payem (50) beserta anak, Anthony (38) serta menantu saya, Apriyanti (30) dan kedua cucu saya Roni Pratama (10) dan Rehan Saputra (4),” jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, selama menjadi penggali kuburan, dirinya mendapatkan bayaran Rp 50.000 per orang. Biasanya paling banyak selama sebulan lima orang yang meninggal namun kadang kala juga tidak ada.

Dengan mendapatkan bayaran segitu untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari tidaklah cukup, untung saja saya di bantu oleh anaknya yang bekerja sebagai kuli di pasar

“Jadi saya berharap semoga saja bayaran jasa sebagai penggali kuburan bisa ditambah, karena kebutuhan semakin lama semakin banyak,” tutupnya.(*)

Komentar

Rekomendasi Berita